Kisah Seorang Musisi Hancurkan Saham United Airlines lewat Sebuah Lagu
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
20 - Oct - 2024, 03:25
JATIMTIMES - Pada tahun 2008, musisi Dave Carroll mengalami kejadian yang tidak terduga saat terbang dengan United Airlines. Insiden tersebut akhirnya membawa Carroll membuat salah satu tindakan paling unik dalam dunia layanan pelanggan, yang merusak reputasi United Airlines secara global.
Melalui sebuah lagu yang viral, Carroll menyoroti kelalaian maskapai dalam menangani keluhannya. Lagu itu pun mengguncang nilai saham perusahaan tersebut.
Melansir laporan Good, Minggu (20/10), kejadian bermula ketika Carroll dan bandnya, "Sons of Maxwell," melakukan penerbangan dari Halifax, Nova Scotia, ke Omaha, Nebraska, Amerika Serikat. Saat transit di Chicago, Carroll menyaksikan pemandangan yang mengejutkan. "Seorang wanita di belakang pemain bas kami melihat ke luar jendela dan berkata: 'Ya Tuhan, mereka melempar gitar ke luar,'" kenang Carroll. Rupanya Gitar Taylor kesayangan miliknya, yang bernilai $3.500, terlihat diperlakukan dengan sembarangan oleh kru United Airlines.
Setibanya di Omaha, ketakutan Carroll menjadi kenyataan. Gitar tersebut rusak parah. Setelah upaya berulang-ulang untuk menghubungi layanan pelanggan maskapai, Carroll hanya berhadapan dengan penolakan. Selama sembilan bulan, panggilannya tidak dihiraukan dan dia dipingpong dari satu departemen ke departemen lain tanpa hasil.
Meskipun Carroll menemukan tempat perbaikan yang bisa memperbaiki gitarnya dengan biaya $1.200, United Airlines menolak untuk menanggung biaya tersebut. Bahkan, ketika Carroll akhirnya berhasil berbicara dengan perwakilan maskapai, mereka mengatakan bahwa ia terlambat mengajukan keluhan dan seharusnya melaporkan insiden tersebut keesokan harinya setelah tiba.
Frustrasi dan merasa diabaikan, Carroll memutuskan untuk merespons dengan cara yang tidak biasa. Alih-alih menyerah, ia memutuskan untuk menyalurkan kekesalannya melalui musik. Ia menulis lagu berjudul "United Breaks Guitars" dan merilis video musiknya di YouTube.
Lagu "United Breaks Guitars" dengan cepat menjadi viral. Dalam waktu lima hari setelah dirilis, video tersebut telah ditonton jutaan kali dan menarik perhatian dunia. Lagu tersebut menceritakan seluruh pengalaman frustrasi Carroll terhadap United Airlines dari insiden di bandara hingga kegagalan maskapai untuk merespons keluhannya.
"Kamu harus memperbaiki apa yang kamu hancurkan," nyanyi Carroll dalam video musiknya, menyindir maskapai yang dianggapnya bertanggung jawab atas kerusakan gitarnya.
Efeknya sangat dramatis. Hanya dalam waktu singkat, saham United Airlines anjlok hingga 10% dan perusahaan diperkirakan mengalami kerugian finansial sebesar $180 juta. Kerugian ini setara dengan membeli lebih dari 51.000 gitar Taylor seperti milik Carroll.
Bukan hanya itu. Insiden ini juga menjadi salah satu bencana PR terbesar dalam dekade tersebut, mendorong perusahaan-perusahaan untuk memikirkan kembali cara mereka menangani layanan pelanggan.
Video Carroll tidak hanya menghancurkan citra United Airlines, tetapi juga memberikan pelajaran besar bagi industri penerbangan dan perusahaan lainnya. Menurut Marketplace.org, video Carrol mendorong perubahan dalam pendekatan layanan pelanggan di banyak perusahaan, termasuk United Airlines sendiri.
United Airlines akhirnya menawarkan kompensasi sebesar $1.200 untuk perbaikan gitar Carroll, tetapi respons tersebut sudah terlambat. Reputasi maskapai sudah rusak di mata publik. "Video itu menjadi semacam panduan tentang bagaimana berkomunikasi dengan pelanggan," tulis Inc tentang dampak video Carroll.
Insiden ini bahkan membuat maskapai lain lebih berhati-hati. Pada tahun 2013, United Airlines menunda penerbangan penghubung untuk membantu seorang penumpang yang ingin bertemu dengan ibunya yang sakit, tindakan yang jarang terjadi sebelum video viral tersebut.
Cerita Dave Carroll dan lagunya "United Breaks Guitars" menjadi contoh klasik bagaimana sebuah insiden kecil bisa berubah menjadi bencana besar bagi perusahaan besar jika tidak ditangani dengan baik. Dengan kreativitas dan keberanian, Carroll berhasil memperlihatkan betapa pentingnya layanan pelanggan yang responsif. Bagi United Airlines, pelajaran ini datang dengan harga yang mahal, baik dalam hal reputasi maupun finansial.
Dengan lebih dari 19 juta kali ditonton, video tersebut terus mengingatkan perusahaan di seluruh dunia bahwa pelanggan yang tidak puas bisa menjadi ancaman besar jika diabaikan. Seperti kata Carroll dalam lagunya: “United, kamu seharusnya memperbaiki apa yang telah kamu hancurkan.”
