Jenang Suro Warga Songgoriti Jadi Budaya Rayakan Satu Suro

Reporter

Irsya Richa

23 - Sep - 2017, 03:34

Warga bahu-membahu mengaduk jenang Suro di wajan berdiameter 90 centimeter di Candi Supo Songgoriti, Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Jumat (22/9/2017). (Foto: Irsya Richa/ BatuTIMES)

Ada yang beda dengan cara merayakan satu Suro di Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu. Di sana warga sekitar bahu-membahu membuat jenang yang diberi nama jenang Suro di pelataran Candi Supo Songgoriti, Jumat (22/9/2017).

Budaya ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya sejak 20 tahun silam. Sebelum melakukan jenang Suro terlebih dahulu diawali dengan pembacaan doa.

Kemudian bahan-bahan jenang Suro yang berasal hasil bumi meliputi kelapa 34 buah, kelapa muda empat buah, beras 17 kilogram, dan kacang tanah dua kilogram perlahan dimasukkan sambil mengucap doa.

Puluhan warga Songgoriti terlibat membuat jenang Suro. Ya tepatnya pukul 19.00 mereka bahu-membahu mengaduk jenang yang  dimasak dalam tungku menggunakan bahan bakar kayu. Kemudian warga mengaduk dengan menggunakan pengaduk berbahan bambu. Panjangnya satu meter. 

Karena jenang ini dibuat dengan jumlah yang cukup banyak ketika  mengaduk cukup berat. Sehingga sewaktu-waktu warganya bergiliran untuk mengaduk hingga matang. Apalagi  proses mengaduk tidak boleh berhenti, kurang lebih selama empat hingga lima jam. 

Jenang yang dibuat ini menghasilkan 15 kilogram jenang yang siap disantap oleh warga dan dipersembahkan di Candi Supo Songgoriti. Pendamping makan jeneng ini sudah dipersiapkan seperti perkedel, kering tempe, dan telur dadar.

Juru kunci Candi Supo Hariyoto menjelaskan, kegiatan ini merupakan budaya yang tidak bisa ditinggalkan oleh warga Songgoriti. Itu sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada maha kuasa.

"Ini wujud terima kasih kepada Allah SWT. Sudah diberi kehidupan hinga Suro," ungkap pria yang akrab disapa Yoto itu kepada BatuTIMES.

Selain itu, tradisi ini jadi salah satu cara membuat warga Songgoriti lebih guyub. Dan  lebih kompak membangun Dusun Songgoriti menjadi daerah yang terus maju dibidang wisata dan sebagainya. "Semoga hingga Suro mendatang warga Songgoriti diberikan kelimpahan rejeki, sehat, guyub dan kompak," tambahnya.

Di waktu yang bersamaan juga diikuti dengan pembacaan macapat di area Candi Supo Songgoriti. Misalnya saja macapat kidang dungo tang dilakukan oleh anak-anak Songgoriti. Hal tersebut dilakukan supaya selama pembuatan jenang berjalan dengan lancar. 

Warga Songgoriti, Sutir, mengatakan kegiatan ini sudah jadi budaya yang wajib dilaksanakan. Jika biasanya jenang berwarna merah, karena ini Suro sehingga disajikan dengan warna putih dan rasanya gurih. "Kalau biasanya jenang itu merah. Berbeda dengan Suro, putih dan gurih atau bubur syuro," jelasnya. (*)