Kebijakan Libur Sekolah Pemkot Surabaya Dinilai Kembalikan Peran Utama Keluarga
Reporter
M. Bahrul Marzuki
Editor
Nurlayla Ratri
23 - Jun - 2026, 01:28
JATIMTIMES - Langkah Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya dalam memanfaatkan momentum libur sekolah menuai apresiasi dari praktisi dan tokoh pendidikan Jawa Timur. Kebijakan yang mengajak orang tua mengambil peran lebih aktif mendampingi anak selama liburan dinilai bukan sekadar imbauan administratif, melainkan sebuah gerakan moral untuk mengembalikan fungsi keluarga sebagai pusat pendidikan karakter.
Apresiasi tersebut disampaikan oleh Isa Ansori, Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) sekaligus Wakil Ketua ICMI Jawa Timur Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup. Menurutnya, Pemkot Surabaya jeli melihat celah yang sering terlupakan dalam dunia pendidikan.
Baca Juga : Heboh Karyawan RSI Unisma Keluhkan Gaji Telat Bayar hingga Dipotong
“Ketika sekolah libur, banyak orang menganggap proses pendidikan ikut berhenti. Padahal sejatinya, pendidikan yang paling menentukan justru berlangsung ketika anak kembali ke rumah, kembali ke pelukan orang tua, dan belajar dari kehidupan sehari-hari," ujar Isa Ansori, Selasa (23/6/2026).
Di tengah bisingnya era digital di mana anak-anak rentan mengalami krisis kedekatan, kehadiran orang tua secara utuh menjadi sangat krusial. Libur sekolah dinilai menjadi momentum emas bagi Pemkot Surabaya untuk mendorong perbaikan relasi keluarga yang mungkin sempat renggang akibat kesibukan kerja.
Isa menambahkan, esensi liburan bukanlah kemewahan materi atau berwisata ke tempat yang mahal, melainkan kehadiran orang tua itu sendiri.
“Cara untuk menjalin kedekatan dengan anak sangat beragam, bisa mengajak anak mengunjungi kakek-nenek atau berziarah ke makam leluhur untuk memahami sejarah keluarga, memasak bersama atau membersihkan halaman rumah untuk memupuk tanggung jawab, serta mengajaknya duduk bersama dan mendengarkan cerita anak tanpa distraksi notifikasi gawai,” terangnya.
Kebijakan Dispendik ini dinilai sejalan dengan napas gerakan membasuh kaki orang tua yang sempat digagas Pemkot Surabaya beberapa waktu lalu. Gerakan yang awalnya dipandang sebagian pihak sebagai seremonial, rupanya menyimpan pesan ideologis yang mendalam tentang kerendahan hati dan rasa hormat.
Baca Juga : Fiskal APBD Terjepit Aturan Belanja Pegawai 2027, Pemkot Batu Dukung Gaji P3K Dibiayai Langsung oleh APBN
Melalui pendekatan yang konsisten ini, Pemkot Surabaya dinilai berhasil mengingatkan kembali bahwa orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak.
Komitmen Pemkot Surabaya dalam mengawal pendidikan berbasis keluarga ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik di ruang kelas, tetapi dari fondasi karakter yang dibangun di ruang tamu dan meja makan.
"Pendidikan karakter tidak lahir dari slogan, ia lahir dari keteladanan. Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh sekolah yang hebat, tetapi juga oleh keluarga yang mampu menanamkan hormat, kasih sayang, dan kemanusiaan sejak dini," pungkasnya.
