Keris yang Masih Eksis di Zaman Digital, Butuh Serangkaian Ritual Khusus Pegangan Pribadi
Reporter
Ganez Radisa Yuniansyah
Editor
Yunan Helmy
24 - Aug - 2020, 09:57
Keris sangat populer pada zaman kerajaan dulu sebagai salah satu senjata andalan. Namun, meski sekarang zaman digital, keris masih tetap eksis. Terutama di kalangan masyarakat Jawa.
Keberadaan keris di lingkungan masyarakat Jawa erat hubungannya dengan unsur magis sehingga mendorong seseorang untuk mengoleksi atau sekadar memiliki. Bahkan di masa pandemi seperti saat ini, tidak menyurutkan rasa ingin memiliki peminat keris. Seperti yang diungkapkan Hadi Sunaryo, salah satu pengrajin keris di Trenggalek.
Baca Juga : Sharkbite Tunjukkan Nyali di Tengah Pandemi, Rilis Album Bertajuk Relocate The Fate
Menurut pria 45 tahun itu, walaupun dalam masa pandemi virus covid-19, pesanan keris masih terus menggeliat. Geliat pemesan keris tidak jauh berbeda dibandingkan tahun lalu.
Adapun perbedaan hanya pada pemesanan keris jasa. Jika tahun lalu banyak yang pesan untuk suvenir, tetapi tahun ini hanya mengerjakan keris untuk digunakan pribadi.
"Biasanya jika tahun baru Islam atau Suro-an seperti ini, banyak pemesanan keris suvenir. Namun akibat pandemi covid-19, saya hanya selesaikan pesanan keris khusus untuk digunakan sendiri," ujarnya saat menumbuk bongkahan besi baja (23/08/20).
Pada awalnya, empu keris yang beralamat di RT/RW 07/03 Kelurahan Tamanan, Kecamatan/ Kabupaten Trenggalek, ini tidak menyangka dirinya bisa menjadi seorang empu. Pasalnya, tidak ada garis keturunan komunitas keris dalam diri Aryo, sapaan akrabnya.
"Saya tidak memiliki garis keturunan empu atau pembuat keris. Saya hanya seorang penjual keris. Perkenalan saya dengan keris pun sudah dari kecil. Pada waktu itu saya diam-diam membuat keris," ungkapnya.
Tahun demi tahun terlewati dan pada akhirnya tahun 2014 Aryo memberanikan diri dan mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang empu pembuat keris.
Dalam setiap pembuatan keris, Aryo melakukan seorang diri. Dari mulai tahap awal hingga akhir. Walaupun begitu, pihaknya mengaku siap jika ada masyarakat yang hendak belajar kepadanya.

"Saya membuat semua keris hanya seorang diri. Dari proses awal hingga finishing, saya sendiri yang mengerjakan. Bahkan tidak jarang saya sampai harus buat waringko atau sarung keris sendiri," ucapnya.
Bagi Aryo, pembuatan keris tidak sembarangan. Aryo biasanya harus puasa terlebih dahulu jika ada pesanan keris untuk digunakan pribadi. Serangkaian ritual wajib dilaksanakan agar terhindar dari marabahaya.
"Biasanya saya tanya dulu hari kelahirannya, karena aura atau tingkat mediasi seseorang itu beda-beda. Kalau memang itu untuk keris pribadi, prosesnya cukup sulit. Saya sendiri selalu jalankan puasa saat mau membuat keris," paparnya lalu menumbuk keris.
Baca Juga : Jasa Cuci Pusaka di Jombang ini Raup Omzet Rp 2,5 Juta Sehari di Bulan Suro
Jika pemesan memiliki aura yang cukup tinggi, komposisi baja harus lebih rendah. Sementara jika kadar aura pemesan rendah, kadar bajanya lebih diperbanyak.
"Kadar baja dalam keris jadi patokannya. Jika kadar bajanya pada sebilah keris itu tinggi, maka cenderung memiliki sifat tajam. Dalam menumbuk keris juga tidak sembarangan, harus ada ritme tersendiri," imbuhnya.
Dari kesehariannya membuat keris, Aryo jadi pahlawan bagi keluarganya. Menurut dia, pesanan keris terus menggeliat, baik yang harganya terjangkau hingga yang mahal sekalipun.
Keris buatan Aryo pun sudah melanglang buana se antero Nusantara. Adapun peminat lokal di antaranya datang dari Ponorogo, Solo, dan Yogyakarta.
"Suatu keris akan memiliki harga jual yang tinggi jika sang empu pembuat keris memiliki ciri khas sendiri. Bahkan jika harus mengerjakan keris pada era tertentu seperti zaman Majapahit atau Singosari pun, dia tetap meninggalkan ciri khas masing-masing," pungkasnya.
