Kisah Imam Ahmad Bin Hanbal dan Keajaiban Istighfar Seorang Penjual Roti
Reporter
Mutmainah J
Editor
Nurlayla Ratri
30 - Apr - 2023, 03:57
JATIMTIMES - Dikutip dari berbagai sumber, Imam Ahmad bin Hanbal murid Imam Syafi'i dikenal juga sebagai Imam Hanbali.
Dimasa tuanya Imam Ahmad bercerita suatu waktu tanpa tahu alasannya tiba-tiba ia ingin sekali pergi ke kota di Irak.
Baca Juga : Grebek Syawal 1000 Ketupat, Bupati Kediri Berangkatkan Pawai Ketupat
Padahal pada saat itu, Imam Ahmad tidak memiliki janji ataupun acara dengan siapapun di kota tersebut.
Akhirnya, Imam Ahmad pergi seorang diri ke kota Bashrah, Irak. Kemudian, Imam Ahmad bercerita saat dirinya tiba di sana waktu Isya, kemudian ikut sholat berjamaah Isya di masjid. Ia mengaku saat di sana ia merasa sangat tenang, ia kemudian ingin beristirahat di masjid itu.
Usai selesai sholat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid. Tiba-tiba marbut masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, "Mengapa syekh (panggilan untuk orang tua), mau apa di sini?"
Marbut tersebut tidak mengetahui jika yang ia tegur ialah Imam Ahmad, dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan dirinya pada marbut masjid itu.
Di Irak sendiri semua orang mengenal Imam Ahmad sebagai seorang ulama besar dan ahli hadits. Sosok ulama yang sangat saleh dan zuhud.
Pada zaman itu tidak terdapat foto, sehingga orang tidak tahu wajah Imam Ahmad dan hanya mengetahui namanya saja.
Kembali pada cerita Imam Ahmad yang ditegur oleh marbut Masjid. Imam Ahmad menjawab, "Saya ingin istirahat, saya musafir." Marbut berkata, "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid."
Imam Ahmad melanjutkan ceritanya bahwa pada saat itu, ia didorong-dorong oleh marbut masjid itu diminta untuk keluar.
Lalu, setelah diusir dari dalam masjid, Imam Ahmad ingin tidur di teras masjid. Setelah berbaring, marbut itu kembali datang dan memarahi Imam Ahmad.
Marbut itu mengatakan, "Mau apa lagi syekh?" Imam Ahmad menjawab, "mau tidur, saya musafir." Marbut masjid menimpali, "di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh."
Imam Ahmad diusir untuk kedua kalinya bahkan marbut masjid itu mendorong Imam Ahmad sampai ke jalanan.
Lalu, di samping masjid itu terdapat sebuah rumah milik penjual roti yang sangat kecil dan rumah itu dipakai untuk membuat roti. Penjual roti itu sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbut ke jalan.
Saat Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh dan mengajaknya menginap di rumahnya. Lalu, Imam Ahmad bersedia dengan ajakan menginap itu.
Selanjutnya, Imam Ahmad masuk ke rumah penjual roti itu dan duduk di belakang pemilik rumah yang saat itu sedang membuat roti. Pada saat itu, Imam Ahmad belum memperkenalkan siapa sebenarnya dirinya.
Sementara, perilaku dari penjual roti itu berbeda dari manusia pada umumnya. Dia terus membuat adonan roti sambil membaca istighfar. Penjual roti itu tidak akan berbicara, kecuali diajak bicara baru menjawab seperlunya.
Baca Juga : Dikritik Soal Wanita Berada di Saf Laki-Laki, Panji Gumilang Sebut Gunakan Madzab Soekarno
Ia selalu mengucap istighfar. Saat meletakkan garam membaca Astaghfirullah, memecahkan telur membaca Astaghfirullah, mencampur gandum membaca Aastaghfirullah.
Perilaku penjual roti itu terus diperhatikan oleh Imam Ahmad. Imam Ahmad lalu bertanya pada penjual roti itu "Sudah berapa lama kamu lakukan ini (membaca istighfar setiap saat)?"
Penjual roti itu kemudian menjawab "Sudah lama sekali syekh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan ini."
Imam Ahmad bertanya lagi, "Apa hasil dari perbuatanmu ini?" Penjual roti menjawab, "Hajat yang saya minta pasti dikabulkan Allah, semua yang saya minta kepada Allah langsung diterima."
Penjual roti itu kembali menjawab "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan." Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, "Apa itu?"
Penjual roti menjawab, "Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad."
Seketika Imam Ahmad bertakbir. Kemudian berkata, "Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad ke Bashrah, bahkan sampai didorong-dorong marbut masjid itu sampai ke jalanan karena istighfar yang kamu lakukan."
Lalu, penjual roti itu terperanjat dan memuji Allah, karena ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad. Sosok yang sangat ingin ditemuinya.
Kisah ini menjadi hikmah bahwa istighfar akan membawa kelapangan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Seperti dalam sebuah riwayat:
من أكثر من الاستغفار جعل الله له من كل هي فرجا ومن كل ضيق مخرجا ورزقه من حيث لا يحتسب
Artinya: "Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir- dan sebagian ulama mendhoifkan hadits ini.)
Demikianlah kisah Imam Ahmad dan istighfar penjual roti, semoga kisah tersebut memberikan hikmah tersendiri untuk kita semua mengenai keutamaan dan pentingnya beristighfar.
