Kaya Perguruan Tinggi, Malang Potensial Kembangkan Kampung Lingkar Kampus

17 - Jun - 2019, 06:26

Penggagas dan praktisi Jaringan Kampung (Japung) Nusantara, Redy Eko Prastyo. (Foto: Facebook)

Memiliki predikat sebagai kota pendidikan, Kota Malang memiliki potensi mengembangkan kawasan sinergis berbasis perguruan tinggi. Pasalnya, saat ini terdapat sekitar 60 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang aktif dengan sumbangan mahasiswa pendatang sekitar 300 ribu jiwa. 

Praktisi sekaligus penggagas Jaringan Kampung (Japung) Nusantara, Redy Eko Prastyo mengungkapkan bahwa potensi yang besar tersebut masih belum tergali hingga saat ini. "Perlu adanya sebuah formulasi sistem komunikasi sosial kemasyarakatan. Terutama antara mahasiswa multikultural yang bertempat tinggal atau menjadi penghuni musiman di kampung lingkar kampus dengan masyarakat sekitar," tuturnya. 

Redy menyoroti soal keberadaan rumah-rumah warga kampung lingkar kampus (berada di sekeliling lokasi kampus) hanya menjadi aset bisnis dengan orientasi transaksional. Penghuni kosa atau mahasiswa pendatang, cenderung hanya berinteraksi dengan rekan sesama daerah ataupun rekan kampus saja. 

"Komunikasinya transaksional, warga kampung menyewakan dia membayar. Makanya ada kasus-kasus konflik sosial akibat tidak ada interaksi sosial-kultural," sebutnya.

Selain itu, lanjutnya, sinergitas tersebut sulit terjalin karena posisi kampus masih cenderung ekslusif. Tidak ada program-program khusus yang dibuat untuk turut mengembangkan kawasan sekitar dengan melibatkan mahasiswanya. 

Dalam hal ini, lanjut Redy, kampus harus membuat sebuah integrasi sistem komunikasi aktif dalam mensinergikan interaksi sosial, norma-norma, nilai-nilai pada tatanan kearifan lokal serta aturan kemasyarakatan pada pendatang. 

"Kampus yang ekslusif, menjadi menara gading daring kampung-kampung lingkar kampus. Tidak ada sinergi," sesalnya.

Hal tersebut, menyebabkan kesan bahwa para anak muda kampung sulit berbaur dengan mahasiswa. Akibatnya, gelombang mahasiswa yang datang dan pergi setiap tahun tidak menimbulkan dampak sosial kemasyarakatan yang signifikan.

 Hanya sektor ekonomi semata yang terbangun karena ada interaksi antara kebutuhan barang dan jasa. "Ada kecenderungan sama-sama tidak peduli," tutur pria yang juga musisi etnik ini. 

Dengan adanya formulasi baru, Redy berharap pembangunan ruang kampung lingkar kampus di Kota Malang bisa terwujud. Terutama dengan pengembangan sumber daya manusia yang berbasis Tri Dharma Perguruan Tinggi.

"Pengembangan sistem sinergi sosial yang berbasis kreatif, budaya dan brand strategi, industry kreatif berbasis masyarakat akademik dan kelembagaan baik sosial masyarakat serta kampus ini sangat dibutuhkan di Malang," pungkasnya.