Si Buta dari Gua Hantu : Super Hero Anti Sontoloyo, Antitesa American Dream

Reporter

Dede Nana

05 - Nov - 2018, 01:40

Cuplikan adegan komik Si Buta Dari Gua Hantu (BumiLangit Komik)

Si Buta Dari Gua Hantu yang populer di era 1960-an yang diciptakan oleh seorang komikus legendaris Ganes Thiar Santosa atau Ganes TH, kembali muncul. Tentunya dengan format baru yang disesuaikan dengan ciri masyarakat milineal saat ini. Walau sama-sama dihidupkan melalui medium komik, Si Buta yang hak ciptanya dibeli oleh PT Bumi Langit, tampil dengan lebih penuh warna dan cerita yang disesuaikan dengan selera zaman sekarang. Tapi, bukan sekedar cerita fiksi yang ingin disampaikan oleh para kreator Si Buta versi baru ini. Melainkan ada nilai-nilai atau jiwa yang lebih 'nasionalis' dalam komik Si Buta Dari Gua Hantu ini. Aji Prasetyo yang didapuk sebagai penulis naskah Si Buta Dari Gua Hantu, menyatakan komik masih merupakan ruang untuk 'melawan' stereotipe negatif melalui opini maupun tindakan lainnya. Atas jiwa atau nilai-nilai bangsa yang masih ada anggapan sebagai bangsa pemalas. "Komik bisa dijadikan referensi budaya atau identitas kita. Dalam komik Si Buta, misalnya, diilustrasikan sebagai pendekar atau jagoan yang berusaha keras menempa dirinya dalam keterbatasan fisik. Sehingga sampai memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa," kata Aji kepada MalangTIMES, Senin (05/11/2018). Untuk mencapai taraf kemampuan bela diri luar biasa atau disebut sakti. Badra Mandrawata nama tokoh Si Buta, tidak serta merta atau terjadi secara instan. Layaknya para super hero Amerika yang mendapatkan kekuatan super yang bersifat 'pemberian'. Spiderman, memiliki kekuatan super karena digigit laba-laba. Pun dengan super hero lainnya. "Ada yang kena radiasi limbah beracun, jadi kelinci percobaan laboratorium sampai karena keturunan. Pendekar komik kita, mereka memiliki kehebatan karena usaha dan berlatih keras," ujar Aji. Perbedaan tersebut kelihatannya remeh, tapi itu mencerminkan akar budaya. Mereka dengan budaya "american dream"nya, sedangkan budaya kita adalah pekerja keras dan realistis. "Abaikan opini yang kadung populer bahwa kita adalah bangsa pemalas. Opini itu harus dilawan, bahkan dengan komik sekalipun," imbuhnya. Si Buta Dari Gua Hantu diibaratkan antitesa American Dream. Kerja keras untuk 'menjadi' dilakukan secara alamiah. Dengan menempa tubuh, pikiran serta hati yang akhirnya condong ke arah jalan kebenaran. Apabila Si Buta diibaratkan juga sebagai super hero dalam pengertian seseorang yang memiliki kekuatan super serta mempergunakannya di jalan kebenaran, maka, Si Buta serta tokoh-tokoh lokal dalam jagad perkomikan kita adalah para super hero anti sontoloyo. Mereka hadir tidak untuk menggiring kawanan bebek saja. Sebagai sontoloyo yang hanya mengacung-acungkan sebilah bambu untuk menertibkan jalannya kawanan bebek. Lantas, setelahnya dengan tenang duduk 'leyeh-leyeh' sambil melihat hewan peliharaannya mencari makan. Kehadiran mereka untuk melakukan 'perlawanan' budaya. Menjadi ruang antitesa bagi segala budaya serba instan yang kini menjadi pemandangan sehari-hari di dalam masyarakat. http://risetcdn.jatimtimes.com/images/2018/11/05/Aji-Prasetyo-sang-penulis-cerita-Si-Buta-generasi-baru49e4035408723615.md.jpg Dalam komik Si Buta versi Bumi Langit ini pula, beberapa polesan baru dicoba untuk ditawarkan. Untuk menggaet pembaca baru zaman sekarang serta menyisipkan berbagai 'perlawanan' atas dominasi super hero yang kadung lengket di otak pembaca. "Pengembangan khususnya cerita memang dilakukan. Identitas budaya dalam Si Buta juga dilakukan dalam komik. Ini semua untuk lebih mengentalkan dan mengenalkan para pendekar lokal kepada masyarakat saat ini," ujar Aji. Dari sisi pengaruh budaya, misalnya, lanjut Aji, sebagian dari komik-komik lokal kita di era 60-an hingga 80-an, termasuk Si Buta, harus diakui sempat terpengaruh tren film mandarin yang mewabah saat itu. Dari fashion kostum tokoh-tokohnya sampai pada setting ceritanya. "Setting cerita para pendekar komik, seputar balas dendam, persaingan antar pendekar di rimba persilatan, dan sebagainya. Itu pengaruh tren film silat mandarin saat itu. Dalam Si Buta hal ini yang kita poles tanpa meninggalkan pakemnya," urai Aji yang juga memberi contoh Batman. Batman dalam komik di era 60-an, saat dilakukan pemolesan yang disesuaikan dengan zaman mengalami perubahan. Baik dari segi cerita hingga kostum yang dikenakan. Karena tanpa polesan itu dijamin anak muda zaman sekarang gak mungkin suka dengam Batman ala tahun 60-an. "Nah, hal itu pula yang perlu dilakukan pada jagoan-jagoan komik lawas kita," pungkasnya.