AI Ubah Wajah Pendidikan dan Data Kemiskinan, Mahasiswa Didorong Lahirkan Solusi Nyata lewat AITF
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
16 - Apr - 2026, 02:12
JATIMTIMES - Pemanfaatan kecerdasan artifisial mulai diarahkan untuk menjawab dua persoalan krusial sekaligus di Indonesia, ketimpangan pendidikan dan akurasi data kemiskinan. Melalui Workshop kedua Artificial Intelligence Talent Factory (ATIF) tahun 2026 di Universitas Brawijaya (UB), Kamis, (16/4/2026), mahasiswa tidak hanya dilatih memahami teknologi, tetapi dituntut merancang solusi berbasis AI yang langsung diuji pada kasus nyata.
Program yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) ini menjadi bagian dari strategi mempercepat transformasi digital nasional. Tahun ini, pelaksanaannya diperluas dengan melibatkan UB, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Kolaborasi ini menandai pergeseran pendekatan, dari sekadar penguatan kompetensi menjadi produksi solusi konkret berbasis data.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, menegaskan bahwa fokus utama workshop bukan lagi teori, melainkan implementasi langsung melalui dua use case strategis dari Kementerian Sosial. “Ini adalah workshop kedua dari program AI Talent Factory yang diselenggarakan atas kerja sama antara Komdigi dengan UB. Tahun ini sudah memasuki batch kedua dan bertujuan untuk konsolidasi progres yang sudah dicapai,” ujarnya.
Baca Juga : Deretan Kasus Mahasiswa UI yang Pernah Viral 2023–2026, Terbaru Skandal Pelecehan FH UI
Pada kasus pertama, AI diarahkan untuk mengubah pendekatan pembelajaran di Sekolah Rakyat yang selama ini masih seragam. Sistem konvensional dinilai tidak mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan siswa. Dalam skema baru, AI dikembangkan untuk menciptakan personalized learning yang menyesuaikan materi dengan kecepatan dan kapasitas masing-masing individu.
“Kalau menggunakan pendekatan konvensional, semua siswa diperlakukan sama. Akibatnya, siswa dengan potensi tinggi justru tertahan. Dengan AI, kita bisa menyediakan environment yang memungkinkan personalized learning, sehingga akselerasi belajar bergantung pada masing-masing siswa,” ungkapnya.
Teknologi ini tidak hanya berhenti pada rekomendasi materi, tetapi juga membangun portofolio belajar digital tiap siswa. Sistem akan membaca progres, menganalisis pola belajar, lalu memberikan arahan lanjutan secara spesifik. Model ini sedang diuji melalui kerja sama dengan Sekolah Rakyat di Kota Malang sebagai mitra awal, dengan potensi replikasi ke seluruh Indonesia apabila terbukti efektif.
Sementara pada kasus kedua, AI digunakan untuk membedah persoalan klasik dalam penyaluran bantuan sosial, yakni ketidaktepatan sasaran akibat data yang tidak akurat. Mahasiswa ditantang mengembangkan sistem yang mampu memetakan kondisi masyarakat miskin secara lebih presisi sekaligus memprediksi arah kebijakan yang paling relevan.
“Use case dari Kementerian Sosial ini berkaitan dengan data kemiskinan. Nantinya untuk membantu pemetaan masyarakat miskin dan prediksi kebijakan. Sehingga program pengentasan kemiskinan bisa lebih tepat sasaran,” kata Tri Astoto.
Ia menambahkan bahwa kehadiran AI di sektor ini berfungsi sebagai alat bantu analisis, bukan pengganti pengambil keputusan. “Dengan bantuan teknologi ini, pemerintah bisa mengagendakan kebijakan yang lebih optimal. Ujungnya efisiensi anggaran. Tapi tetap, yang memutuskan adalah manusia, AI hanya memberikan rekomendasi berbasis data,” ujarnya.
Dari sisi akademik, Wakil Rektor I Universitas Brawijaya Prof. Imam Santoso melihat dua use case ini sebagai gambaran nyata bagaimana AI dapat diterapkan lintas sektor. Ia menekankan bahwa kebutuhan talenta AI tidak lagi terbatas pada industri teknologi, tetapi sudah merambah ke kebijakan publik.
Baca Juga : Pendaftaran Manajer KDKMP dan KNMP Sudah Dibuka, Cek Link dan Syarat Daftarnya
“Mahasiswa kita harapkan menjadi talenta luar biasa yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Mereka akan mengolah, menganalisis, bahkan memprediksi skenario kebijakan berbasis data menggunakan AI. Kebutuhan talenta ini sangat besar, dari desa hingga pusat,” katanya.
Menurutnya, kemampuan prediktif AI dalam membaca data menjadi kunci dalam membangun kebijakan yang lebih presisi. Hal ini sejalan dengan meningkatnya penggunaan teknologi AI di lingkungan kampus. Universitas Brawijaya bahkan telah mengoperasikan dua unit superkomputer untuk mendukung riset, meski kapasitasnya masih belum mencukupi.
“Satu unit supercomputer bernilai sekitar Rp4 sampai Rp5 miliar. Saat ini sudah ada dua, tetapi masih kurang karena banyaknya dosen dan peneliti yang menggunakannya. Tren penggunaan AI meningkat sangat signifikan,” ujar Imam.
Workshop ini diikuti 38 mahasiswa pada batch kedua, didominasi dari Fakultas Ilmu Komputer dengan sebagian peserta dari MIPA. Mereka menjadi aktor utama dalam merancang prototipe yang diharapkan tidak berhenti sebagai proyek akademik, melainkan bisa diimplementasikan secara luas.
Melalui dua pendekatan tersebut, AI tidak lagi diposisikan sebagai teknologi masa depan, tetapi sebagai instrumen praktis untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dari ruang kelas hingga meja pengambil kebijakan, eksperimen yang dilakukan dalam program ini menunjukkan satu arah yang jelas, bahwa kualitas data dan kecerdasan analisis akan menjadi penentu utama efektivitas kebijakan di masa depan.
