Idul Adha dan Catatan Kejahatan Pertama Manusia, Kisah Tragis Putra Nabi Adam

25 - May - 2026, 12:27

llustrasi tentang berkurban yang telah ada sejak zaman Nabi Adam (ist)

JATIMTIMES - Momentum Idul Adha selama ini identik dengan ketakwaan, keikhlasan, dan pengorbanan. Namun dalam sejarah awal peradaban manusia yang dikisahkan dalam Islam, momentum kurban justru pernah menjadi latar munculnya tindak kejahatan besar pertama di bumi.

Peristiwa itu terjadi pada masa putra-putra Nabi Adam AS, yakni Qabil dan Habil. Kisah keduanya tercantum dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 27 sampai 31 yang menjelaskan tentang persembahan kurban yang berujung pada pembunuhan.

Allah SWT berfirman:

Baca Juga : Sapi Asal Situbondo Jadi Hewan Kurban Banpres Prabowo Subianto, Bobot Capai 1 Ton Lebih

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka dan tidak diterima dari yang lain.”

Kisah tersebut menjadi salah satu narasi penting dalam sejarah Islam mengenai bagaimana ibadah dapat kehilangan makna ketika dipenuhi iri hati dan kesombongan.

Dalam sejumlah tafsir dijelaskan, Habil mempersembahkan hewan terbaik yang dimilikinya dengan penuh keikhlasan. Sebaliknya, Qabil memberikan hasil pertanian yang kualitasnya buruk. Kurban Habil diterima Allah SWT, sementara persembahan Qabil ditolak.

Penolakan itu memunculkan kemarahan besar dalam diri Qabil. Rasa dengki berubah menjadi ancaman serius terhadap saudaranya sendiri.

“Aku pasti akan membunuhmu,” ucap Qabil sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran.

Habil memilih tidak melawan. Ia justru mengingatkan saudaranya bahwa Allah hanya menerima amal dari orang-orang bertakwa.

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa,” kata Habil.

Baca Juga : Jadwal Puncak Haji 2026 Lengkap, dari Wukuf Arafah hingga Hari Tasyrik

Menurut riwayat dalam Tafsir Ibnu Katsir, pembunuhan itu kemudian benar-benar terjadi dan menjadi tragedi kemanusiaan pertama di bumi. Qabil membunuh Habil karena tidak mampu menerima kenyataan bahwa ibadah saudaranya lebih diterima di sisi Allah SWT.

Dalam kitab Qashash al Anbiya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi awal munculnya pertumpahan darah dalam sejarah manusia. Sementara Imam Al Tabari dalam Tarikh al Rusul wa al Muluk menyebut tragedi itu sebagai pelajaran tentang bahaya iri hati yang tumbuh dari ketidakikhlasan beragama.

Sejumlah ulama juga menerangkan bahwa pada masa itu tanda diterimanya kurban adalah turunnya api dari langit yang melahap persembahan. Kurban Habil habis terbakar api, sedangkan persembahan Qabil tetap utuh. Peristiwa itulah yang semakin membakar emosi Qabil hingga melakukan pembunuhan.

Kisah tersebut terus diwariskan dalam tradisi Islam sebagai pengingat bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban. Nilai utama dari ibadah itu terletak pada ketulusan hati, kepatuhan kepada Allah SWT, dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu.

Di tengah perayaan Idul Adha yang penuh makna spiritual, sejarah Qabil dan Habil menjadi peringatan bahwa iri hati, kesombongan, dan amarah dapat melahirkan kejahatan bahkan di tengah ibadah yang suci.

Literasi mengenai kisah Qabil dan Habil serta sejarah kurban dalam peradaban Islam merujuk pada sejumlah sumber klasik Islam, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir karya Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Qashash al Anbiya karya Ibnu Katsir, dan Tarikh al Rusul wa al Muluk karya Imam Al Tabari. Selain itu, kisah tersebut juga termaktub dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 27 sampai 31 yang menjelaskan peristiwa kurban dua putra Nabi Adam AS hingga terjadinya pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.