Penjelasan BMKG Soal Suhu Terasa Panas Meski Sudah Masuk Musim Hujan

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

21 - Dec - 2023, 03:58

Beberapa faktor yang menyebabkan panas terik meski masuk musim hujan. (Foto: Instagram @infobmkg)

JATIMTIMES - Cuaca panas yang melanda kawasan Jawa, salah satunya di Kota Malang hingga 31 derajat ramai menjadi pertanyaan publik. Hal ini menjadi sorotan karena Desember 2023 dinilai sudah memasuki musim hujan. 

Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa memang kondisi musim penghujan di Indonesia berjalan tidak merata. Sehingga, bisa dikatakan wajar bila suhu masih terasa panas meski sudah masuk musim hujan.

Baca Juga : Kelakar Zulhas Tasyahud Dua Jari, Alissa Wahid: Pelanggaran Kampanye Pemilu

Dilansir dari postingan Instagram resminya, Kamis (21/12/2023), BMKG menjelaskan kondisi suhu panas dan cuaca terik pada siang hari masih akan menimpa wilayah di sekitar selatan ekuator. Wilayah itu termasuk Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Berikut ini beberapa faktor yang menjadi penyebab panas masih menyengat di musim hujan:

• Aktivitas pola tekanan rendah di sekitar Laut Cina Selatan.

• Berkurangnya aliran massa udara basah ke arah selatan ekuator.

• Kandungan uap air sedikit di selatan ekuator.

• Kurangnya pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara.

• Sinar matahari intens atau optimum menyorot langsung ke permukaan Bumi di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara

Baca Juga : Arie Kriting Soroti Klarifikasi PAN Yang Samakan Pernyataan Zulhas dengan UAS 

Demikian beberapa alasan suhu panas masih menyengat meski di musim hujan. Selain itu, BMKG menyebut jika selain Jawa hingga Nusa Tenggara ada beberapa wilayah yang mengalami kondisi hujan. Bahkan dalam sepekan terakhir hujan intensitas lebat terus terjadi di wilayah Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Hal ini berkaitan beberapa penyebab seperti pola tekanan rendah di sekitar Laut Cina Selatan dan terbentuknya pola pertemuan serta belokan angin. Sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan pertumbuhan awan hujan di sekitar Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Pola tekanan rendah di Laut Cina Selatan tersebut masih dapat berlangsung dalam 3-4 hari ke depan. Usai jangka waktu itu, BMKG memprakirakan adanya potensi hujan di Jawa dan Nusa Tenggara mulai 23 Desember 2023. 

"Tetap waspada terhadap kemungkinan potensi cuaca ekstrem selama periode Nataru 2023/2024,"tulis keterangan Instagram BMKG.