Abdullah bin Ubay, Sosok Manusia Munafik di Zaman Rasulullah
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
14 - Dec - 2023, 04:46
JATIMTIMES - Di zaman Rasulullah SAW, terdapat sosok orang yang sebenarnya munafik namun mengaku beriman kepada Allah SWT. Kisahnya pun menjadi salah satu sebab turunnya ayat Alqur'an Surat At Taubah ayat 68.
Dalam surat tersebut, Allah SWT begitu melaknat orang-orang munafik. Allah SWT berfirman, "Allah telah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang kekal".
Baca Juga : Besok Malam, Hadiri Malang Bersholawat Bersama Habib Novel Alaydrus di NK Cafe
Dalam sebuah sabda-Nya, Rasulullah SAW juga menegaskan agar umat muslim menjauhi sifat-sifat munafik. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda,
"Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: jika diberi amanat, khianat; jika berbicara, dusta; jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; jika berselisih, dia akan berbuat zalim."
Sosok Abdullah bin Ubay sendiri, dari sebuah buku Kisah Orang-orang Sabar oleh Nasiruddin S.Ag. MM, merupakan gembong munafik yang pertama. Meskipun ia mengakui sebagai muslim, namun hatinya begitu penuh dengan dendam. Ia sangat membenci Rasulullah SAW.
Abdullah bin Ubay juga pernah menjadi penguasa Madinah. Hal ini yelah disepakati oleh suku Khazraj dan Aus. Bahkan untuk memuliakannya, dibuat sebuah mahkota untuk Ubay.
Tetapi, Abdullah bin Ubay kemudian batal dijadikan pemimpin Madinah. Bahkan, banyak orang-orang kini meninggalkan Ubay. Dari sinilah kemudian rasa dendam Ubay muncul terhadap Rasulullah SAW. Ubay menganggap Rasulullah SAW penyebab Ubay tak bisa memimpin Madinah.
Lantas Abdullah bin Ubay kemudian melakukan berbagai cara untuk memecah belah umat muslim, seperti melakukan perbuatan fitnah kepada Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW yang mendapatkan fitnah, membuat sahabat, yakni Umar bin Khattab marah. Bahkan Umar meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk membunuhnya. Tetapi, Rasulullah SAW tidak mengizinkannya.
"Tak layak melakukan itu, karena orang akan berkata, Muhammad telah membunuh sahabatnya sendiri," kata Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW tetap tenang dalam menghadapi fitnah Ubay. Hal ini justru membuat ubay semakin geram dan kemudian kembali melancarkan fitnah-fitnah kepada Rasulullah SAW.
Dan satu ketika, saat terjadi perang Bani Mustaliq, Abdullah bin Ubay kembali melancarkan aksinya untuk mengadu domba kedua kelompok, yakni kaum Muhajirin dan Anshor. Dikalangan mereka mulai muncul saling ketidakpercayaan satu sama lain.
Baca Juga : Majelis Umum PBB Sepakati Resolusi Gencatan Senjata di Gaza
Sampai akhirnya muncul kabar bahwa Rasulullah SAW akan menghukum mati Abdullah bin Ubay. Kabar inipun terdengar oleh anak Ubay, yang memiliki sifat yang berbeda dengan ayahnya.
Abdullah bin Abdullah bin Ubay ini merupakan sosok yang taat beribadah. Ia kemudian datang kepada Rasulullah SAW, dimana saat itu memohon izin untuk membunuh sang ayah.
"Wahai Rasul, jika diputuskan bahwa ayah saya harus dihukum mati, saya mohon biarlah saya sendiri yang menjalankan eksekusi. Karena bila orang lain yang menjalankan, saya khawatir berdasarkan emosi kesukuan orang Arab dan sentimen keterikatan anak ayah, akan memunculkan dendam di hati. Bila hal itu terjadi, sangat mungkin dapat mendorong saya melakukan balas dendam yang menyebabkan hidup saya menjadi sia-sia."
Rasulullah SAW menanggapinya dengan senyum. "Tak ada niat saya seperti itu. Saya akan berlaku lunak kepadanya."
Dari sini, diketahui bahwa Rasulullah tidak mempunyai niat untuk membunuh Ubay, meskipun ia merupakan golongan yang munafik. Dari sikap bijak Rasulullah ini semakin menarik simpati umat.
Sebaliknya, Ubay kemudian malah mendapatkan banyak cemoohan. Banyak mereka yang menghujat Ubay sebagai orang munafik dan begitu hina dimata umat. Bahkan sang anak pun juga tak peduli kepadanya.
