Penuhi Pasar Kalimantan, Pedagang Sayur Kota Batu Tambah Pasokan dari Luar Daerah

Reporter

Nurlayla Ratri

Editor

Yunan Helmy

26 - Sep - 2018, 03:42

Kubis siap kemas yang akan dikirim pedagang sayur Desa Pesanggrahan, Kota Batu, ke pasar Kalimantan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Hasil pertanian dari Kota Batu menjadi primadona daerah-daerah lain, termasuk pasar luar Jawa. Untuk memenuhi permintaan pasar, para pedagang pemasok sayuran bahkan mesti mendatangkan sayur dari luar daerah.

Seperti yang dilakukan Meiarsih, salah satu pedagang sayur di Desa Pesanggrahan, Kota Batu. Pemasok sayuran kubis atau kol ini mendatangkan sayuran berbentuk bola itu dari daerah Jember, Situbondo, serta kawasan pertanian di sekitar Gunung Bromo. "Kalau dari Kota Batu sendiri kurang, apalagi kadar air kubis dari Jember itu lebih rendah. Sehingga, lebih awet ketika dikirim ke luar daerah," ujarnya.

Menurut Meiarsih, kadar air kubis hasil petani Kota Batu dan sekitarnya relatif lebih tinggi. Karena, dari curah hujan dan jenis lahan pertanian yang cenderung basah. "Untuk mengawetkan sayuran itu, kami gunakan lapisan semen putih untuk menjaga agar sayuran tetap kering dan tidak busuk ketika dikapalkan," urainya. Setelah dilapisi semen putih, kubis lantas dibungkus kertas koran satu per satu agar tidak rusak saat berbenturan. 

Selain masalah kadar air, Meiarsih mengungkapkan bahwa saat ini produksi kubis sendiri di Kota Batu mulai berkurang. "Kubis sekarang agak sedikit petaninya. Sekitar lima tahun terakhir itu sudah menurun. Sekarang petani banyak ke bawang prei (daun bawang) dan lainnya," sebutnya.

Selama ini, pihaknya banyak mengirim ke Pulau Kalimantan. "Kalau pedagang-pedagang dari Batu itu kebanyakan kirim ke Balikpapan, Samarinda, Pangkalan Bun. Lewat jalur laut, kualitas sayur mayur itu seminggu tahan dan tetap bagus. Kalau lama pengiriman sendiri sekitar sehari semalam saja," terangnya.

Pengiriman tersebut, lanjutnya, menyesuaikan jadwal keberangkatan kapal laut. "Sekitar seminggu sekali, saat ini sekitar 3-5 ton yang dikirim ke Kalimantan. Dulu permintaan dari sana banyak, bisa sampai 6-7 ton," tuturnya. Penurunan permintaan itu, menurut dia karena saat ini banyak pembeli yang beralih ke produk kering seperti sembako dan lain-lain. 

Meski  demikian, menurut Meiarsih potensi pasar di luar Jawa untuk hasil pertanian Kota Batu masih sangat besar. "Saingan dari daerah lain tidak terlalu, sayuran dari Batu masih dipercaya dari segi kualitas sama harga kan bersaing. Selain kubis, pedagang-pedagang iitu ya kirim wortel, kentang, sawi putih," pungkasnya. (*)