Khutbah Jumat 17 April 2026: 4 Tingkatan Rezeki yang Sering Terlupakan

17 - Apr - 2026, 09:47

Potret khutbah Jumat. (Foto: laman Masjid Raya KH. Hasyim Asyari)

JATIMTIMES - Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema tentang pemahaman rezeki dalam perspektif Islam yang lebih luas. Selama ini, banyak orang masih memaknai rezeki sebatas harta atau penghasilan, padahal hakikatnya jauh melampaui itu.

Rezeki mencakup berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT, mulai dari kesehatan, keluarga yang saleh, hingga ilmu yang bermanfaat. Bahkan, tingkatan tertinggi dari rezeki adalah ketika seorang hamba memperoleh ridha Allah dalam setiap langkah hidupnya.

Baca Juga : Terima Penghargaan PWI Jatim, Pimpinan DPRD Jatim Komitmen Jaga Sinergitas dengan Pers

Melalui khutbah ini, umat Islam diajak untuk tidak hanya fokus mengejar materi, tetapi juga menyadari dan mensyukuri bentuk-bentuk rezeki lain yang sering terabaikan. Dengan pemahaman tersebut, diharapkan setiap muslim mampu menata tujuan hidup agar senantiasa mengarah pada kebaikan dan keberkahan.

Khutbah I

 الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ 

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Sudah sepatutnya kita senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat iman, Islam, serta kehidupan yang terus diberikan hingga saat ini. 

Rasa syukur tersebut tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk peningkatan ketakwaan kepada-Nya. Sebab, dengan takwa, hidup akan lebih terarah dan rezeki yang didapat akan penuh keberkahan.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ . وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS At-Thalaq: 2-3)

Pada kesempatan ini, penting untuk merenungkan kembali hakikat rezeki yang sering kali dipahami secara sempit. Padahal, menurut ulama besar Syekh Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi, rezeki memiliki beberapa tingkatan, tidak hanya sebatas materi yang tampak di mata.

Beliau menjelaskan dengan ungkapan yang begitu mendalam:

المَالُ هُوَ أَدْنَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ. وَالعَافِيَةُ أَعْلَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ. وَصَلَاحُ الأَبْنَاءِ أَفْضَلُ أَنْوَاعِ الرِّزْقِ. وَرِضَا رَبِّ العَالَمِينَ فَهُوَ تَمَامُ الرِّزْقِ

Artinya: “Harta adalah rezeki paling rendah, kesehatan adalah rezeki paling tinggi, anak saleh adalah rezeki paling utama, dan ridha Allah adalah rezeki yang paling sempurna.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Tingkatan pertama dari rezeki adalah harta. Harta memang menjadi kebutuhan dasar dalam kehidupan. Dengan harta, seseorang dapat memenuhi kebutuhan makan, pakaian, hingga berbagai keperluan lainnya.

Namun demikian, harta sejatinya adalah tingkatan rezeki yang paling rendah. Hal ini karena harta dapat dimiliki oleh siapa saja, baik orang yang beriman maupun yang tidak.

Bahkan, tidak jarang harta diperoleh dengan cara yang tidak benar. Karena itu, harta tidak boleh dijadikan tujuan utama dalam hidup. Harta seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebab setiap rupiah yang dimiliki kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ)

Artinya: “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan,” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Tingkatan kedua adalah kesehatan. Nikmat sehat sering kali dianggap biasa, padahal nilainya sangat besar. Dengan tubuh yang sehat, seseorang dapat beraktivitas, bekerja, serta beribadah dengan maksimal.

Sebaliknya, orang yang memiliki banyak harta namun dalam kondisi sakit tentu tidak dapat menikmati apa yang dimilikinya. Sementara itu, hidup sederhana dengan kondisi tubuh yang sehat justru bisa menghadirkan kebahagiaan tersendiri.

Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: ”Ada dua kenikmatan di mana banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas)

Selanjutnya, tingkatan ketiga adalah anak yang saleh dan ilmu yang bermanfaat. Tidak semua orang diberi karunia memiliki anak yang saleh. Padahal, anak yang saleh merupakan penyejuk hati di dunia sekaligus penolong di akhirat.

Baca Juga : Hilang Dua Pekan, Warga Banyuputih Ditemukan Tinggal Kerangka di Hutan Baluran Situbondo

Begitu pula dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu menjadi cahaya dalam kehidupan. Ilmu yang diamalkan akan terus mengalir pahalanya, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara): shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.” (HR Imam Muslim)

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Adapun tingkatan rezeki yang paling tinggi adalah ridha Allah SWT. Inilah puncak dari seluruh rezeki. Ketika Allah telah meridhai seorang hamba, maka hidupnya akan dipenuhi keberkahan, hati menjadi tenang, dan setiap langkah terasa ringan.

Ridha Allah adalah jaminan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ridha-Nya, segala ujian akan terasa lebih ringan, dan balasan yang menanti adalah surga.

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa rezeki bukan hanya tentang jumlah yang dimiliki, tetapi bagaimana rezeki tersebut mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Karena itu, tidak perlu berlebihan dalam mengkhawatirkan rezeki. Yang terpenting adalah terus berikhtiar dengan cara yang baik, karena Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.

Sebagaimana firman Allah:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا

Artinya: "Tidak satu pun makhluk di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya."

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rezeki yang berkah, yang mampu mengantarkan kita semakin dekat kepada-Nya, serta menjadikan hidup ini penuh kebermanfaatan. Amin Ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

 الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ