Neo Historia Viral di Medsos Gara-Gara Krisis Keuangan, Begini Kronologinya!

Reporter

Binti Nikmatur

10 - Oct - 2024, 01:58

Potret logo Neo Historia. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Belakangan, media sosial platform X ramai membicarakan Neo Historia, sebuah kanal sejarah yang tengah mengalami krisis keuangan. Kanal ini mengumumkan bahwa situasi keuangan mereka kian memburuk dan hanya bisa bertahan beberapa bulan ke depan. 

Untuk menutupi kekurangan tersebut, Neo Historia memutuskan untuk melakukan penggalangan dana dari masyarakat. Hingga berita ini ditulis, Neo Historia menjadi trending dalam penelusuran Google. Banyak warganet yang mencaritahu kronologi viralnya Neo Historia di media sosial.

Baca Juga : Konsisten Jalankan ESG, Bank Jatim Bangun Citra Positif di Mata Investor 

Untuk diketahui, Neo Historia melakukan open donasi dengan minimal Rp5.000 sejak Jumat, 4 Oktober 2024. Pengumuman ini disampaikan melalui akun media sosial resmi mereka, @neohistoria.id.

“Kami membuka donasi minimal Rp5.000 di trakteer.id/neohistoria. Donasi ini akan membantu kami dalam memenuhi kebutuhan operasional, membayar hutang, dan royalti penulis,” tulis Neo Historia dalam unggahan tersebut.

Keputusan untuk melakukan open donasi ini menuai kritik dari warganet. Mereka berpendapat bahwa sebagai perusahaan berbentuk PT, Neo Historia tidak berhak membuka donasi, mengingat undang-undang tidak mengizinkan PT untuk mengumpulkan sumbangan layaknya yayasan.

Salah satu yang menyoroti masalah ini adalah Hasbil Mustaqim Lubis, Sekretaris Departemen IV DPP Partai Demokrat sekaligus Founder THT Law Firm. Melalui akun X pribadinya, Hasbil mengumumkan bahwa ia telah melaporkan kasus ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Sosial (Kemensos).

“Saya sudah kirim email ke OJK dan Kemensos terkait open donasi Neo Historia. Saya melakukannya sesuai prosedur agar jika ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya, sudah ada dasar hukumnya,” tulis Hasbil.

Ia juga menegaskan bahwa jika Neo Historia mengakui kesalahan dan bersedia mengembalikan uang donasi, ia tidak akan membawa kasus ini lebih jauh.

Tak hanya Hasbil, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo, melalui akun X pribadinya juga memberikan pandangan kritis. Menurutnya, tindakan Neo Historia membuka donasi untuk kepentingan operasional perusahaan sangat tidak etis. 

“Mengumpulkan dana dari masyarakat untuk operasional perusahaan adalah langkah yang tidak wajar dari sudut pandang etika bisnis,” ujar Prastowo.

Ia juga menjelaskan bahwa perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan seharusnya mencari pendanaan melalui jalur korporasi yang sah, seperti penerbitan obligasi, atau mengambil langkah hukum seperti pengajuan kepailitan. Selain itu, Prastowo mengingatkan bahwa undang-undang mengatur dengan ketat siapa yang boleh menghimpun dana dari masyarakat. 

“Hanya entitas tertentu yang memiliki izin dari OJK, seperti bank, asuransi, atau platform crowdfunding, yang berhak mengumpulkan dana dari publik,” tambahnya.

Prastowo juga menyinggung aspek perpajakan dari donasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa meskipun uang yang dikumpulkan dianggap sebagai sumbangan, dalam beberapa kasus, donasi tetap bisa dianggap sebagai penghasilan yang terutang pajak dan wajib dilaporkan dalam SPT Tahunan perusahaan.

Merespons berbagai kritik tersebut, Neo Historia mengunggah laporan pertanggungjawaban kepada publik. Pihaknya mengklaim bahwa open donasi yang dilakukan berkerja sama dengan pihak ketiga untuk melakukan audit.

“Sebagai wujud dari tanggung jawab kami dan untuk mempertahankan kepercayaan yang telah Anda titipkan, kami menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan. Laporan ini dapat Anda akses secara langsung melalui tautan berikut: https://bit.ly/4ew2sZj. Kami berharap laporan ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai aliran dan pengelolaan dana yang telah Anda amanahkan kepada kami," tulis Neo Historia melalui akun X @neohistoria_id.

Baca Juga : Viral! Seorang Ibu Makan Beras Mentah, Dokter Peringatkan Bahayanya

“Selanjutnya, untuk meningkatkan kredibilitas dan memastikan integritas pengelolaan dana, kami telah mengambil inisiatif dengan menggandeng pihak ketiga independen yang telah diakui dan bersertifikasi oleh negara. Kerja sama ini bertujuan untuk melakukan audit komprehensif terhadap keuangan kami, sehingga seluruh proses pengelolaan dana dapat diawasi dengan ketat dan sesuai dengan standar yang berlaku,” tambah Neo Historia.

Namun, laporan yang disampaikan oleh Neo Historia tersebut masih menuai kritik dari warganet. Beberapa menilai dana tidak terinci dengan baik. Apalagi tersebar kabar bahwa keuangan Neo Historia menjadi carut marut karena pemimpin Neo Historia, Daniel Limantara, telah menyalahgunakan keuangan untuk kebutuhan pribadi.

Sejarah Berdirinya Neo Historia

Neo Historia dikenal luas melalui konten sejarahnya yang menarik di media sosial, terutama platform X (sebelumnya Twitter). Kanal ini didirikan oleh Daniel Limantara pada tahun 2019 dengan tujuan membuat sejarah lebih mudah dipahami dan menarik bagi generasi muda. Neo Historia menyajikan narasi sejarah yang kreatif dan relevan, membuatnya populer di kalangan berbagai lapisan masyarakat.

“Kami berdedikasi untuk terus menyediakan konten sejarah yang edukatif dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Daniel Limantara.

Ia menambahkan bahwa interaksi Neo Historia di media sosial, terutama di platform X, bertujuan untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap sejarah.

Siapa Sosok di Balik Neo Historia?

Daniel Limantara, yang lahir di Medan pada tahun 1999, adalah pendiri sekaligus direktur utama PT Neosphere Digdaya Mulia, perusahaan yang menaungi Neo Historia.

Daniel, yang kini berusia 25 tahun, mendirikan Neo Historia pada Juli 2019. Sebelumnya, ia memiliki pengalaman sebagai Creative Manager di Denis Authentic Leather dan Event Manager di The Manhattan Condominium. Selain itu, ia juga terlibat dalam bisnis minuman melalui Lancester Royal Beverages dan Kalendeo.

Namun, perjalanan karier Daniel tidak lepas dari kontroversi. Ia sempat dikabarkan menyalahgunakan dana operasional Neo Historia dan royalti penulis untuk kebutuhan pribadinya, seperti membayar cicilan apartemen.

Menurut pernyataan resmi dari Neo Historia, sejak November 2022, akses Daniel terhadap keuangan perusahaan telah dibatasi dan pengelolaan dana diambil alih oleh Direktur Operasional perusahaan.