Tanah Bergerak Sebabkan Jalan di Dua Desa Ambles, Bupati Sanusi Datangi Lokasi

Reporter

Riski Wijaya

Editor

Yunan Helmy

11 - Oct - 2022, 12:00

Bupati Malang HM. Sanusi didampingi Wabup Malang Didik Gatot Subroto meninjau lokasi tanah ambles di Dampit. (Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Bupati Malang HM. Sanusi meninjau dua desa di Kecamatan Dampit yang mengalami kejadian tanah gerak, Senin (10/10/2022) pagi. Yakni di Desa Sukodono dan Desa Jambangan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun JatimTIMES, peristiwa yang mengakibatkan tanah longsor itu bermula hujan lebat yang turun sejak Sabtu (8/10/2022) pukul 17.00 WIB. Hujan lebat yang turun berlangsung selama semalam suntuk. 

Baca Juga : Bupati Tulungagung Pastikan Belanja Tak Terduga Selalu Tersedia dan Bisa Digunakan Sewaktu-waktu

Di Desa Sukodono, diketahui tanah yang ambles kurang lebih sekitar sepanjang 50 meter. Dan hal tersebut mengakibatkan turut amblesnya jalan pemukiman dari rabat beton sepanjang 25 meter. 

Sementara itu, di Desa Jambangan juga terjadi peristiwa serupa yang juga diawali hujan sejak Sabtu (8/10/2022) pukul 18.00 WIB. Kondisi hujan yang berlangsung selama semalam suntuk itu mengakibatkan tanah longsor. 

Tanah longsor tepatnya di belakang rumah Sulis, warga Dusun Jegong RT 10 RW 3 Desa Jambangan Kecamatan Dampit. Saat itu, Minggu (9/10/2022) pukul 06.00 WIB, Sulis mendapati belakang rumah tepatnya di tempat kandang sapi yang dibangun semi permanen sudah terseret tanah longsor.

"Kemarin ada tanah ambles bergerak, maka kita datangi, apa yang bisa dibantukan untuk masyarakat supaya jalannya jadi bagus kembali. Sementara kalau tanah bergerak ini tidak bisa diprediksi, karena ini memang alam. Dicari penyebabnya, gali ke dalam, ada apanya di dalam," ujar Bupati Malang, HM. Sanusi saat meninjau di Desa Sukodono, Senin (10/10/2022) pagi. 

Saat ini, atas instruksinya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang berupaya untuk melakukan penanganan atas dampak yang ditimbulkan. Terlebih akibat insiden tersebut, jalan pemukiman di sekitar lokasi kejadian menjadi terganggu. 

Baca Juga : Rumah Warga di Kota Batu Longsor Usai Hujan Deras, Penghuni Putuskan Mengungsi

"Untuk hari ini, tanah yang bergeser sekitar 50 meter, tapi bergesernya hanya sekitar 25 cm. Jika tidak diperbaiki, ya akan berlubang. Karena ini akses. Ini menjadi penghubung 900 KK," terang Sanusi. 

Menurut Sanusi, pergerakan tanah di lokasi tersebut terjadi dalam dua tahun sekali. Dirinya memperkirakan hal tersebut juga dipengaruhi pergerakan lempeng bumi yang ada di wilayah Kabupaten Malang. Ia mengatakan, untuk memastikan penyebabnya, harus melibatkan laboratorium. 

"Kalau melihat (penyebab) itu yang bisa ya laboratorium yang ada di Bandung, yang bisa mengecek tanah hingga di kedalaman tertentu. Di bawahnya ada apa. Biasanya Bina Marga yang biasa nge-lab," pungkas Sanusi.