Cerita Pedagang di Malang soal Harga Ayam Naik saat MBG: Penjualan Ikut Turun
Reporter
Riski Wijaya
Editor
Yunan Helmy
13 - Aug - 2026, 07:34
JATIMTIMES - Kenaikan harga daging ayam kembali menekan pedagang di Kota Malang. Di tengah kebutuhan masyarakat yang tetap berjalan, harga ayam justru bergerak naik hingga menyentuh Rp40 ribu per kilogram.
Kondisi itu dirasakan langsung Siti Zubaidah, salah seorang pedagang daging ayam. Ia menyebut kenaikan harga terjadi sejak Selasa (11/8), setelah sebelumnya harga sempat berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram.
Baca Juga : Sespimmen Polri Teliti Potensi UMKM Lele di Kabupaten Kediri, Fokus Harga Pakan hingga Pemasaran
Menariknya, menurut Siti, pergerakan harga ayam turut terlihat berbeda ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) berlangsung dan saat program tersebut libur.
“Kalau MBG libur, itu turun. Kemarin waktu MBG libur, sampai Rp30 ribu,” ujar Siti, Kamis (13/7/2026).
Namun, ketika program MBG kembali berjalan, harga ayam disebut kembali menanjak. Dari Rp31 ribu, harga terus bergerak menjadi Rp32 ribu hingga akhirnya mencapai Rp40 ribu per kilogram.
“MBG masuk, langsung naik terus. Rp31 ribu, Rp32 ribu, sampai sekarang Rp40 ribu,” katanya.
Harga Rp40 ribu per kilogram kini menjadi harga tertinggi yang dirasakan Siti selama berjualan. Ia mendapatkan pasokan ayam langsung dari peternak yang berada di wilayah Malang.
Kenaikan harga tersebut tidak serta-merta bisa diteruskan kepada konsumen. Sebab, pedagang juga harus menghadapi konsekuensi lain berupa menurunnya daya beli masyarakat.
Siti mengaku pembeli mulai lebih berhitung sebelum membeli ayam. Konsumen yang benar-benar membutuhkan tetap membeli, tetapi mereka yang tidak terlalu membutuhkan cenderung memilih menunda.
“Pembelinya agak menurun. Orang kan mikir-mikir. Kalau yang butuh ya dibeli meskipun Rp40 ribu. Tapi kalau enggak butuh, ya masih mikir,” ucapnya.
Baca Juga : Stok Disebut Aman tapi Harga Beras di Kota Malang Naik Rp 5 ribu, Ini Sebabnya
Dampaknya terlihat dari jumlah pembelian. Jika sebelumnya masyarakat bisa membeli dalam jumlah lebih banyak, kini pembelian umumnya hanya sekitar setengah kilogram hingga satu kilogram.
Di sisi lain, Siti tetap harus mengambil pasokan dalam jumlah cukup besar untuk mempertahankan aktivitas dagangnya. Dalam sekali pengambilan, ia bisa membawa sekitar 40 kilogram ayam. “Kadang habis, kadang enggak,” ujarnya.
Kondisi ini menempatkan pedagang pada posisi serba sulit. Harga dari peternak meningkat, sementara kemampuan konsumen menyerap kenaikan tersebut justru terbatas.
Siti pun tidak serta-merta menyalahkan keberadaan program MBG. Kesaksiannya lebih menunjukkan adanya perubahan harga yang ia rasakan ketika permintaan ayam berubah. Sementara dirinya sebagai pedagang harus menanggung dampak langsung dari pergerakan harga tersebut.
Di tengah program MBG yang membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar, perubahan harga di tingkat pedagang menjadi persoalan yang ikut perlu diperhatikan. Sebab, ketika harga naik, tekanan tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga pedagang kecil yang berhadapan langsung dengan risiko barang tidak terserap.
