Mengenal "Bekingan Putih", Sosok Astral yang Diklaim Kerap Jadi Pegangan Para Pejabat

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

02 - Sep - 2024, 12:45

Ilustrasi sosok Bekingan Putih. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Di kalangan masyarakat Indonesia, terutama yang masih memegang teguh kepercayaan tradisional, keberadaan makhluk-makhluk astral bukanlah hal asing. Salah satu yang menarik perhatian adalah fenomena "Bekingan Putih", yang sering dikaitkan dengan para pejabat dan tokoh penting dalam masyarakat. 

Apa sebenarnya "Bekingan Putih"? Mengapa makhluk astral ini disebut-sebut menjadi "pegangan" bagi mereka yang berada di posisi berkuasa. 

Baca Juga : Dari Tegalrejo ke Medan Perang: Peran Sentral Ratu Ageng dalam Perjuangan Pangeran Diponegoro

Apa Bekingan Putih

Menurut Amaaisan, seorang spiritualis dari Kisah Tanah Jawa, "Bekingan Putih" ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, bahkan sejak era kerajaan di Nusantara. "Bekingan" sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makhluk gaib yang dijadikan pegangan oleh raja atau prajurit untuk berbagai kepentingan, salah satunya adalah ketika hendak "babat alas" atau membuka hutan. 

"Bekingan putih ini sudah ada sejak zaman baheula dulu. Kita sebut mulai dari jaman kerajaan ya," ujar Amaaisan, dilansir akun X resmi Kisah Tanah Jawa, Senin (2/9/2024). 

Pada masa itu, kata Amaaisan sangat wajar bagi seorang raja atau prajurit memiliki "bekingan" untuk melancarkan berbagai tugas berat, seperti membangun peradaban di wilayah yang belum terjamah.

Bayangkan saja, di zaman dahulu kala, ketika alam masih sangat liar, tentu beresiko besar bagi manusia "polosan" untuk melakukan misi besar seperti membuka lahan. Dalam konteks inilah, "bekingan" dianggap sebagai pelindung yang memungkinkan manusia untuk melaksanakan niat baiknya tanpa gangguan dari makhluk halus atau energi negatif yang ada di alam.

"Bekingan Putih" adalah entitas atau jin yang sudah "ditaklukkan" dan dengan sukarela memilih mengikuti manusia yang menjadi tuannya. Keberadaan "Bekingan Putih" ini lebih ditujukan untuk hal-hal positif, seperti melindungi dan menambah kekuatan tuannya. 

"Sesungguhnya bekingan putih adalah entitas atau jin yang sudah ditaklukkan dan bahkan dengan sukarela mau mengikuti manusia (tuannya, penakluknya, dsb)," jelas Amaaisan.

Kenapa disebut "putih"? Menurut Amaaisan, sebutan "putih" lebih merujuk kepada tujuan keberadaannya yang baik, tidak digunakan untuk hal-hal negatif atau merugikan orang lain. "Karena tujuan keberadaannya lebih ke hal positif: melindungi dan menambah kekuatan tuannya," tambahnya.

Ketika jin ini memilih untuk mengikuti seseorang, biasanya ia akan diberikan "rumah" atau tempat tinggal oleh tuannya. Ini bisa berupa senjata, batu, perhiasan, atau bahkan bagian tubuh tuannya sendiri, seperti rusuk, tulang belakang, tangan, atau kaki.

Wujud Bekingan Putih 

Menurut cerita yang berkembang, "Bekingan Putih" memiliki wujud yang beragam. Ada yang menyerupai manusia, ada juga yang berbentuk hewan atau gabungan antara manusia dan hewan, mirip dengan apa yang biasa kita sebut sebagai "siluman". Meskipun begitu, tidak ada ritual khusus yang dilakukan ketika "Bekingan Putih" ini memilih untuk mengikuti seseorang dengan sukarela. Namun, jika seseorang yang meminta atau mencari entitas ini, prosesnya bisa menjadi jauh lebih rumit.

"Bekingan putih itu punya berbagai macam rupa dan bentuk jadi sangat variatif. Tapi kalau boleh dikelompokkan kebanyakan memang menyerupai manusia, berbentuk hewan, atau setengah hewan dan manusia atau mix yg biasa kita sebut ‘siluman’,” kata Amaaisan.

Dia juga mengungkap fakta bahwa ternyata, "Bekingan Putih" bisa didapatkan melalui beberapa cara. Salah satunya adalah melalui warisan turun-temurun dari keluarga. Selain itu, seseorang juga bisa mendapatkannya melalui bantuan dukun, atau melalui perjalanan spiritual. Namun, di zaman sekarang, keberadaan "Bekingan Putih" tidak lagi sepopuler dulu. Banyak orang sekarang lebih mengenalnya sebagai "khodam penjaga".

Baca Juga : Acara Maulid Nabi, Gus Iqdam Sebut Khofifah Teladan Pemimpin

Mungkin ada yang bertanya, "Apakah setiap orang memiliki khodam penjaga?" "Jawabannya tidak! Dengan terkikisnya budaya dan keyakinan mengenai hal gaib, keberadaannya bak angin sore hari, tipis." Jawab Amaaisan. 

Khadam Modern

Di era modern, kepercayaan terhadap hal-hal gaib memang semakin berkurang. Namun, bukan berarti entitas seperti "Bekingan Putih" atau khodam penjaga ini tidak ada lagi.

Menurut Amaaisan, entitas ini tidak bisa sembarangan diwariskan atau dilepas ke orang lain, termasuk ke keturunan tuannya. "Jadi ibarat socket kemarin ya, kalau pas ya pas kalau engga ya rusak," tambahnya. Artinya, tidak semua orang bisa mewarisi atau mendapatkan entitas ini, meskipun mereka berada dalam garis keturunan yang sama.

Di zaman sekarang, "Bekingan Putih" lebih banyak dimanfaatkan untuk melindungi seseorang dari ancaman kejahatan, seperti pencurian atau begal. Ada juga yang menggunakannya untuk tujuan "pengasihan" atau menambah wibawa dan kharisma.

Namun, memiliki "Bekingan Putih" juga bisa membawa dampak tertentu pada manusia, salah satunya adalah kelelahan. Hal ini terjadi karena "Bekingan Putih" mendapatkan energi dari energi spiritual yang ada dalam tubuh manusia.

"Dengan memiliki ‘bekingan putih’ manusia menjadi mudah lelah karna salah satu makanan mereka adalah energi spiritual yang ada di tubuh," jelas Amaaisan.

Jika ditanya apakah boleh memiliki "Bekingan Putih", Amaaisan dengan tegas menyatakan bahwa ini adalah keputusan pribadi. Setiap orang memiliki keyakinan yang berbeda tentang hal-hal gaib, sehingga kembali pada kepercayaan masing-masing. 

"Jadi apakah kita boleh punya bekingan putih? balik lagi kepada masing-masing, udah pada gede kan ya klean!?" ucap Amaaisan menutup penjelasannya.

Keberadaan "Bekingan Putih" tetap menjadi bagian dari kepercayaan tradisional yang terus berkembang di masyarakat, meskipun tidak lagi setenar dulu. Bagi yang masih percaya, entitas ini dianggap bisa memberikan perlindungan dan kekuatan, sementara bagi yang tidak percaya, itu hanyalah mitos belaka.