Bakal Punya Menara Tertinggi di Kota Malang, Islamic Center Dikonsep Green Building
Reporter
Nurlayla Ratri
Editor
Lazuardi Firdaus
25 - Oct - 2017, 11:30
Megaproyek Islamic Center (IC) digadang-gadang akan menjadi pusat kegiatan keagaman yang modern dan lengkap. Bahkan, IC diharapkan menjadi ikon bagi Kota Malang Bermartabat. Untuk memperkuat kesan ikonik, IC bakal dilengkapi satu menara setinggi 77 meter.
Tampaknya, menara tersebut bakal menjadi yang tertinggi di Kota Malang. Hal tersebut diungkap dalam pembahasan draft laporan akhir detail engineering design (DED) Islamic Center. Dalam kegiatan yang digelar di Hotel Gajah Mada Graha hari ini (25/10/2017) itu, konsultan perencana Islamic Center, PT Kosa Matra Graha, memaparkan laporan akhir perencanaan megaproyek senilai Rp 341 miliar tersebut.
\Konsultan pelaksana PT Kosa Matra Graha Sahirwan mengungkapkan, sebelumnya desain awal IC memiliki dua menara. Tetapi dengan berbagai pertimbangan dari tokoh masyarakat dan ahli arsitektur yang dilibatkan, dipilih satu menara yang menonjol.
Sahirwan mengatakan, konsep menara kembar ditinggalkan dan dibuat satu menara untuk mempertahankan keseimbangan tampak bangunan. Menara kembar itu rencananya dibangun setinggi 44 meter. "Awalnya juga ada usulan menara tunggal dibangun hingga 99 meter. Tapi setelah dihitung. itu terlalu tinggi. Sehingga dipilih 77 meter dengan beberapa filosofi," ujar Sahirwan.
Menara tersebut dibagi menjadi tujuh bagian. Masing-masing memiliki filosofi tersendiri, terutama karena angka tujuh paling banyak muncul dalam ayat-ayat Alquran. Juga ada tujuh tingkatan surga dan tujuh pintu neraka. Ada tujuh lapis langit serta umul Quran atau Surat Al-Fatihah memiliki tujuh ayat. "Filosofi lain, surat ke- 7 di Alquran adalah Al-A'raf yang artinya tempat tertinggi," ujar pria yang juga Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Malang itu.
Bagian ketiga menara, lanjutnya, dibuat setinggi 11 meter yang merupakan simbol penjumlahan dari enam rukun iman dan lima rukun Islam. "Pada bagian itu juga menggunakan ornamen segi delapan atau hexagonal," terangnya. Beberapa perubahan final lain yang dilakukan yakni struktur dan bentuk kubah yang diadaptasi dari kubah-kubah yang khas Malang juga desain mihrab yang diperbaiki tampilannya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang Hadi Santoso mengungkapkan, finalisasi tersebut merupakan hasil dua pertemuan yang dilakukan sebelumnya. Yakni pada 12 Juli dan 23 Agustus lalu. Dalam pertemuan sebelumnya, pembanguan IC sudah ditetapkan akan dibagi menjadi empat zona.
Zona pertama adalah masjid. Zona kedua untuk area pendidikan. Sementara zona ketiga yakni perkantoran dan hall, dan zona terakhir untuk plaza dan ruang terbuka hijau (RTH). Dengan anggaran tahap pertama Rp 45 miliar yang dikucurkan Pemkot Malang pada 2018 mendatang, pembangunan awal akan difokuskan di zona tiga. "Zona tiga nanti terdapat bangunan untuk kantor, sebagian sarana pendidikan keislaman, hall, dan tempat usaha kecil menengah (UKM)," ujar Sony, sapaan akrab Hadi Santoso.
Sony menerangkan, hal itu dilakukan mengingat pembangunan tahap pertama harus memiliki outcome yang bisa langsung dimanfaatkan. Namun, tidak menutup kemungkinan pembangunan ditambah di zona empat terutama untuk tempat parkir. "Konsep secara keseluruhan Islamic Center ini green building, yakni bangunan fisik hanya 40 persen, sisanya RTH 60 persen," terangnya.
Pihaknya juga melakukan beberapa review arsitektur. Material yang akan digunakan sudah mengacu pada masukan para stake holder. Contohnya, lantai akan memakai material marmer. "Bentuk kubah dan ornamen-ornamennya juga sudah dibenahi. Sedang untuk menara 77 meter nanti akan menjadi point of interested atau ikon bangunan," tuturnya.
Sony menegaskan, untuk pengamanan tahapan-tahapan pembangunan pihaknya akan berkonsultasi ke Kementerian Dalam Negeri. Bersama tim anggaran dan badan anggaran itu untuk menenntukan kode rekening proyek Islamic Cennter. "Karena dibangun bertahap, dananya juga turun bertahap. Kode rekeningnya seperti apa harus ditanyakan dulu agar kami tidak salah prosedur," pungkasnya. (*)
