Menelusuri Jejak Tradisi Malam Tujuh Likur Masyarakat Madura
Reporter
Mutmainah J
Editor
A Yahya
05 - Apr - 2024, 05:18
JATIMTIMES - Indonesia merupakan negara dengan sejuta tradisi yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Sebagai negara dengan pemeluk agama Islam paling banyak, tradisi yang dipraktikkan ini disisipkan dengan nilai-nilai keislaman. Sehingga praktik tersebut diistilahkan sebagai tradisi Islam masyarakat lokal.
Setiap tradisi keislaman yang dipraktikkan di setiap daerahnya memiliki keunikan yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan spirit agama kita adalah plural.
Baca Juga : Asal-Usul Tradisi Salam Tempel yang Identik dengan Lebaran di Indonesia
Salah satu tradisi yang ada di Indonesia seperti Malam Tujuh Likur yang hingga saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Madura. Lantas seperti apa tradisi malam tujuh likur yang saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Madura?
Dilansir dari berbagai sumber dan juga tebuireng.online, Saat tiba malam ke-21 dan ke-27 atau kalau dalam penamaanya di Madura disebut “malem selekoran & petho’ lekoran” di bulan Ramadan. Pada malam ke-21 masyarakat pedesaan di Madura berbondong-bondong membuat kue semacam serabi dan dadar gulung yang kemudian disiram dengan kolak pisang atau ubi di dalamnya.
Dan untuk malam ke-27, masyarakat pedesaan pada umumnya juga tak jauh beda dengan malam ke-21 sebelumnya, hanya saja serabi itu diganti dengan beras ketan. Setelah hidangan pun jadi, maka hidangan tersebut akan dibawa ke masjid terdekat dari rumahnya yang kemudian akan dibagikan kepada masyarakat sekitar lagi ketika seusai salat tarawih dan tadarus.
Selain itu, masyarakat Madura juga akan membuat ketan yang dibungkus dengan daun pisang. Ketan ini nanti saat buka puasa akan disantap menggunakan kuah kolak pisang.
Dari situlah kita dapat mencicipi hidangan dari tetangga sekitar, dan secara tidak langsung juga akan ada bentuk toleransi sesama umat Islam, karena yang seperti kita ketahui bersama rasa toleransi itu timbul bukan hanya antar umat beragama tetapi juga sesama umat Islam itu sendiri.
Berdasarkan argumentasi penduduk setempat, tradisi serabi menyambut malam selikuran ini sudah berjalan turun temurun dengan maksud menyambut malam mulia Lailatur Qadar yang jatuh pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.
Baca Juga : 5 Cara Menghancurkan Lemak Membandel di Perut dari Ahli Diet
Malam selikur menjadi sejarah yang mengingatkan umat Islam pada peristiwa turunnya Nabi Muhammad SAW dari gua Hira di Jabal Nur setelah wahyu pertamanya dari malaikat Jibril pada malam 17 Ramadan yang dikenal dengan Nuzulul Quran.
Pada malam 21 turunnya Nabi dari gua Hira ini, para sabahat menggunakan obor untuk menerangi Nabi sepanjang jalan menuju rumah. Hal ini oleh sebagian masyarakat diperingati dengan cara kirab obor di malam selikuran.
Sedangkan kue serabi sebagai ungkapan syukur menyambut Lailatul Qadar sebagaimana yang dilakukan para sahabat yang menyediakan makanan untuk Nabi sepulang dari Jabal Nur. Sehingga sampai saat ini, tradisi kue serabi masih dilestarikan di berbagai daerah di Madura.
Sisi lain yang dapat kita petik dalam pelaksanaan tradisi tersebut adalah bentuk cinta kedamaian antar bertetangga sebagai umat islam rahmatan lil ‘alamiin.
