Rasakan Sensasi Berbeda Lomba Panjat Pinang 17-an tapi Tidak Pakai Manjat
Reporter
Arifina Cahyati Firdausi
Editor
Yunan Helmy
18 - Aug - 2019, 07:45
Beragam kemeriahan dalam merayakan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI tentunya banyak dilakukan oleh masyarakat penjuru Indonesia. Mulai dari lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang, hadirnya karnaval kesenian di beberapa kota, dan masih banyak lainnya.
Begitu pun di Kota Malang. Dan, seperti yang kerap diadakan hampir semua daerah se-Indonesia, lomba panjat pinang juga digelar. Setiap peserta akan berebut hadiah yang digantung di tiang tinggi untuk dipanjat.
Tapi, di Sawojajar Kota Malang lain lho. Tak seperti panjat pinang pada umumnya, perlombaan ini tidak dilakukan dengan memanjat. Melainkan dengan berjalan karena pinangnya tidak berdiri vertikal. Ya, gejolak kemeriahan HUT RI ke-74 ini diberi nama 'Jembatan Maut'.
Seperti apa keseruannya ya? Berlokasi di Jl Sawojajar Gang 17, Kota Malang, setiap peserta yang diikuti oleh warga setempat ikut memperebutkan hadiah berupa alat-alat rumah tangga, sepeda, rice cooker, hingga uang tunai di tiang sepanjang 13 meter itu, Minggu (18/8).

Nah, tiang dari pohon pinang tersebut dijajarkan di atas permukaan sungai yang memanjang. Peserta akan berjalan di atas tiang yang telah dilapisi lemak binatang (gajih), stempet yang biasa dipakai untuk rantai motor, dan oli bekas.
Di situlah tantangannya, karena peserta akan kesulitan dan memikirkan trik untuk berjalan menuju ujung tiang dan mengambil berbagai macam hadiah yang telah digantung tersebut.
Penggagas "Jembatan Maut" Piono mengatakan keseruan acara tersebut telah turun-temurun dilakukan sejak dulu, yakni selitar tahun 1986. Ide tersebut tercetus dari kebiasaan masyarakat sekitar yang gemar main air.
"Latar belakangnya ini dari anak-anak muda mudi sini yang gemar main air. Dan di sini lokasinya juga berkaitan dengan air. Akhirnya tercetuslah 'Jembatan Maut' ini. Dan kami selalu menggelarnya setiap tahun dalam memeriahkan hari kemerdekaan, dan dilanjutkan generasi muda disini," ujar dia.

Alasan lainnya, karena perlombaan panjat pinang pada umumnya dianggap lebih berbahaya. Sedangkan model 'Jembatan Maut' ini lebih aman dan bisa diikuti oleh siapa pun dan segala usia. Laki-laki maupun perempuan, muda-mudi hingga orang yang sudah lanjut usia dan anak-anak.
"Kami anggap panjat pinang terlalu berisiko dan tidak semua bisa. Kalau ini cukup aman dan bisa diikuti oleh anak-anak kecil. Aman sekali buat anak-anak. Ada ban renang juga dan dijaga oleh orang-orang yang ahli," imbuhnya.
Salah satu peserta, Aris Giri, mengaku sangat senang memeriahkan acara tahunan tersebut di wilayahnya. Selain bisa lebih mengakrabkan diri dengan warga sekitar, ia juga tertarik untuk meraih hadiah bonus utama senilai Rp 250 ribu.
"Saya sudah lima kali ikut ini. Jadi, senang saja. Bisa kenal warga lebih banyak lintas generasi orang tua dan anak-anak. Tapi memang sulit, kayak manjat pinang tapi ini nyeberang. Saya pingin dapat uangnya," ungkapnya lalu tertawa.
