Kerap Di-bully dan Pindah Sekolah, Si Anak Masjid Ini Jadi "Hantu" Paling Ditakuti Belanda

Reporter

Dede Nana

Editor

Yunan Helmy

20 - Aug - 2018, 03:26

Sang anak masjid yang sejak usia 7 tahun kerap jadi bahan bully di sekolahnya sehingga berkali-kali pindah sekolah. (Ist)

Bullying atau perundungan kian marak di zaman now. Berbagai tayangan media memperlihatkan betapa perundungan kian menggejala di berbagai ruang kehidupan. Bahkan, telah merembes masuk ke dalam dunia pendidikan.

Para korban perundungan kerap menjadi orang-orang yang akhirnya kalah. Bahkan sebagian terus dihantui trauma di masa depannya.

Efek perundungan yang menakutkan tersebut membuat berbagai kalangan tergugah untuk memasifkan perlawanan terhadap berbagai penindasan, intimidasi dan kekerasan tersebut. Dengan berbagai cara. Dengan film, misalnya. Berbagai film mengenai buruknya bullying, seperti Sajen atau yang terbaru film berjudul AIB #Cyberbully, adalah contoh perlawanan tersebut. 

Tapi, tidak semua korban perundungan akhirnya bernasib tragis. Contohnya adalah sang anak masjid yang lahir pada Minggu Pon di bulan Maulud dalam penanggalan Jawa atau tanggal 24 Januari 1916 dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem di Rembang, Bodas Karangjati, Purbalingga, zaman Hindia Belanda silam.

Bahkan dari pengalamannya menjadi korban perundungan tersebut, si anak masjid yang kemudian lebih dikenal sebagai hantu oleh para pasukan Belanda di zaman peperangan kemerdekaa itu membuat para penjajah Belanda terintimidasi karena kecerdasan, kelicinan dan kemahirannya memimpin pasukan tempur.  

Dialah sang Jenderal Besar Soedirman. Seorang anak masjid yang kerap menjadi bahan perundungan saat dirinya bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS), atau sekolah pribumi yang sekarang setara SD. 

Dari berbagai literatur, Soedirman kecil yang saat itu berusia tujuh tahun terdaftar di sekolah pribumi (Hollandsch Inlandsche School). Meski hidup berkecukupan, keluarga Soedirman bukanlah keluarga kaya. Layaknya, zaman penjajahan dan kuatnya feodalisme kerajaan zaman itu, pada tahun kelima bersekolah, Soedirman diminta untuk berhenti sekolah karena ejekan yang diterimanya. Ejekan diterima dari teman sekolahnya yang mayoritas adalah keturunan ningrat, pengusaha tajir, atau punya koneksi dengan antek Belanda.

Soedirman pun akhirnya dipindahkan ke sekolah menengah milik Taman Siswa pada tahun ketujuh sekolah. Tidak lama kemudian, pada tahun kedelapan, Soedirman kembali pindah ke Sekolah Menengah Wirotomo setelah sekolah Taman Siswa ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar karena diketahui tidak terdaftar.

Berbagai perundungan yang menimpanya tidak membuat Soedirman surut menjadi orang kalah. Tempaan Kiai Haji Qahar, guru rohaninya sejak kecil, serta berbagai cerita-cerita kepahlawanan, pengajaran etika, tata krama priyayi, serta etos kerja dan kesederhanaan wong cilik atau rakyat jelata sejak kecil dari keluarganya telah membentuk mental dan karakter Soedirman pantang patah dan mati.

Bahkan, dari buku berjudul Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Sudirman, Soedirman semakin terpacu untuk menjadi pribadi yang kuat terhadap berbagai perundungan yang juga dialami masyarakatnya saat itu. Berbagai organisasi di zamannya dia ikuti. Tercatat, Soedirman pernah menjadi anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik 

Ia juga turut membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi kepanduan putra milik Muhammadiyah. Soedirman juga sempat menjadi pemimpin Hizboel Wathan cabang Cilacap setelah lulus dari Wirotomo. Ia mengajari para anggota muda Hizboel Wathan tentang sejarah Islam dan pentingnya moralitas. Sedangkan pada anggota yang lebih tua ia berlakukan disiplin militer.  

Karakter Soedirman semakin terlihat cemerlang. Bahkan tahun 1936, sebelum dirinya terlibat dalam urusan militer dan menjadi momok tentara Belanda yang bersenjata lengkap dan modern di zamannya, Soedirman diangkat menjadi guru SD Muhammadiyah Cilacap. Usianya saat itu masih sekitar 19-20 tahun. 

Saat rentang menjadi guru inilah, Soedirman secara langsung mengajarkan mengenai bibit perlawanan terhadap tindakan perundungan. Dirinya kerap mengandalkan dialog dan bertutur tentang kehidupan para nabi dan kisah wayang untuk mengajar soal moral terhadap siswanya. Pendekatan pengajaran yang dilakukannya serta sikap pantang menyerah dalam mendidik para siswanya membuat Soedirman diangkat menjadi pemimpin sekolah (kepala sekolah saat ini) di usia yang belum mencapai 30 tahun.

Pada tahun yang sama, Soedirman menikahi Alfiah, putri seorang pengusaha batik kaya bernama Raden Sastroatmojo. Sudirman dan Alfiah dikaruniai tujuh anak, tiga putra dan tiga putri. Yakni Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, Taufik Effendi, serta empat putri bernama Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan Titi Wahjuti Satyaningrum. (*)