Eks Bos PLN Dahkan Iskan Sebut Masih Bisa Ekspor Besar-besaran Meski Pasokan Batu Bara ke PLN Seret

Reporter

Binti Nikmatur

22 - Jun - 2026, 02:41

Mantan Direktur Utama PLN sekaligus mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. (Foto: Penerbit Bukunesia)

JATIMTIMES - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di berbagai wilayah Pulau Jawa masih menjadi sorotan. Di tengah polemik tersebut, mantan Direktur Utama PLN sekaligus mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, menilai persoalan utama yang memicu gangguan pasokan listrik kemungkinan berasal dari tersendatnya pasokan batu bara untuk pembangkit listrik.

Dahlan mengaku mendapat banyak masukan dari pelaku sektor ketenagalistrikan. Dari informasi yang diterimanya, sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) disebut mengalami penurunan stok batu bara sehingga terpaksa mengurangi kapasitas produksi listrik.

Baca Juga : 50 Kontingen Berbagai Daerah Ikuti Ngarak Banteng Mpu Supo Songgoriti, Sedot Ribuan Wisatawan

"Sebetulnya, ini (masalah) lama soal pasokan batu bara ke pembangkit-pembangkit listrik. Kalau harga batu bara naik, dolar AS tinggi, seperti sekarang, para pengusaha batu bara kan semangatnya kirim ke luar negeri. Padahal, batu bara kan produk milik bangsa Indonesia," kata Dahlan Iskan, dikutip dari Instagram @suarasurabaya, Senin (22/6/2026).

Menurut Dahlan Iskan, persoalan pasokan batu bara sebenarnya bukan isu baru. Saat harga komoditas batu bara dunia meningkat dan nilai tukar dolar AS menguat, perusahaan tambang cenderung lebih tertarik menjual ke pasar ekspor karena dinilai lebih menguntungkan.

Akibatnya, pasokan untuk kebutuhan domestik, termasuk pembangkit listrik, disebut ikut terdampak.

Dahlan menjelaskan, ketika stok batu bara di pembangkit menipis sementara pasokan baru masih dalam perjalanan, operator pembangkit biasanya melakukan penghematan penggunaan bahan bakar.

Langkah itu dilakukan agar stok yang tersisa dapat bertahan hingga kapal pengangkut batu bara tiba di lokasi pembangkit.

"Tentu saya tidak ikut-ikut lagi (tidak menjabat sebagai pemangku kepentingan) ya, tetapi saya kan mendapat curhat dari banyak juga para pelaku kelistrikan. Terutama sudah lama sebetulnya bahwa masalah pasok batubara ke pembangkit-pembangkit listrik itu kan agak seret begitu," ujarnya.

Ia mencontohkan, apabila stok batu bara yang tersedia hanya cukup untuk satu minggu sementara pasokan berikutnya baru datang sekitar dua pekan kemudian, maka pembangkit akan mengurangi kapasitas operasional.

"Nah, sekarang ini pasokan untuk pembangkit-pembangkit listrik itu seret. Bahkan ada pembangkit listrik yang stok batubaranya itu tinggal 10 hari, tinggal 12 hari. Sementara stok pengiriman batubara itu kan dari Kalimantan, dari Sumatera, yang itu memakan waktu." jelasnya. 

Menurut Dahlan, kondisi tersebut membuat sebagian pembangkit harus menurunkan produksi listrik.

"Misalnya kalau biasa bisa memproduksi katakanlah 600 MW, ini memproduksi 400 MW. Supaya batu baranya diolor dari cukup seminggu menjadi cukup katakanlah 15 hari," jelasnya.

Jika terjadi di banyak pembangkit secara bersamaan, pasokan listrik ke sistem akan berkurang dan berpotensi memicu pemadaman bergilir.

Baca Juga : PHK Massal di Jatim, Ribuan Buruh Pabrik Otomotif dan Kertas Terancam Kehilangan Kerja

Dalam kesempatan itu, Dahlan juga menyoroti pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang sebelumnya menyatakan pasokan batu bara untuk pembangkit dalam kondisi aman.

"Nah ini yang oleh menteri kita itu dianggap (aman), tidak betul batu bara lancar segala macam begitu ya sudah lah itu kan memang orang kan begitu. Nah ya sudah terserah sekarang," ucapnya.

Dahlan menilai kondisi tersebut membuat PLN berada dalam posisi yang tidak mudah. Menurutnya, perusahaan listrik negara itu harus mengikuti penjelasan resmi pemerintah meski di lapangan terdapat berbagai keluhan terkait pasokan listrik.

Ia juga menyinggung penjelasan PLN yang menyebut pemadaman terjadi karena pemeliharaan infrastruktur.

"Nah memang mungkin PLN ini kan perusahaan negara, dia itu berani kalau misalnya ngomong apa adanya. Apalagi menterinya sudah ngomong seperti itu, kalau PLN ngomongnya berbeda nanti dia kena sanksi dan segala macam," ujarnya. 

Dahlan mengatakan kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik nasional sebenarnya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan total produksi batu bara Indonesia setiap tahun.

Menurut perhitungannya, kebutuhan batu bara untuk sektor kelistrikan berada di kisaran 130 juta ton per tahun. Sementara produksi batu bara nasional mencapai ratusan juta ton dan sebagian besar diekspor ke luar negeri.

"Enggak banyak dibanding produksi, enggak banyak. Tetap masih bisa ekspor besar-besaran," ujarnya.