PUPR Tak Libatkan DLHP dalam Penebangan Pohon di Taman Magenda

Reporter

Abror Rosi

Editor

Yunan Helmy

15 - Oct - 2021, 06:42

Kepala DLHP Bondowoso Aris Agung Sungkowo (Foto: Abror Rosi/JatimTimes).

JATIMTIMES - Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Bondowoso Aris Agung Sungkowo menyebut tak terlibat dalam penebangan tiga pohon senokeling di Taman Magenda.

Kendati pohon tersebut memang dalam pengawasan DLHP, mantan kasatpol PP itu menyatakan penebangan tersebut murni inisiatif dan dalam tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Pihaknya hanya menerima pemberitahuan.

Baca Juga : 3 Pohon Sonokeling di Taman Magenda Ditebang, Warga Layangkan Protes ke Bupati

"Pastinya ada pengajuan ke perizinan untuk pemotongan pohon. Yang mengajukan dan penanggungjawabnya PUPR," jelas Aris, Jumat (15/10/2021).

Aris mengaku memang tak terlalu mengawasi penebangan tersebut. Sebab, pihaknya berasumsi akan ada pelebaran jalan sehingga pohon di Taman Magenda memang perlu ditebang.

"Izin penebangannya karena pohon itu mengganggu jalan. Maka kami pikir akan ada pelebaran jalan. Ketika penanggungjawabnya PUPR, saya pikir yang motong ya tim PUPR. Bukan tim DLHP," ucap Aris.

Sementara itu, kepala Dinas PUPR saat hendak dikonfirmasi tidak ada di kantor. Saat dihubungi lewat sambungan telepon maupun pesan WhatsApp, tidak merespon.

"Pak Kadis sedang rapat di luar. Kabid yang membidangi juga lagi ada kerjaan," ujar petugas penerima tamu di Kantor PUPR.

Baca Juga : Siang Ini, Punden Keramat di Tulungagung Kembali Terbakar, Damkar Turun Tangan Lagi

Diberitakan sebelumnya, puluhan warga Kelurahan Badean protes atas penebangan yang dilakukan. Pasalnya, selain karena pohon tersebut masih dibutuhkan warga, dalam proses penabangan pun tak ada satu pun dari petugas. Semua dilakukan oleh pekerja yang mengaku suruhan seorang pembeli kayu.

"Setelah saya telusuri kepada penebang, ternyaga pohon itu sudah dibeli seharga Rp 120 juta dari seorang bernama Jauhari. Saya pikir dia pegawai. Ternyata bukan," jelas Miftahul Huda, salah satu warga yang menyesalkan penebangan pohon itu.