Lestarikan Budaya, Suku Mandar Bugis di Banyuwangi Gelar Tradisi Saulak
Reporter
Muhammad Hujaini
Editor
Yunan Helmy
08 - Nov - 2019, 04:29
Untuk melestarikan adat budaya, masyarakat Suku Mandar Bugis yang ada di Banyuwangi tetap mempertahankan tradisi turun-temurun sukunya. Salah satunya tradisi Saulak. Tradisi ini biasanya dilakukan dalam rangka tujuh bulanan, khitanan, dan menjelang pernikahan.
Seperti yang dilakukan pasangan suami istri Nurmansyah dan Maria Ima Kulata Nafiri Minora. Sebagai keturunan Suku Mandar Bugis yang ada di Banyuwangi, Nurmansyah melaksanakan tradisi Saulak dalam rangka tujuh bulanan kehamilan istrinya.
"Pada prinsipnya kegiatan ini untuk mempertahankan seni budaya bangsa. Ini adalah tradisi budaya nenek moyang kami. Kami adalah Suku Mandar Bugis yang ada di Banyuwangi. Artinya dalam ruang lingkup kebinekaan, budaya itu penting untuk dipertahankan," kata pria yang berprofesi sebagai polisi ini.
Tradisi ini, menurut dia, harus dilakukan oleh seluruh masyarakat Suku Mandar Bugis. Tradisi ini merupakan salah satu sarana untuk menolak bala.
"Menurut nenek moyang kami, jika kita tidak lakukan, kita akan dapat musibah dalam proses kelahiran," kata Nurmansyah. "Kalau sunatan, akan ada permasalahan dalam proses sunatan. Kalau ada pernikahan, juga akan ada masalah dalam rumah tangga," sambung nya.
Mengawali tradisi Saulak, baik Nurmansyah maupun istrinya mengenakan pakaian adat Mandar Bugis. Istrinya kemudian berbaring di tempat yang sudah disiapkan. Nurmansyah duduk di dekat sang istri. Begitu juga keluarga dekatnya. Sehingga posisi duduk mereka mengelilingi istri Nurmansyah yang akan menjalani Saulak.
Tradisi ini dipimpin Dahliana, (64) selaku pelaksana adat. Sesaat kemudian, Dahliana terlihat membaca doa lalu mengambil telur ayam di mangkuk yang berisi minyak. Lalu Dahliana menempelkan telur tersebut pada bagian kepala, leher, perut hingga kaki istri Nurmansyah.
"Telur ini namanya di cobok. Jadi, di cobok dulu. Tujuannya untuk tolak bala. Disembur beras kuning juga begitu, agar tidak ada yang jahat-jahat itu," ungkap Dahliana usai acara.
Setelah mengembalikan telur ke tempatnya, perempuan ini mengangkat nampan berisi takir bunga. Nampan itu diberikan pada orang sebelahnya. Begitu seterusnya nampan dipindahkan secara bergantian hingga kembali ke Dahliana. Cara yang sama dilakukan pada mangkuk besar berisi colok dan nampan berisi sesaji. Masing-masing dikelilingkan sebanyak tiga kali.
Prosesi berikutnya, Nurmansyah memindahkan kain yang berada di bawah istrinya. Pemindahan dilakukan dengan memegang kedua ujung kain. Kemudian digerakkan secara perlahan ke bawah hingga melewati bagian kaki. Setelah menjalani Saulak, istri Nurmansyah menjalani prosesi siraman.
Dahliana menyatakan, nampan berisi takiran bunga dan sesaji akan dilarung ke laut usai pelaksanaan adat Saulak. Pelarungan dilakukan untuk memberikan persembahan pada nenek moyang.
"Semuanya untuk minta keselamatan. Kita ini kan orang Islam, kita minta sama Allah. Kita juga minta sama nenek moyang supaya anak keturunannya tidak diganggu," tuturnya.
