Mengenal Kepulauan Cocos, 'Saudara Sedarah' Indonesia yang Terlewatkan

Reporter

Mutmainah J

14 - Aug - 2023, 02:02

Pulau Cocos. (Foto screenshot)

JATIMTIMES - Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau di dalamnya. Dari banyaknya pulau itu, apakah kamu pernah mendengar Pulau Cocos?

Mungkin sebagian besar di telinga kita nama kepulauan Cocos masih terdengar asing.

Baca Juga : Balaikota Performance Art, Cara Pemkot Kediri Wadahi Kreativitas Seniman

Mungkin juga tak banyak yang tau letaknya kepulauan Cocos, apalagi apa yang ‘terkandung’ di pulau tersebut.

Dilansir dari akun Tiktok @Good News From Indonesia, kepulauan Cocos merupakan kepulauan kecil atau  yang terdiri dari 27 pulau Koral dan 2 pulau Atol.

Kepulauan Cocos terletak 1000 km dari Jakarta, sebelah selatan Pulau Jawa, dan 2800 km dari Perth, Australia.

Kepulauan ini masuk dalam teritori negara Australia sejak tahun 1955.

Pulau ini juga dihuni oleh setidaknya sebanyak 600 orang penduduk.

Penghuni kepulauan Cocos didominasi muslim, yaitu sebanyak 90%, dan masyarakatnya beretnis Jawa dan Melayu.

Para penghuni kepulauan tersebut merupakan keturunan dari para pekerja yang didatangkan oleh Inggris dari Jawa pada abad ke 19 untuk bekerja di perkebunan yang berada di pulau tersebut.

Sebagian besar penduduknya adalah campuran orang Melayu dan Jawa, sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu.

Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris lah yang akhirnya digunakan oleh masyarakat setempat sebagai bahasa resmi dari Kepulauan Cocos.

Konon, para keturunan Jawa ini masih memegang budaya Jawanya. Bahkan di antara golongan tuanya, masih ada (mungkin sedikit) yang masih bisa berbahasa Jawa. Bahkan di dalam logo kepulauan tersebut, terdapat tulisan berbahasa Indonesia "Maju Pulau Kita".

Di kepulauan tersebut ada pula tradisi kesenian dan warisan khas Indonesia, yaitu wayang dan batik.

Baca Juga : Mengenal Tripod Fish, Ikan Laut Unik yang Bisa Berdiri dengan Tiga Kaki

Bahkan, di Kepulauan Cocos terdapat sebuah museum yang berisi peninggalan-peninggalan bersejarah milik negara.

Wayang di kepulauan tersebut dibuat dari bahan kulit ikan hiu yang sudah kering.

Dalang terakhir yang mementaskan wayang di Kepulauan Cocos bernama Mbah Itjang, yang wafat pada tahun 1949.

Kesenian wayang kulit di Kepulauan Cocos diadopsi menjadi sebuah gambar dalam perangko nasional Australia.

Selain wayang, ada juga batik, yang di kepulauan tersebut hanya digunakan pada saat pernikahan.

Kesenian khas Indonesia yang ada di Kepulauan Cocos tak lepas dari para keturunan Jawa yang menjadi penghuni di pulau tersebut.

Dari segi hiburan di media elektronik pula, siaran televisi di pulau ini pun sama dengan di Indonesia.

Hal ini dikarenakan letak Kepulauan Cocos yang lebih dekat dengan Indonesia, maka saluran televisi yang ada di pulau tersebut sama seperti yang ada di Indonesia, termasuk sinetron dan acara televisi lainnya.