Kwangwung Jadi Topik Seru Diskusi Petani Kelapa: Dari Populasi Tupai, Potongan Rambut hingga Tembakau

Reporter

Anang Basso

Editor

Dede Nana

15 - Jul - 2023, 02:25

Slamet Soedarsono bersama Imam Suyadi/ Foto : Anang Basso/ Tulungagung Times

JATIMTIMES - Upaya pemberantasan hama kelapa jenis Oryctes rhinoceros (kwangwung) menjadi topik hangat diskusi petani kelapa dengan pihak terkait. Ada yang menarik dalam diskusi ini, yaitu pernyataan audien Imam Suyadi dari Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung.

Menurut pria yang merupakan dosen teknik sipil di salah satu universitas di Kabupaten Tulungagung ini, keseimbangan alam akibat ulah manusia yang menyebabkan kwangwung tumbuh subur. Tupai diburu dan populasinya pun semakin berkurang.

Baca Juga : Minimarket Menjamur Ancam Pasar Tradisional, Komisi I DPRD Situbondo: Perda 13 Harus Dievaluasi

"Tidak adanya keseimbangan ini menjadi salah satu penyebab kwangwung leluasa beranak pinak," kata Suyadi.

Ia menegaskan, para pemburu menjadi salah satu penyebab ketidakseimbangan ini. "Kalau ada kelapa dan kwangwung, tupai akan lebih dahulu memakan kwangwung. Jadi semakin berkurangnya populasi tupai, memberi kesempatan semakin berkembangnya hama kelapa ini," ujarnya.

Selain itu, tempat-tempat kotor disebut menjadi lokasi berkembangnya kwangwung. "Misanya, di batang pohon yang membusuk. Ini hingga masuk ke tanah akan menjadi sarang kwangwung," imbuhnya.

Lahan perkebunan Imam Suyadi yang luas di Desa Pinggirsari, menjadi laboratorium alam yang ia gunakan untuk melakukan banyak penelitian. "Misalnya saat ada embug (larva), disemprot dengan obat apapun sulit untuk hilang. Namun, kemudian saya mencoba menaburkan potongan rambut sisa cukuran di batang pohon alpukat milik saya, ternyata larva ini tidak berani memakan," ungkapnya.

Penelitian Imam Suyadi ini merupakan tawaran pada dinas terkait sebagai salah satu alternatif penyelamatan kelapa di masa yang akan datang. Senada dengan Suyadi, kepala desa dari Tulungagung Sudikan mengatakan, pohon kelapa miliknya banyak yang dapat diselamatkan dengan pemberian tembakau.

"Dengan menyisipkan tembakau disela-sela tapas atau batang daun (bongkok) kelapa, kwangwung tidak menyerang dan masih banyak yang selamat," tuturnya.

Meski pohon kepala miliknya masih bertahan, Sudikan yang merupakan Kepala Desa Rejosari, Kecamatan Kalidawir ini tetap meminta pemerintah agar melakukan pengendalian dan pemberantasan kwangwung secara tuntas.

Secara bergantian, narasumber memaparkan berbagai persoalan yang terjadi di Jawa Timur terkait kwangwung ini. Yang menarik, narasumber dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Hagus Tarno dengan gamblang memaparkan persoalan kwangwung ini.

Ada tiga hal yang dapat dilakukan pemerintah dan petani kelapa, diantaranya pemberantasan, pengendalian dan pengelolaan. "Melihat aspek yang ada di semua ekosistem, maka cara mengelola dengan bijaksana adalah melihat siklus dan cara hidup hama ini," ucapnya.

Baca Juga : Suami Aniaya Istri hingga Babak Belur Malah Bebas, Polisi Anggap Tindak Pidana Ringan  

Menurutnya, cara yang terbaik adalah pengelolaan karena akan mencakup seluruh aspek. "Setelah tahu polanya, pengendalian dengan cara pengelolaan ini yang perlu dilakukan. Misalnya, pola berkembang pada limbah tempat bertelurnya kwawung. Maka, tinggal melakukan upaya pemberantasan atau pengendalian dengan tepat," jelasnya.

Hagus Tarno juga memaparkan berbagai hasil penelitian yang dimungkinkan dapat mengendalikan hama kelapa di masa yang akan datang. "Jika menemukan embuk (larva) yang mati, sebaiknya tidak dibuang namun dikumpulkan untuk diambil organ atau bagian yang penting untuk membuat penangkal hama kwangwung ini," katanya.

Setelah semua persoalan didiskusikan, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tulungagung Wawan Widianto berterima kasih atas diskusi yang dilaksanakan ini. Menurutnya, Kabupaten Tulungagung siap untuk dijadikan pilot projek dalam upaya pengendalian kwangwung ini.

Sementara itu, usai acara Anik Dwi Nastiti, Kepala Bidang Produksi Tanaman Tahunan Dinas Pekebunan Jawa Timur mengaku belum mendapatkan bibit kelapa yang tahan pada serangan hama kwangwung ini.

"Kalau bibit kelapa anti kwangwung memang belum ada, namun kita berharap masyarakat nantinya mendapatkan bibit yang genjah dan kualitas baik untuk penanaman kembali," bebernya.

Kegiatan yang dimotori langsung oleh Slamet Soedarsono Perencana Ahli Utama di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ini, meski serius tetap santai dan penuh kekeluargaan. Oleh karena pentingnya materi dan tujuan kegiatan, audien dan narasumber bersepakat meneruskan diskusi yang belum sepenuhnya tuntas ini dalam forum group WhatsApp yang akan segera dibuat.