Peringati Hari Lingkungan Hidup, TK Siti Maryam Ajak Anak Menanam hingga Mandikan Kambing 

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

05 - Jun - 2026, 06:58

Momen para siswa memandikan kambing peliharaan sekolah. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) 2026 di TK Siti Maryam berlangsung dengan cara yang tak biasa. Mengusung semangat tema global “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” serta tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, sekolah di Depok itu menghadirkan pembelajaran lingkungan yang benar-benar menyatu dengan aktivitas sehari-hari anak, Jumat (5/6/2026).

Kegiatan seremoni tahunan itu dirangkai dengan program trial class bagi calon siswa baru. Cara ini dipilih agar anak-anak bisa langsung merasakan suasana belajar berbasis alam yang selama ini menjadi ciri khas sekolah tersebut.

Momen para siswa menanam pohon. (Foto: istimewa)

Momen para siswa menanam pohon. (Foto: istimewa)

Baca Juga : Sampah Dapur Tak Selalu Berakhir di TPA, Dosen Unikama Ungkap Cara Simpel Olah Sampah Organik

Sejak pagi, halaman sekolah tampak hidup oleh tawa anak-anak. Lebih dari 30 peserta yang terdiri dari siswa aktif dan calon siswa baru membawa bibit tanaman dari rumah masing-masing. Bibit tersebut beragam, mulai dari sayuran hingga tanaman obat keluarga (toga) yang kemudian ditanam bersama di area kebun sekolah.

Kegiatan menanam menjadi pembuka rangkaian acara. Namun, aktivitas ini tidak berhenti sebagai simbol perayaan semata. Bibit yang ditanam akan terus dirawat oleh anak-anak sebagai “teman tumbuh” mereka, mulai dari menyiram hingga mengamati perkembangan setiap harinya.

Setelah dari kebun, anak-anak diajak melanjutkan aktivitas ke area kolam dan peternakan terpadu sekolah. Mereka tampak antusias saat memberi makan ikan lele dan koi, hingga burung merpati yang beterbangan di sekitar area sekolah. Suasana semakin riuh ketika mereka juga memberi pakan kambing secara langsung.

Foto bersama bersama siswa. (Foto: istimewa)

Foto bersama bersama siswa. (Foto: istimewa)

Puncaknya, anak-anak bersama-sama memandikan kambing peliharaan sekolah. Aktivitas ini dirancang tidak hanya untuk melatih motorik, tetapi juga menumbuhkan rasa empati, tanggung jawab, dan kedekatan emosional terhadap makhluk hidup.

Peringatan HLHS tahun ini juga mencerminkan kurikulum harian TK Siti Maryam yang memang berbasis lingkungan. Sehari-hari, siswa sudah dibiasakan memilah sampah organik dan anorganik serta mengolah sampah plastik menjadi ecobricks.

Sekolah ini juga menerapkan sistem integrated farming sebagai program unggulan. Limbah organik diolah menggunakan maggot Black Soldier Fly untuk menghasilkan pakan ternak sekaligus pupuk kompos. Hasilnya kemudian dimanfaatkan kembali untuk kebun sekolah.

Siklus ini berjalan berkelanjutan, mulai dari maggot menjadi pakan ikan dan unggas, sementara hasil budidaya ikan lele nantinya dimanfaatkan dalam kegiatan cooking class yang melibatkan siswa secara langsung.

Kepala TK Siti Maryam H.Sigit Subiyanto SE mengatakan kegiatan ini dirancang agar anak-anak tidak hanya memahami teori lingkungan, tetapi juga mengalami langsung prosesnya.

Baca Juga : Peringati Hari Lingkungan Hidup, Mahasiswa Hukum UWG Belajar Krisis Iklim di Sumber Jenon

"Tujuan utama kami memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026 ini bukan sekadar untuk merayakan hari besar di kalender, melainkan untuk memberikan pengalaman langsung yang berkesan kepada anak-anak," ujarnya.

Ia menambahkan, pembelajaran berbasis alam membantu anak memahami bahwa tindakan kecil bisa memberi dampak besar bagi lingkungan. "Melalui penyelarasan tema global 'Saatnya Bekerja untuk Iklim', kami ingin anak-anak menyadari sejak dini bahwa tindakan kecil mereka memiliki dampak besar. Aktivitas sederhana seperti merawat tanaman dan menyayangi hewan merupakan bentuk kontribusi nyata dan investasi penting untuk masa depan bumi," lanjutnya.

Menurut Sigit, pengalaman langsung jauh lebih efektif dibandingkan hanya pembelajaran di kelas. "Siswa perlu sering diajak menyentuh tanah secara langsung, memberi makan hewan secara nyata, dan merasakan sendiri bagaimana jenis ekosistem ini bekerja saling mendukung," jelasnya.

Pendidikan berbasis lingkungan di sekolah ini ternyata juga berdampak hingga ke rumah siswa. Salah satu orang tua, Luki Arifiani, mengaku perubahan perilaku anaknya terlihat jelas sejak mengikuti kegiatan di sekolah.

"Dampak dari pembiasaan di sekolah ini benar-benar langsung terlihat di rumah. Sejak bersekolah di TK Siti Maryam, Nurma menjadi suka memelihara dan menyiram tanaman di halaman rumah kami," katanya.

Ia bahkan menyebut anaknya mulai terbiasa mengingatkan orang tua soal pengelolaan sampah. "Bahkan saya dan suami paling kagum dengan kebiasaannya yang selalu mengingatkan kami dalam mengelola sampah di rumah. Dia sering menegur kami, 'Ma, Papa, ini masuk sampah organik. Kalau yang plastik ini non-organik, jadi harus dipisah ya,' seperti itu," ujarnya.

Menurut dia, kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan bisa tumbuh sejak usia dini jika dibiasakan secara konsisten.