Kisah An-Najasyi, Raja yang Menggagalkan Upaya Quraisy Memburu Pengikut Nabi
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
18 - Jun - 2026, 10:09
JATIMTIMES - Di tengah tekanan dan intimidasi yang terus dialami umat Islam pada masa awal dakwah di Makkah, Rasulullah SAW mengambil langkah yang tidak biasa. Alih-alih melawan dengan kekuatan, beliau justru memerintahkan sebagian sahabat mencari perlindungan ke negeri lain yang dikenal menjunjung keadilan.
Pilihan itu jatuh kepada Habasyah, sebuah kerajaan besar di Afrika yang saat itu berada di bawah pemerintahan Raja an-Najasyi. Keputusan tersebut lahir bukan tanpa alasan. Rasulullah SAW mengenal reputasi sang penguasa sebagai pemimpin yang tidak membiarkan kezaliman terjadi di wilayahnya.
Baca Juga : Hukum Salat Subuh Jam 7 Pagi, Lengkap dengan Cara Menggantinya
"Sesungguhnya di Habasyah terdapat seorang raja yang tak seorang pun dizalimi di sisinya. Pergilah ke negerinya hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan menyelesaikan atas apa yang menimpa kalian," sabda Nabi Muhammad SAW.
Sekitar tahun 615 M, rombongan pertama Muslim yang berjumlah 16 orang meninggalkan Makkah. Mereka dipimpin Utsman bin Maz'un dan harus menempuh perjalanan panjang, termasuk menyeberangi Laut Merah, demi mencapai wilayah Kerajaan Aksum yang oleh bangsa Arab disebut Habasyah.
Setibanya di sana, mereka memperoleh sambutan yang jauh berbeda dibandingkan perlakuan yang diterima di tanah kelahiran mereka. Raja an-Najasyi bukan hanya mengizinkan mereka tinggal, tetapi juga memberikan perlindungan sehingga para pengungsi Muslim dapat menjalani kehidupan dengan aman.
Namun ketenangan itu sempat terusik oleh kabar yang beredar di Makkah. Berita tersebut menyebut bahwa kaum Quraisy telah menerima Islam dan menghentikan penindasan terhadap kaum Muslimin. Sebagian sahabat yang mempercayai informasi itu memutuskan pulang. Kenyataannya, kabar tersebut tidak benar. Tekanan terhadap umat Islam masih berlangsung sehingga banyak dari mereka kembali berhijrah ke Habasyah.
Gelombang hijrah kedua berlangsung dalam jumlah yang jauh lebih besar. Menurut catatan Ibnu Ishaq, sekitar 80 Muslim ikut dalam rombongan tersebut. Bertambahnya jumlah pengikut Nabi Muhammad SAW yang berlindung di Habasyah membuat para pemuka Quraisy khawatir.
Untuk memulangkan mereka, Quraisy mengirim dua diplomat berpengaruh, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Keduanya datang ke istana Raja an-Najasyi dengan membawa permintaan agar para pengikut Muhammad diserahkan dan dipulangkan ke Makkah.
Permintaan itu tidak langsung diterima. An-Najasyi memilih mendengar keterangan dari kedua belah pihak. Sikap tersebut menunjukkan prinsip keadilan yang selama ini melekat pada dirinya sebagai seorang raja.
Baca Juga : Toy Story 5 Bikin Orang Tua Ikut Galau, Seri Ini Ceritanya Paling Menyayat
Mewakili kaum Muslimin, Ja'far bin Abi Thalib tampil memberikan penjelasan. Ia tidak hanya menerangkan ajaran Islam, tetapi juga membacakan ayat-ayat dari Surah Maryam yang berkisah tentang Maryam dan Nabi Isa AS. Bacaan itu meninggalkan kesan mendalam bagi Raja an-Najasyi.
Menurut berbagai riwayat, sang raja menyatakan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS berasal dari sumber cahaya yang sama. Ja'far kemudian menjelaskan pandangan Islam mengenai Nabi Isa AS dengan mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, serta kalimat yang disampaikan kepada Maryam.
Momen itu menjadi titik balik yang menggagalkan misi Quraisy. Setelah mendengar langsung penjelasan kaum Muslimin, Raja an-Najasyi justru semakin bersimpati kepada mereka. Ia bahkan menegaskan kedekatan nilai antara keyakinannya dan ajaran Islam.
Dikisahkan, an-Najasyi kemudian menggoreskan tongkat ke tanah dan berkata, "Antara agama kalian dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini."
Keputusan sang raja membuat para utusan Quraisy pulang tanpa hasil. Upaya menjemput paksa kaum Muslimin gagal total. Sebaliknya, perlindungan yang diberikan Habasyah menjadi salah satu episode penting dalam sejarah Islam, menunjukkan bagaimana keadilan dan keterbukaan seorang pemimpin mampu melindungi kelompok yang sedang mengalami penindasan.
