Kisah Putri Rasulullah, Punya Kaitan dengan Asal-usul Keranda Jenazah 

26 - Apr - 2024, 04:48

Ilustrasi (idpngtree)

JATIMTIMES - Putri Rasulullah SAW, yakni Fatimah Az Zahra merupakan sosok wanita yang dijuluki pemimpin perempuan umat Islam dan teladan terbaik bagi kaum perempuan di dunia. Selama hidup hingga akhir hayatnya, ia masih menjaga kehormatannya.

Pada waktu-waktu akhir wafatnya Fatimah inilah, menjadi awal dari adanya keranda jenazah seperti yang banyak digunakan umat Islam. 

Baca Juga : Cegah Kebocoran, DPRD Kota Malang Usul Juru Pungut Parkir Ditiadakan

Kisahnya bermula saat Fatimah tengah sakit. Saat itu Asma Bintu Umais RA datang menjenguk Fayimah yang sudah di ambang akhir hayatnya. Kemudian, Fatimah berkata kepada Asma bahwa ia malu ketika harus keluar di hadapan lelaki meskipun telah meninggal.

"Wahai Asma, aku begitu malu ketika harus keluar besok hari di hadapan para lelaki (ketika aku telah meninggal) dan tubuhku dibawa di atas peti mati (keranda)".

Saat itu, keranda ini hanya berbentuk sebuah papan kayu datar yang terbuka. Tubuh mayit ini kemudian diletakkan di atasnya dan selanjutnya hanya ditutupi lagi oleh sebuah kain. Hal tersebut membuat Fatimah malu, jika sampai lekuk tubuhnya terbentuk dalam kain dan dilihat oleh para lelaki.

"Sesungguhnya aku merasa malu dengan apa yang terjadi untuk para wanita ketika mereka dipakaikan sebuah kain kafan, maka kafan itu membentuk tubuhnya" kata Fatimah.

Mendengar hal ini, Asma kemudian berkata kepada Fatimah. "Wahai putri Rasulullah, maukah aku kabarkan kepadamu sebuah peti mati yang aku lihat di Habasyah?"

Dari hadits riwayat Abu Nu'aim Al-Asbahani pada Hilyah Al-Aulia 2/43, Fatimah pun menjawab dan berkata kepada Asma. "Semoga Allah menutup auratmu sebagaimana engkau telah berusaha untuk menutup auratku". 

Baca Juga : Mobil Tesla Model Y Dapat Deteksi Hantu, Benarkah?

"Betapa indahnya buatanmu ini, sehingga wanita yang meninggal bisa dibedakan dengan lelaki yang meninggal. Jika aku mati, maka mandikanlah diriku bersama Ali".

Kemudian Asma membuatkan sebuah peti mati yang semua sisi ditutupi dengan sebuah penutup. Entah saat itu penutup yang dimaksud apakah sebuah kain atau kardus.

Setelah itu, peti mati tersebut kemudian ditutupi lagi dengan sebuah kain luas, sehingga tubuh mayit nantinya tidak akan tersifati atau terlihat lagi lekuk tubuhnya. Upaya Asma ini kemudian membuat Fatimah sangatlah bahagia, sampai akhir hayatnya ia menjaga kehormatannya.

Apa yang dilakukan Fatimah, tentunya juga atas penanaman sifat baik dan ajaran yanh diberikan oleh Rasulullah SAW. Hadits riwayat Bukhari, "Rasa malu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan" (HR Al-Bukhari)