10 Tradisi Unik Menyambut Lebaran Idulfitri di Indonesia, dari Meugang hingga Meriam Karbit

Reporter

Mutmainah J

Editor

Dede Nana

18 - Mar - 2026, 02:19

Ilustrasi Lebaran idulfitri. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Hari Raya Idulfitri tidak hanya menjadi momen kemenangan bagi umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Di Indonesia, Lebaran juga identik dengan berbagai tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah.

Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam menyambut Idulfitri. Mulai dari tradisi memasak bersama, arak-arakan, hingga festival budaya yang meriah. Tradisi tersebut biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga warisan budaya lokal.

Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku

Dihimpun dari situs resmi Indonesia Baik dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, berikut sejumlah tradisi unik masyarakat Indonesia dalam menyambut Lebaran.

1. Meugang di Aceh

Salah satu tradisi menyambut Lebaran yang terkenal di Aceh adalah Meugang atau Makmeugang. Tradisi ini dilakukan dengan menyembelih hewan ternak seperti sapi atau kambing.

Meugang biasanya digelar tiga kali dalam setahun, yaitu menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Di desa, tradisi ini umumnya berlangsung satu hari sebelum hari raya, sementara di wilayah perkotaan bisa dilakukan dua hari sebelumnya.

Setelah daging dimasak di rumah masing-masing, masyarakat biasanya membawa makanan tersebut ke masjid untuk dimakan bersama tetangga dan warga sekitar.

2. Bakar Gunung Api atau Ronjok Sayak di Bengkulu

Di Bengkulu terdapat tradisi unik bernama Ronjok Sayak atau Bakar Gunung Api. Tradisi ini dilakukan dengan menumpuk batok kelapa hingga menyerupai gunung, lalu dibakar.

Ronjok Sayak biasanya dilaksanakan pada malam takbiran atau malam ke-27 Ramadan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, api dalam tradisi ini menjadi simbol penghubung antara manusia dan para leluhur.

Prosesi pembakaran batok kelapa biasanya dilakukan secara khidmat dan disertai doa-doa. Tradisi ini umumnya berlangsung setelah salat Isya menjelang 1 Syawal.

3. Bedulang di Bangka

Masyarakat Bangka memiliki tradisi Bedulang yang dilakukan setelah pelaksanaan salat Idulfitri.

Setelah salat Id, warga biasanya saling bersalaman dan berkumpul kembali di halaman masjid untuk makan bersama. Makanan yang disajikan terdiri dari berbagai menu khas yang ditutup menggunakan tudung saji.

Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan serta mempererat hubungan antarwarga.

4. Batobo di Riau

Di Riau terdapat tradisi Batobo, yaitu tradisi menyambut para perantau yang pulang ke kampung halaman menjelang Lebaran.

Para pemudik biasanya disambut secara meriah oleh masyarakat setempat. Mereka diarak menggunakan iringan rebana sambil melintasi area persawahan hingga menuju tempat berbuka puasa bersama.

Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus pelepas rindu antara para perantau dan keluarga di kampung halaman.

5. Grebeg Syawal di Yogyakarta

Yogyakarta memiliki tradisi Grebeg Syawal yang sudah ada sejak abad ke-16.

Tradisi ini ditandai dengan arak-arakan gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi yang dibawa oleh pasukan Keraton Yogyakarta. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat.

Grebeg Syawal dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur setelah umat Muslim menjalani ibadah puasa selama Ramadan.

6. Ngadongkapkeun di Banten

Di Banten terdapat tradisi Ngadongkapkeun yang dilakukan setelah salat Idulfitri.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

Dalam tradisi ini, masyarakat memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sungkeman kepada orang tua atau keluarga yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.

7. Ngejot di Bali

Tradisi Ngejot menjadi salah satu simbol kerukunan antarumat beragama di Bali.

Dalam tradisi ini, masyarakat saling memberikan makanan kepada tetangga sebagai tanda terima kasih dan bentuk kebersamaan. Makanan yang dibagikan biasanya berupa hidangan siap santap, kue-kue, atau buah-buahan.

8. Perang Topat di Lombok

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), masyarakat memiliki tradisi Perang Topat atau perang ketupat.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan enam hari setelah Idulfitri. Dalam acara tersebut, masyarakat saling melempar ketupat sebagai simbol kebersamaan.

Perang Topat juga dikenal sebagai lambang kerukunan antara umat Hindu dan Islam yang hidup berdampingan di Lombok.

9. Binarundak di Sulawesi Utara

Di Sulawesi Utara, khususnya di daerah Motoboi Besar, masyarakat memiliki tradisi Binarundak untuk merayakan Lebaran.

Tradisi ini dilakukan dengan memasak nasi jaha secara bersama-sama selama tiga hari berturut-turut setelah Idulfitri.

Nasi jaha merupakan makanan khas Sulawesi Utara yang terbuat dari beras dan dimasak dalam bambu. Rasanya gurih karena menggunakan santan serta memiliki aroma jahe yang cukup kuat.

Binarundak dipercaya sebagai bentuk rasa syukur sekaligus sarana mempererat silaturahmi antarwarga.

10. Festival Meriam Karbit di Kalimantan Barat

Salah satu tradisi paling meriah saat Lebaran dapat ditemukan di Kalimantan Barat, yaitu Festival Meriam Karbit.

Festival ini digelar selama tiga hari berturut-turut, mulai dari sebelum hingga setelah Lebaran. Dalam acara tersebut, masyarakat menyalakan meriam karbit yang menghasilkan suara dentuman keras.

Selain menjadi tradisi Lebaran, festival ini juga memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan asal-usul berdirinya Kota Pontianak.

Beragam tradisi tersebut menunjukkan betapa kayanya budaya Indonesia dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Meski memiliki cara yang berbeda-beda, semuanya memiliki makna yang sama, yaitu mempererat kebersamaan, menjaga silaturahmi, dan mengungkapkan rasa syukur.