Al Malhamah Kubra dan Memanasnya Konflik Global, Benarkah Tanda Perang Besar Akhir Zaman?

02 - Mar - 2026, 12:10

Ilustrasi peperangan dunia yang banyak memakan korban (ist)

JATIMTIMES - Ketika ketegangan geopolitik dunia kembali memanas, sebagian kalangan mengaitkannya dengan nubuat tentang perang besar akhir zaman yang dikenal sebagai Al Malhamah Kubra. Isu ini kembali diperbincangkan seiring konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang meningkat di bulan Ramadan. Namun benarkah peristiwa yang terjadi hari ini berkaitan langsung dengan perang besar yang disebut dalam berbagai riwayat?

Dalam literatur eskatologi Islam, Al Malhamah Kubra digambarkan sebagai pertempuran dahsyat yang menjadi salah satu tanda mendekatnya hari kiamat. Sejumlah ulama merujuk pada hadis yang menyebutkan terjadinya peperangan besar antara kaum Muslim dan bangsa Romawi yang kerap dimaknai sebagai kekuatan Nasrani pada masa itu. Dalam buku Al Malhamah al Kubra Ketika Nubuwah yang Dijanjikan Itu Tiba, disebutkan bahwa perang tersebut melibatkan pasukan Al Mahdi melawan Romawi Bani Asfar dan berlangsung di wilayah Syam, khususnya sekitar Ghouta dekat Damaskus, Suriah.

Baca Juga : Profil Try Sutrisno, Wapres ke-6 RI Meninggal Dunia

Salah satu hadis yang sering dikutip berasal dari riwayat Abu Darda. Rasulullah SAW bersabda bahwa markas kaum Muslimin pada saat terjadi huru hara besar berada di Ghouta, di dekat kota Damaskus, yang disebut sebagai salah satu wilayah terbaik di Syam. Riwayat ini tercantum dalam Musnad Ahmad nomor 21725 dan Sunan Abu Dawud nomor 4298. Keterangan tersebut membuat Suriah kerap dipandang sebagai lokasi sentral dalam rangkaian peristiwa akhir zaman.

Gambaran perang Al Malhamah Kubra dalam hadis berbeda jauh dari peperangan modern. Tidak ada kisah tentang senjata canggih, rudal, atau kendaraan tempur berlapis baja. Sebaliknya, riwayat menyebut penggunaan kuda, pedang, dan tombak. Sejumlah penulis menafsirkan bahwa manusia akan kembali pada situasi yang sangat sederhana, bahkan tanpa teknologi, listrik, maupun alat elektronik, seolah peradaban mengalami kemunduran drastis.

Hadis sahih riwayat Sahih Muslim nomor 2897 juga menjelaskan rangkaian peristiwa besar tersebut. Disebutkan bahwa bangsa Romawi akan turun di wilayah Amaq atau Dabiq. Kemudian pasukan dari Madinah yang disebut sebagai sebaik baik penduduk bumi saat itu keluar menghadapi mereka.

Dalam pertempuran itu, sepertiga pasukan Muslim gugur sebagai syuhada terbaik, sepertiga lainnya mundur dan tidak diterima taubatnya, sedangkan sepertiga sisanya memperoleh kemenangan hingga menaklukkan Konstantinopel. Dalam lanjutan riwayat tersebut dikisahkan pula tentang munculnya fitnah besar hingga turunnya Nabi Isa Alaihissalam.

Ada pula riwayat lain yang menyebut bahwa peperangan besar itu berlangsung selama tiga hari. Namun para ulama mengingatkan agar umat Islam tidak tergesa gesa mencocokkan setiap konflik yang terjadi saat ini dengan nash hadis tentang akhir zaman.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid menegaskan bahwa hadis hadis tentang perkara gaib tidak boleh sembarangan dipastikan penerapannya pada realitas tertentu tanpa kaidah ilmiah yang jelas.

Baca Juga : Kemenlu Imbau Jemaah Umroh Tunda Keberangkatan, Imbas Konflik Timur Tengah

“Tidak boleh memastikan bahwa hadits tertentu secara pasti cocok dengan peristiwa yang sedang kita saksikan tanpa memperhatikan kaidah kaidahnya. Ini bukan metode para peneliti ahli ilmu,” ujarnya. 

Ia juga mengingatkan bahwa menebak nebak siapa pihak yang dimaksud dalam hadis sebagai bangsa tertentu seperti Cina, Rusia, atau Iran termasuk perkara gaib yang tidak boleh dipastikan kebenarannya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat agar umat tidak mudah terprovokasi oleh narasi kiamat setiap kali konflik global meningkat. Meski sejumlah tanda akhir zaman disebutkan dalam hadis, penafsiran dan penerapannya memerlukan kehati hatian serta pemahaman mendalam terhadap ilmu syariat.

Dengan demikian, Al Malhamah Kubra tetap menjadi bagian dari khazanah eskatologi Islam yang diyakini akan terjadi sesuai ketentuan Allah. Namun memastikan waktunya atau mengaitkannya secara langsung dengan peristiwa politik kontemporer bukanlah sikap yang bijak. Umat Islam dianjurkan untuk memperkuat iman, meningkatkan amal, dan tidak larut dalam spekulasi yang belum tentu memiliki dasar ilmiah yang kuat.