Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi
Reporter
Mutmainah J
Editor
Dede Nana
24 - Mar - 2026, 03:58
JATIMTIMES - Masyarakat Jawa memiliki beragam tradisi yang berkaitan dengan perayaan Idulfitri. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan di sejumlah daerah adalah Lebaran Ketupat atau sering juga disebut Bakda Ketupat. Tradisi ini biasanya dilakukan sekitar satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri. Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai perayaan Lebaran Ketupat?
Sejarah Lebaran Ketupat
Untuk memahami makna Lebaran Ketupat dalam Islam, kita perlu melihat kembali sejarah kemunculannya. Tradisi ini diyakini diperkenalkan oleh tokoh Wali Songo, Sunan Kalijaga, dalam upayanya menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa.
Baca Juga : Ingin Turunkan Berat Badan setelah Lebaran? Coba 5 Cara Ini agar Tubuh Kembali Ideal
Dilansir dari nu.or.id, dalam proses dakwahnya, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah kepada masyarakat Jawa, yakni Bakda Lebaran dan Bakda Ketupat. Bakda Lebaran merujuk pada perayaan Hari Raya Idulfitri yang ditandai dengan pelaksanaan salat Idulfitri.
Bakda Ketupat adalah tradisi yang dilaksanakan sekitar seminggu setelah Idulfitri. Pada momen Bakda Ketupat ini, masyarakat biasanya berkumpul bersama keluarga dan kerabat untuk menikmati hidangan khas berupa ketupat yang disajikan dengan opor ayam serta berbagai lauk lainnya.
Tradisi Silaturahmi dan Kebersamaan
Dalam tradisi Lebaran Ketupat, biasanya anggota keluarga yang lebih muda akan datang berkunjung ke rumah saudara atau kerabat yang lebih tua. Mereka saling bersilaturahmi, meminta maaf, serta menikmati hidangan bersama.
Makan ketupat bersama dalam tradisi ini melambangkan beberapa nilai penting, seperti:
• kebersamaan
• mempererat tali persaudaraan
• menjaga kasih sayang antar keluarga dan tetangga
Karena itulah, tradisi ini kemudian dikenal luas dengan sebutan Lebaran Ketupat.
Makna Filosofis Ketupat
Ketupat sendiri bukan sekadar makanan khas. Dalam budaya Jawa, ketupat memiliki makna filosofis yang dalam. Kata ketupat berasal dari istilah Jawa kupat, yang merupakan kependekan dari ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Selain itu, kupat juga sering dimaknai sebagai singkatan dari laku papat yang berarti empat tindakan.
Nilai tersebut biasanya tercermin dalam tradisi sungkeman, yaitu ketika seorang anak bersimpuh di hadapan orang tua atau orang yang lebih tua untuk memohon maaf.
Di masa kini, orang yang dituakan tidak hanya orang tua atau kerabat, tetapi juga bisa guru, tokoh masyarakat, atau rekan kerja. Setelah saling memaafkan, tradisi tersebut biasanya diakhiri dengan makan ketupat bersama.
Pandangan Ulama tentang Lebaran Ketupat
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur, KH Ma'ruf Khozin, menjelaskan bahwa tradisi Lebaran Ketupat bukanlah tambahan ibadah dalam agama.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak mengandung unsur ibadah seperti takbiran, salat, ataupun ritual keagamaan lainnya. Tradisi ini hanya berupa kegiatan sosial berupa berbagi makanan kepada tetangga dan kerabat.
“Hari Raya Ketupat hanya sekadar bersilaturahmi ke tetangga dan kerabat dengan menyuguhkan makanan khas, ketupat, yang dinikmati bersama setelah puasa sunah enam hari di bulan Syawal,” ujarnya seperti dikutip dari laman MUI Jawa Timur.
Hukum Memperingati Hari Besar dalam Islam
Dalam pandangan Islam, peringatan hari besar secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori:
Baca Juga : Liburan ke Timur Tengah Batal? Ini 6 Destinasi Alternatif yang Tak Kalah Menarik
• Hari besar yang dijelaskan secara langsung dalam agama, seperti Idulfitri dan Idul Adha.
• Perayaan yang tidak secara khusus disebutkan dalam ajaran Islam, misalnya peringatan hijrah, Isra Mi’raj, Maulid Nabi, hingga peringatan hari-hari nasional seperti hari kemerdekaan atau hari buruh.
Untuk kategori kedua ini, para ulama memiliki dua pendapat. Ada yang melarang karena menganggapnya sebagai bid’ah. Namun ada pula yang membolehkan karena tidak ada dalil yang secara tegas melarangnya.
Dalam salah satu pandangan yang dinukil dari fatwa Al-Azhar University (Fatwa Al-Azhar, 10/160), disebutkan bahwa suatu perayaan boleh dilakukan selama tujuannya baik dan tidak keluar dari nilai-nilai syariat Islam. Yang dinilai adalah substansi kegiatannya, bukan sekadar namanya.
Hadis tentang Hari Raya
Memang terdapat hadis yang menyebutkan bahwa umat Islam memiliki dua hari raya utama, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sungguh bagi setiap kaum memiliki hari raya. Dan ini adalah hari raya kita.” (HR Bukhari dan Muslim)
Namun demikian, tradisi seperti Lebaran Ketupat tidak dimaksudkan sebagai hari raya keagamaan yang baru, melainkan sebagai tradisi sosial yang berisi kegiatan silaturahmi.
Menurut ulama asal Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad, berbagi ketupat kepada tetangga justru sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya berbagi kepada sesama.
Ia mencontohkan hadis Nabi:
“Jika kamu memasak kuah maka perbanyak airnya, lalu perhatikan keluarga tetanggamu. Kemudian beri bagian kepada mereka dengan baik.” (HR Muslim dari Abu Dzar).
Tradisi Lebaran Ketupat pada dasarnya merupakan budaya masyarakat yang berisi nilai-nilai silaturahmi, saling memaafkan, serta berbagi makanan dengan keluarga dan tetangga.
Selama tidak dianggap sebagai ibadah khusus dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tradisi ini dipandang boleh dilakukan karena mengandung nilai sosial yang baik, seperti mempererat persaudaraan dan menumbuhkan kepedulian antar sesama.
