Publik Jerman Terpana Film "Sekala Niskala" Garapan Putri Garin Nugroho

Reporter

Iwa Sobara

Editor

Yunan Helmy

25 - Feb - 2018, 09:57

Suasana pemutaran film Sekala Niskala di bioskop Berlin, Jerman. (foto: Iwa Sobara for MalangTIMES)

Antrean penonton di Zoo Palast, salah satu bioskop yang terletak di jantung ibu kota Jerman, Berlin, sudah tampak mulai pukul 09.30 waktu setempat pada Minggu 18 Februari 2018.

Di hari Minggu yang cerah di penghujung musim dingin tersebut, film Indonesia yang berjudul “Sekala Niskala” ditayangkan secara perdana di Berlin International Film Festival atau yang dikenal dengan Berlinale.

Penonton yang rata-rata orang Jerman ini antusias untuk menonton film yang dalam bahasa Jerman dialihbahasakan menjadi “Sichtbar und Unsichtbar” tersebut. 

Di antara 400-an film yang ikut berlomba pada ajang film tahunan bagi para sineas dari seluruh dunia ini, film Sekala Niskala merupakan satu-satunya film yang merepresentasikan Indonesia kepada publik Jerman pada khsususnya dan internasional umumnya.

Film yang bercerita mengenai kembar buncing ini mengambil setting tempat di Bali dengan semua elemen budaya kental khas Bali. Adapun pemeran anak-anak kembar di dalam film tersebut adalah mereka Ni Kadek Thaly Titi Kasih sebagai Tantri dan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena sebagai Tantra. 

Kisahnya dimulai ketika Tantra harus dirawat di rumah sakit karena sistem syarafnya semakin melemah. Nasib malang ini membuat Tantri tidak ingin kehilangan Tantra. Untuk menghilangkan nuansa kerinduan, akhirnya mereka bergabung dalam dunia fantasi.

Di tengah malam Tantri terbangun dan selalu melihat adiknya. Pertemuan tersebut merupakan kesempatan bagi mereka untuk bermain bersama. Tantri bisa menari dengan makhluk tak terlihat. Perjalanan magis Tantri membuatnya dapat menjalin hubungan emosional dengan saudara kembarnya itu. Hal itu ia tunjukkan melalui ekspresi tubuh.

Iwa Sobara (kiri) bersama pemain film Sekala Niskala di bioskop Zoo Palast Jerman (foto: Iwa for MalangTIMES) 

Tayangan perdana film Sekala Niskala di bioskop Zoo Palast ini dihadiri lebih dari 250 penonton yang memadati gedung berkapasitas 341 kursi penonton di dalam studio 2 yang berukuran 420 meter kuadrat. 

Sekala Niskala diputar sebanyak empat kali selama perhelatan Berlinale ini. Di setiap akhir pemutaran film panitia menyediakan waktu khusus bagi para penonton bertanya mengenai film yang telah mereka tonton.

Di sesi tanya jawab hari pertama, sang sutradara ditanya mengenai ide pembuatan film tersebut. Kamila Andini, putri salah satu sineas kenamaan Indonesia Garin Nugroho, mulai menjelaskan. Dia pernah mendengar sebuah filosofi dalam budaya Bali bahwa orang Bali hidup dalam dualisme. Mereka memercayai adanya Sekala dan Niskala.

“Hal ini mencerminkan bahwa kita sebagai manusia hidup secara holistik. Kita hidup dengan segala sesuatu yang bisa kita lihat dan apa yang tidak dapat kita lihat. Hidup itu selaras. Ini menunjukkan kehidupan orang Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya. Bagaimana kita berdiri satu sama lain. Saya ingin memvisualisasikan ini dalam bentuk film. Saya ingin bermain secara visual dengan kedua kata tersebut”, ungkap Kamila menjawab pertanyaan dari salah satu penonton.

Pada salah satu adegan di rumah sakit ketika Tantri dan Tantra harus menari ayam, penonton begitu terpana melihat adu acting dari kedua pemain. Mereka disuguhi tontonan tidak biasa. Keduanya sangat berbakat dalam gerak tubuh. 

Namun, ada hal yang sangat menarik pada sesi tanya jawab pemutaran hari ketiga. Pertanyaan penonton didominasi oleh penonton anak-anak usia SD kelas 4-6. Hal ini tidaklah mengherankan karena film ini dapat ditonton oleh anak-anak.

Pada pemutaran kedua dan ketiga, terlihat guru-guru SD membawa rombongan kelasnya untuk menyaksikan film ini.

Pertanyaan-pertanyaan polos mereka yang ditujukan kepada para pemain pun menarik untuk disimak, seperti “Apakah di dunia nyata kalian bersaudara?”, “Bagaimana perasaan kalian memainkan peran tersebut?” hingga “Siapakah nama asli kalian?” Pertanyaan yang terdengar sederhana tapi melihat inisiatif serta keberanian anak-anak bertanya tanpa harus disuruh oleh orang tua atau guru sangatlah menarik. Itulah budaya Jerman! 

Sebelum tayang di Berlinale, film ini telah mendapat berbagai penghargaan di ajang festival film lain baik nasional ataupun internasional, seperti  nominasi Festival Film Tempo 2017, Grand Prize di Tokyo FILMeX International Film Festival 2017 dan mendapatkan Best Youth Feature Film di Asia Pacific Screen Awards 2017.

Di Indonesia film Sekala Niskala akan tayang di bioskop-bioskop mulai 8 maret 2018. Apakah publik Indonesia akan sama halnya dengan publik Jerman? Kita lihat antusisme masyarakat Indonesia awal Maret nanti. (*)

Oleh:
Iwa Sobara, mahasiswa doktoral di TU Berlin, Jurusan Language and Communication