Legitnya Es Dawet Ayu Wins di Malang, Gunakan Pandan Asli dan Gula Merah Banjarnegara

Reporter

Irsya Richa

Editor

A Yahya

23 - Mar - 2026, 08:51

Winda saat meracik Es Dawet Ayu Wins. (Foto: Irsya Richa/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Es dawet menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran minuman kekinian. Di Kota Malang, minuman segar berbahan dasar tepung beras ini tetap memiliki penggemarnya, terutama karena cita rasa khas yang berasal dari bahan-bahan alami.

Salah satu penjual es dawet yang masih mempertahankan resep tradisional adalah usaha keluarga yang telah dirintis sejak tahun 2000 bernama Es Dawet Ayu Wins. Usaha tersebut kini diteruskan oleh generasi berikutnya dan tetap menjaga kualitas bahan baku agar rasa khasnya tidak berubah.

Baca Juga : Hitungan Kalori Kue Lebaran dari Nastar sampai Kastengel, Lengkap dengan Cara Membakarnya

Winda Sari, salah satu anggota keluarga yang meneruskan usaha tersebut, mengatakan bahwa es dawet yang dijual menggunakan bahan-bahan alami tanpa pewarna buatan. Warna hijau pada cendol berasal dari daun pandan asli yang diolah bersama tepung beras.

“Bahan utamanya sederhana, dari tepung beras dan warna hijaunya dari daun pandan asli. Jadi tidak pakai pewarna buatan,” ungkap warga Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini.

Selain itu, cita rasa manis pada es dawet juga berasal dari gula merah pilihan yang didatangkan langsung dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Menurut Winda, gula merah dari daerah tersebut memiliki aroma yang khas sehingga membuat rasa minuman menjadi lebih nikmat. “Kalau yang membedakan dengan yang lain, gula merahnya langsung dari Banjarnegara. Aromanya lebih wangi dan rasanya juga beda,” jelas Winda.

Saat ini, penjualan es dawet tersebut tersebar di beberapa titik di Kota Malang. Beberapa di antaranya berada di kawasan Taman Merjosari, depan lapangan Pasar Landungsari, Jalan Selat Bali, simpang empat Sawojajar, depan SMA Dempo, serta kawasan Jalan Surabaya dan Sigura-gura.

Selain berjualan menetap di beberapa lokasi, sebagian penjual juga berkeliling untuk menjangkau pelanggan di berbagai wilayah. Dalam sehari, setiap titik penjualan bisa menghasilkan pendapatan yang cukup menjanjikan.

Jika dagangan habis terjual, keuntungan bersih dari satu titik bisa mencapai ratusan ribu rupiah. “Kalau satu titik dagangannya habis, biasanya bersihnya bisa sekitar Rp400 ribu sampai Rp500 ribu,” kata Winda.

Usaha es dawet ini, lanjut Winda memiliki perjalanan panjang. Pada awalnya, orang tua Winda mulai berjualan sejak tahun 2000 dengan harga yang sangat terjangkau. Saat itu, satu porsi es dawet hanya dijual sekitar seribu rupiah.

Baca Juga : Sego Babat Mas Bull Kota Batu, Spesialis Babat Sapi Gurih Tanpa Bau Amis

Seiring waktu, usaha tersebut sempat mengalami masa vakum karena kesulitan mencari tenaga penjual. Beberapa orang yang sebelumnya ikut membantu berjualan akhirnya memilih membuka usaha sendiri di berbagai daerah.

Meski demikian, keluarga Winda tetap berusaha mempertahankan usaha kuliner tradisional tersebut. Kini penjualan tidak hanya dilakukan secara keliling, tetapi juga memiliki tempat usaha tetap di rumah. “Dulu ibu jualan di Pasar Bareng, sedangkan bapak keliling di daerah Sumbersari. Sekarang alhamdulillah di rumah juga sudah ada tempat untuk jualan,” terang Winda.

Selain anggota keluarga, usaha ini juga melibatkan beberapa kerabat untuk membantu operasional penjualan. Es dawet yang dijual biasanya dikemas dalam satu paket yang terdiri dari cendol, santan, dan gula merah cair yang dipisah dalam beberapa bungkus agar tetap segar saat disajikan.

Dengan cita rasa tradisional dan bahan alami yang digunakan, es dawet ini tetap menjadi pilihan minuman segar bagi masyarakat Malang yang ingin menikmati kuliner khas dengan rasa autentik.