Jadi Sampingan, Ratusan Warga Gampingan Manfaatkan Limbah Kertas Pabrik

Reporter

Dede Nana

04 - Oct - 2017, 10:04

Warga Gampingan, Kecamatan Pagak sedang melakukan proses daur ulang sampah dan plastik sebagai profesi sampingan, Rabu (04/10) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

Selalu ada ruang bagi masyarakat untuk menggali potensi di sekitarnya menjadi uang. Bahkan, dari sesuatu yang dianggap tidak berguna, seperti limbah kertas dan plastik pabrik, yang biasanya hanya dibuang atau dijual dengan harga sangat murah.

Di tangan warga Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, limbah tersebut dimanfaatkan dengan cara daur ulang dan menghasilkan pendapatan. Walaupun tentunya, kegiatan daur ulang sampah tersebut, sampai saat ini hanya menjadi sampingan dari ratusan warga.

Walau hanya menjadi sampingan di sela-sela waktu luang, ratusan warga Gampingan sudah dapat merasakan manfaatnya. Sehari, misalnya uang yang bisa didapatkan oleh Suwandi salah satu warga, bisa mendapatkan Rp 20-30 ribu.

"Lumayan mas daripada waktu luang dibuang percuma. Kalau mau telaten ya bisa menghasilkan lebih banyak uang," kata Suwandi kepada MalangTIMES, Rabu (04/10) sambil memilah limbah kertas dan plastik.

Limbah kertas dan plastik yang akan didaur ulang oleh warga Gampingan tersebut didapatkan dengan cara membeli dari pabrik pembuat kertas yang ada di Pagak.

"Kita beli mas dari pabrik. Jadi bukan cari-cari kaya maaf pemulung. Di sini semua beli limbah itu per truk dari pabrik," ujar ibu dua anak ini.

Warga membeli limbah kertas dan plastik dari pabrik seharga Rp 150 ribu per satu truk.

"Jadi kita cuma milah saja dari yang sudah kita beli. Setelah dipilah nanti ya dijual ke pengepul," imbuhnya.

Sampah kertas kering yang telah dipilah dijual antara Rp 1.500 sampai Rp 1.800 per kilogram. Sementara untuk sampah plastik yang telah dipilah dijual ke tempat pembakaran gamping. "Harganya Rp 200-300 ribu per truk," lanjut Suwandi.

Pemilahan limbah kertas dan plastik ternyata tidak semudah yang terlihat. Dalam dua hari pemilahan, warga hanya bisa menghasilkan satu karung. Beratnya sekitar 30 kilogram.

Tapi, menurut Suwandi, walau pun dijadikan sampingan kerja, hasil dari pemilahan atau daur ulang sampah mampu memberikan pendapatan yang cukup lumayan.

Kendala yang dihadapi oleh warga Gampingan dalam menjalankan profesi sampingannya tersebut hanyalah kondisi cuaca. Hal ini dikarenakan dalam proses penjemuran membutuhkan waktu yang tidak sebentar. 

"Itu kan dijemur dulu, kalau sudah kering dan dikumpulkan lalu dijual ke pengepul. Tergantung cuaca, jadi kalau hujan ya tidak ada omset," pungkas Suwandi.