Pameran Hulu Hilir Soroti Krisis Ekologis Kota Batu, 17 Karya Sentil Alih Fungsi Lahan hingga Masalah Sampah
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
23 - Jun - 2026, 10:16
JATIMTIMES – Eksistensi kekayaan ekologis di Kota Batu hari ini dinilai tengah berada di pusaran berbagai persoalan pelik. Mulai dari masifnya alih fungsi lahan, penyusutan ruang hijau terbuka, kerusakan ekosistem makro, hingga silang sengkarut tata kelola persoalan sampah yang terus mengemuka dan menjadi tantangan perkotaan yang belum usai.
Merespons situasi kritis tersebut, pameran seni lingkungan bertajuk "Hulu Hilir" resmi digelar di Gedung St. Simon Stock, Jalan Panglima Sudirman No. 82–80, Ngaglik, Kota Batu. Ruang kreatif yang menyajikan refleksi mendalam mengenai relasi manusia dengan alam ini dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya sejak 20 hingga 27 Juni 2026 mendatang.
Baca Juga : Sambut Wacana Diskon Tiket Pesawat, Disparta Batu Targetkan Lonjakan Turis Luar Pulau Jawa hingga Wisman
Gelaran seni ini terselenggara atas inisiasi dan kolaborasi taktis dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu dalam rangkaian gerakan Greenation “Garis Hijau”, yang sekaligus menjadi bagian penting dari peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026.

Salah satu pengkarya fotografi lingkungan yang terlibat, Rizki Dwi Putra, mengungkapkan bahwa pameran ini hadir sebagai ruang perjumpaan untuk merespons pelbagai kegelisahan lingkungan melalui bahasa visual dan artistik dari berbagai elemen masyarakat.
"Melalui karya fotografi, batik lukis, seni instalasi, serta berbagai karya inovasi, pameran ini menjadi ikhtiar bersama untuk merawat kesadaran ekologis melalui bahasa seni," ujar Rizki saat dikonfirmasi, Selasa (23/6/2026).
Rizki menguraikan bahwa "Hulu Hilir" tidak semata-mata hadir sebagai dokumentasi mati yang merekam kerusakan alam atau sekadar seruan klise tentang pelestarian. Lebih dari itu, pameran ini menjadi media yang mengajak pengunjung menengok dan mendengarkan kembali lanskap alam Kota Batu yang perlahan mulai pudar diterjang laju pembangunan.
"Setiap karya menjadi penanda bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tentang alam yang terluka, melainkan juga tentang relasi yang retak antara manusia dan tempat hidupnya," tambahnya.
Secara teknis, pameran ini menghadirkan sedikitnya 17 karya komprehensif dari berbagai disiplin ilmu seni. Rinciannya meliputi 7 karya fotografi cerita (story photography) yang merekam jejak perubahan lingkungan makro, dan 6 karya seni rupa hasil residensi yang merespons secara khusus kondisi Sumber Brantas sebagai salah satu mata air vital bagi keberlangsungan hidup di Kota Batu.

Selain itu, terdapat 2 karya inovasi lingkungan yang diinisiasi oleh pelajar dari SMP 1 dan SMP Muhammadiyah Kota Batu, serta 2 karya seni instalasi lingkungan berskala makro dari organisasi lingkungan Ecoton.
Lewat pameran ini, pengunjung diajak melihat bagaimana aliran sungai dari hulu ke hilir menjadi metafora perjalanan krisis ekologi yang kita hadapi hari ini. Bahwa menjaga alam bukanlah upaya merawat sesuatu yang berada di luar diri kita, melainkan cara menjaga hubungan yang kita berada di dalamnya.
Dikatakan Rizki, melalui pameran interaktif ini panitia bersama DLH Kota Batu berharap kesadaran ekologis kolektif masyarakat dapat tumbuh lebih kuat dan mengakar. Dengan begitu, langkah strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan ke depan tidak lagi dipandang sebagai beban regulasi yang kaku, melainkan kesadaran murni dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.
"Karena setiap yang tiba di hilir sesungguhnya bermula dari hulu," ucap Rizki.
