Waspada! Penyakit Batuk Pilek Berulang Jadi Pencuri Nutrisi Tumbuh Kembang Anak di Kota Batu
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
15 - Apr - 2026, 03:09
JATIMTIMES – Orang tua di Kota Batu diminta untuk lebih peka terhadap kondisi kesehatan buah hatinya, terutama di tengah cuaca ekstrem yang kerap memicu penyakit ringan seperti batuk dan pilek. Pasalnya, penyakit yang sering dianggap biasa ini ternyata bisa menjadi penghambat utama tumbuh kembang anak jika terjadi secara berulang.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Batu, Aditya Prasaja, mengungkapkan bahwa salah satu faktor terbesar balita sulit naik berat badan adalah kondisi imunitas yang terus-menerus dipaksa bekerja melawan penyakit. Kondisi ini membuat energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan justru habis untuk memulihkan kesehatan.
Baca Juga : Bursa Selter Sekda Kota Batu Memanas, DPRD Ingatkan Transparansi dan Cegah Konflik Kepentingan
Aditya menjelaskan, cuaca yang tidak menentu sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh balita. Saat anak terserang batuk atau pilek, asupan nutrisi yang masuk ke tubuh tidak akan dialokasikan secara maksimal untuk menambah berat badan atau tinggi badan.
"Kalau cuaca seperti sekarang begini ada batuk pilek, pasti energinya untuk tumbuh kembang terpakai untuk imunnya dia. Jadi, memang itu sangat berpengaruh. Makanya, salah satu hal yang kita perhatikan adalah apakah anak ini sakit berulang atau tidak," ujar Aditya saat ditemui, belum lama ini.
Menurutnya, jika anak mengalami sakit yang terus-menerus berulang, orang tua harus segera mencari penyebab dasarnya. "Apakah dia ada alergi atau daya tahan tubuhnya memang lemah, itu harus disembuhkan dulu sakitnya agar nutrisi yang masuk bisa fokus kembali ke pertumbuhan," imbuhnya.
Lebih lanjut, Aditya mengingatkan pentingnya ketegasan orang tua dalam menjaga pola konsumsi anak. Seringkali, penyakit dipicu oleh faktor makanan yang tidak cocok dengan kondisi fisik balita, namun orang tua kerap menyerah demi menuruti keinginan anak.
"Kadang kasihan sama anak, anak nangis minta permen atau cokelat lalu dikasih. Padahal kalau makan itu besoknya langsung batuk. Nah, orang tua harus peka. Jangan sampai karena tidak tega, justru menghambat tumbuh kembang anaknya sendiri," tegas Kadinkes.
Dinas Kesehatan menekankan, perlambatan pertumbuhan sering kali dimulai dari hal kecil. Misalnya, balita yang seharusnya naik 300 gram dalam sebulan, ternyata hanya naik 150 gram karena sempat jatuh sakit. Jika hal ini disepelekan dan terjadi berulang, lama-kelamaan posisi grafik tumbuh kembang anak akan jatuh di bawah standar minimal atau masuk kategori stunting.
Baca Juga : Jangan Sepelekan Tidur Terlalu Lama, Ini 8 Dampak Buruk Menurut Imam Munawi
Adit menambahkan, Dinkes Kota Batu kini terus menginstruksikan kader-kader Posyandu untuk memberikan edukasi langsung kepada orang tua agar lebih waspada terhadap siklus sakit berulang demi mencegah lahirnya kasus stunting baru di Kota Batu.
Ia mengingatkan, bagi balita yang berat badannya tidak naik sesuai kelompok umur selama dua bulan berturut-turut, Kadinkes menyarankan agar segera diperiksa oleh dokter spesialis di fasilitas kesehatan terdekat.
"Secara medis harus ditangani dulu penyakitnya sampai sembuh, baru kemudian nutrisi dan pola asuhnya diperbaiki. Dengan begitu, anak tidak hanya sekadar sembuh dari sakit, tapi grafiknya juga kembali naik mengejar standar usianya," pungkas Aditya.
