Khutbah Jumat 22 Mei 2026: 3 Nasihat Rasulullah tentang Dzulhijjah yang Masih Relevan hingga Kini

22 - May - 2026, 06:38

Potret khutbah Jumat. (Foto: laman Masjid Raya KH. Hasyim Asyari)

JATIMTIMES - Khutbah Jumat kali ini membahas tiga pesan yang pernah disampaikan Nabi Muhammad pada bulan Dzulhijjah di hadapan para sahabat. Dalam penyampaiannya, Rasulullah SAW mengulang nasihat tersebut berkali-kali sebagai penegasan bahwa pesan itu merupakan wasiat berharga yang harus dijaga dan diamalkan oleh umat Islam.

Nasihat Rasulullah tersebut tidak hanya relevan pada masa dahulu, tetapi juga memiliki makna mendalam untuk kehidupan saat ini. Di tengah berbagai tantangan zaman, umat Islam dituntut untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Nabi sebagai pedoman dalam menjaga akhlak, persaudaraan, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Baca Juga : Ramalan Keuangan Zodiak Hari Ini, 22 Mei 2026: Libra hingga Pisces Diprediksi Dapat Rezeki Tak Terduga

Sebagai nabi dan rasul terakhir, Nabi Muhammad menjadi teladan terbaik bagi umat Islam. Seluruh ajaran yang beliau sampaikan, baik melalui ucapan maupun perbuatan, menjadi petunjuk hidup agar manusia mampu menjalani kehidupan yang penuh kebaikan, keadilan, dan keberkahan.

Khutbah I 


الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya serta bersungguh-sungguh menjauhi seluruh larangan-Nya. Dengan bekal takwa itulah semoga kelak kita termasuk golongan penghuni surga-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Kemuliaan bulan Dzulhijjah sebagaimana diterangkan oleh Al-‘Allamah Syaikh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Najah was Surur terletak pada adanya kewajiban ibadah haji sebagai rukun Islam. Pada bulan ini pula, doa-doa memiliki keutamaan besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan Allah mengabadikan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah dalam firman-Nya:

وَالْفَجْرِ، وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya: “Demi fajar. Dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Para ulama memiliki penafsiran berbeda mengenai ayat tersebut. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ada pula yang menafsirkan sebagai sepuluh hari pertama Muharram yang di dalamnya terdapat hari Asyura. Sementara Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah.

Pendapat mengenai kemuliaan sepuluh hari Dzulhijjah juga ditegaskan oleh Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Beliau menjelaskan bahwa lafaz walayālin ‘asyr menggunakan bentuk nakirah karena malam-malam tersebut merupakan malam paling utama dalam setahun. 

Karena itu, penafsiran sebagai sepuluh malam Dzulhijjah dinilai sangat kuat dan masyhur. Para ulama juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan fajar adalah fajar hari Arafah, sedangkan malam yang sepuluh ialah malam-malam awal Dzulhijjah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu pelajaran besar dari momentum Idul Adha ialah khutbah Rasulullah SAW saat menyampaikan pesan kepada para sahabat pada hari penyembelihan kurban. Dalam kitab Khutubatun Nabi Rasulillah disebutkan sabda beliau:

عن ابن عباس رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم خطب الناس يوم النحر فقال : يا ايها الناس اي يوم هذا؟ قالوا يوم حرام قال فاي بلد هذا؟ قالوا بلد حرام قال فاي شهر هذا قالوا شهر حرام. قال فان دماءكم واموالكم واعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في بلدكم هذا وفي شهركم هذا

Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA, sesungguhnya Rasulullah SAW berkhutbah kepada umatnya pada hari Idul Kurban. Nabi bersabda: ‘Wahai manusia, hari apakah ini?’ Para sahabat menjawab: ‘Hari yang haram.’ Nabi bertanya lagi: ‘Negeri apakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Negeri haram.’ Nabi kembali bertanya: ‘Bulan apakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Bulan haram.’ Lalu Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram sebagaimana haramnya hari ini, di negeri ini, dan pada bulan ini.’” (HR Imam Bukhari)

Kalimat Rasulullah SAW tersebut diulang berkali-kali sebagai penegasan sekaligus wasiat bagi umatnya. Bahkan Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setelah momentum Idul Adha itu tidak boleh lagi terjadi pertumpahan darah antara umat Islam dan kaum lainnya.

Dari hadis tersebut, ada tiga pelajaran penting yang dapat kita ambil sebagai umat Islam yang hidup di negeri Indonesia yang merdeka ini.

Pertama, seorang pemimpin wajib menjalin komunikasi dan membimbing umatnya menuju kebaikan. Salah satu bentuknya ialah mengingatkan tentang kemuliaan hari dan bulan yang dimuliakan Allah SWT. 

Memuliakan bulan-bulan haram dapat diwujudkan dengan memperbanyak puasa sunnah, mendekatkan diri kepada Allah, serta memperkuat amal sosial secara istiqamah. Pada bulan-bulan haram pula, umat Islam dilarang melakukan peperangan, pertikaian, maupun menebar fitnah.

Kedua, kemuliaan agama selalu berkaitan dengan tempat-tempat ibadah dan tanah air yang dijaga kesuciannya. Rasulullah SAW menggunakan kata balad dalam khutbahnya.

Dalam Kamus Al-Munawwir karya KH Ahmad Warson Munawwir yang telah ditashih KH Ali Ma’shum dan KH Zainal Abidin Munawwir, kata balad bermakna daerah, negeri, desa, kampung, maupun tanah air.

Penyebutan kata tersebut menunjukkan betapa besar kecintaan Rasulullah SAW terhadap tanah airnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Wage 22 Mei 2026: Hari Rahayu 

Artinya: “Sesungguhnya Allah yang mewajibkan atasmu Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan engkau ke tempat kembali (Makkah). Katakanlah: Tuhanku lebih mengetahui siapa yang membawa petunjuk dan siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Qashash: 85)

Ketiga, Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, bukan agama kekerasan dan pertumpahan darah. Kisah Nabi Ibrahim AS ketika diperintahkan menyembelih putranya Nabi Ismail AS, lalu Allah menggantinya dengan seekor domba, menjadi bukti nyata bahwa Islam menjunjung tinggi kemanusiaan dan kasih sayang.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Syaikh Utsman bin Hasan Al-Khaubawi dalam kitab Durratun Nashihin menjelaskan bahwa perjalanan Nabi Ibrahim AS dari negeri Syam menuju Makkah dalam menjalankan perintah Allah diabadikan melalui ibadah sunnah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah. 

Tarwiyah berasal dari kata yata rawwa yang berarti merenungkan mimpi menyembelih putranya, sedangkan Arafah bermakna mengetahui dan meyakini bahwa mimpi tersebut benar berasal dari Allah SWT. Hari kesepuluh Dzulhijjah kemudian menjadi hari penyembelihan kurban (nahr).

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,
Sebagai bentuk syukur atas digantinya Nabi Ismail dengan hewan kurban, Nabi Ibrahim AS disebut menyembelih ribuan hewan ternak demi taat kepada Allah SWT. Ibadah kurban bukan hanya bentuk ketaatan spiritual, tetapi juga ibadah sosial yang mengangkat kesejahteraan para peternak sekaligus membantu kaum dhuafa melalui pembagian daging kurban.

Karena itu, penting bagi umat Islam untuk memuliakan agama dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT. Bagi yang telah diberikan kelapangan rezeki, diwajibkan menunaikan haji dan disunnahkan melaksanakan kurban.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 1-3)

Selain itu, pelajaran penting lainnya ialah bagaimana Islam mengajarkan cinta tanah air atau hubbul wathan. Kota Makkah menjadi tempat yang sangat dimuliakan Rasulullah SAW sebagai pusat sejarah peradaban Islam. Bahkan di sekitar Ka’bah terdapat makam para nabi sebagaimana dijelaskan dalam kitab Manasik Haji karya Syaikh Shalih bin Umar As-Samarani.

Sebagaimana Rasulullah SAW mencintai Makkah dan Madinah, maka sebagai bangsa Indonesia kita juga wajib mencintai negeri ini dengan menjaga kedamaian dan menjadikannya sebagai negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Rasulullah SAW menyempurnakan syariat Islam dengan memperkuat nilai keimanan melalui kecintaan kepada tanah air.

Bahkan saat usia 30 tahun, beliau berhasil mempersatukan masyarakat Makkah melalui peristiwa peletakan Hajar Aswad di sekitar Ka’bah.

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,
Demikian khutbah singkat yang dapat disampaikan. Melalui semangat Idul Adha, marilah kita teguhkan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang menebarkan kasih sayang dan kedamaian. Mari kita isi kehidupan di Indonesia dengan memegang teguh ajaran Islam sekaligus memperkuat cinta tanah air sebagai bagian dari kesempurnaan iman kita.

جعلنا الله وإياكم من والفائزين الامنين وادخلنا واياكم في زمرة عباده الصالحين اعوذ بالله من الشيطان الرجيم وقال اني ذاهب الى ربي سيهدين رب هب لي من الصالحين وقل رب اغفر وارحم وانت خير راحمين 

 Khutbah II

 اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ

يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ