Ramai 'Clash of Champions' Tiru 'University War' di Korea Selatan, Program Apa Itu?
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
20 - Jul - 2024, 12:47
JATIMTIMES - Belakangan ini, program Clash of Champions (COC) dari Ruangguru menjadi sorotan. Di tengah popularitasnya, beberapa warganet menyoroti program tersebut yang terinspirasi dari program asal Korea Selatan, University War.
Untuk diketahui, program COC ini menguji kemampuan peserta dalam bidang matematika, deduksi, dan hafalan melalui berbagai tantangan. Peserta tidak hanya bersaing dengan pelajar unggulan dari dalam negeri, tetapi juga dengan mahasiswa dari universitas ternama di luar negeri seperti NUS, NTU, KAIST, dan Oxford University.
Baca Juga : Pasar Sepeda Kota Blitar Sepi, Hanya 4 Pedagang yang Bertahan
Lantas seperti apa konsep University War yang ditirukan COC? Menurut Felicia Putri Tjiasaka, seorang investment storyteller, content creator, dan pengusaha di industri keuangan dan investasi, University War ini 10 kali lipat lebih sulit dibandingkan COC. "Tidak heran, pendidikan Korea Selatan memang salah satu yang terbaik di dunia," ujarnya.
Melansir mean scores for Pisa 2022, Korea Selatan menduduki peringkat tinggi di berbagai bidang:
- Reading: Peringkat 4, setelah Singapura, Irlandia dan Jepang
- Matematika: Peringkat 6, setelah Singapura, Macau, Taiwan, Hong Kong dan Jepang
- Science: Peringkat 5, setelah Singapura, Jepang, Macau dan Taiwan
Namun, kata Felicia, ada harga yang harus dibayar dari murid di Korea Selatan. Di mana mereka rata-rata belajar selama 16 jam sehari. Murid di Korea Selatan menghabiskan 8 jam untuk kelas reguler, 4 jam untuk les privat atau hagwon, dan 4 jam belajar malam di sekolah atau yaja.
Karena hal itulah berdampak pada kesehatan mental siswa. Menurut Felicia, sebanyak 46% siswa di Korea Selatan mengaku mengalami depresi dan stres. Imbasnya, tingkat bunuh diri di Korea Selatan menjadi yang tertinggi di dunia.
Baca Juga : Permudah Layanan Kesehatan, Pemkot Surabaya Sediakan 1 RW 1 Nakes dan 1 Ambulans Kelurahan
Meski demikian, pemerintah Korea Selatan pun memiliki cara unik untuk mencegah hal ini. Misalnya, mereka memasang pagar pembatas yang tinggi dan cekung di jembatan agar sulit dijangkau.
Selain itu, Korea Selatan juga membuat kelas seolah-olah para siswa merasakan kematian dengan photoshoot untuk pemakaman dan masuk dalam peti mati. Mereka bahkan memproduksi TV series seperti Death's Game untuk menakut-nakuti orang dengan karma buruk akibat tindakan mereka.
Pendidikan di Korea Selatan memang memiliki keunggulan luar biasa, namun tekanan yang dihadapi para siswa juga sangat besar. Seimbangkan antara prestasi akademik dan kesehatan mental menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh sistem pendidikan di negara ini.
