Tiga Perupa Visualisasikan Penerimaan Takdir Lewat Pameran Amor Fati di Galeri Raos Kota Batu
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Nurlayla Ratri
01 - May - 2026, 06:43
JATIMTIMES – Dinding Galeri Raos Kota Batu menjadi ruang presentasi karya tiga perupa senior dalam pameran bertajuk "Amor Fati". Hendung Tunggal Jati, Fadjar Djunaedi, dan Ahmad Yunus berkolaborasi memvisualisasikan filosofi penerimaan hidup melalui medium seni dua dimensi berupa lukisan dan tiga dimensi instalasi.
Eksplorasi karya dalam pameran Amor Fati ini menekankan pada pernyataan sikap terhadap perjalanan hidup atau takdir. Di ruang galeri, berjajar karya dua dimensi yang menampilkan kontras gaya dari masing-masing seniman namun tetap berada dalam satu benang merah tematik.
Baca Juga : May Day 2026: Kota Batu Dipastikan Tidak Ada Aksi Demonstrasi Peringatan Hari Buruh
Salah satu karya yang menonjol adalah instalasi berjudul The Gate of Memory. Bentuk pintu besi kawat ditampilkan sebagai metafora batas kehidupan manusia. Hendung Tunggal Jati menjelaskan bahwa instalasi tersebut merupakan simbol pintu yang menandai perjalanan dari lahir hingga akhir hayat.
“Saat lahir kita disambut, tapi saat pergi, pangkat dan jabatan itu tidak ada gunanya lagi. Kita akan berhenti pada satu pintu," terang Hendung saat memberikan penjelasan mengenai filosofi karyanya, Kamis (30/4/2026).
Hendung menambahkan, konsep Amor Fati mengajak untuk tidak sekadar menerima, tetapi juga menyikapi setiap garis hidup secara positif. Hal ini mencakup aspek penderitaan maupun kematian yang kemudian diangkat menjadi sebuah karya visual.
"Meskipun dalam satu pameran bersama, masing-masing perupa tetap punya karakter artistik sendiri-sendiri," ungkapnya.

Fadjar Djunaedi konsisten dengan kekuatan garisnya, sementara Ahmad Yunus yang memiliki latar belakang sebagai tukang letter membawa unsur tipografi ke dalam kanvasnya.
Bagi Fadjar Djunaedi, sebagian besar karyanya kali ini terinspirasi dari sosok ibunya yang telah berpulang. Ia menuangkan proses penerimaan atas kehilangan orang tersayang ke dalam goresan kuas yang menjadi representasi dari tema pameran.

Proses kreatif di balik karya-karya ini bervariasi secara waktu. Beberapa karya dipersiapkan selama satu bulan, sementara sebagian lainnya lahir dari respons cepat dalam kurun waktu satu hingga dua minggu pengerjaan.
Baca Juga : Eksploitasi Anak, Orang Tua Paksa Balita Ngamen di Area Stadion Kanjuruhan Ditindak Polisi
Pameran ini menjadi kesempatan bagi masyarakat dan penikmat seni di Kota Batu untuk melihat bagaimana pengalaman personal dan filosofi kehidupan dikonversi menjadi karya visual yang mendalam.
"Semua muncul dengan karakter masing-masing, tapi tetap seirama dan harmoni untuk dinikmati pengunjung, kita ajak berkontemplasi," pungkas Fadjar.
