Pembaca yang baik, Anda mungkin meragukan nasib orang yang bergelut di bidang olahraga di bumi pertiwi ini. Tetapi, berkat menekuni bidang olahraga, kehidupan seorang pria di Malang berubah.
Seorang atlet angkat besi bernama Muslimin menuturkan kisah hidupnya pada Media Online Terbesar di Indonesia ini.
Sebelum sukses menjadi atlet handal, Muslimin mengais rezeki sebagai pengayuh becak. Dari tahun 1993 sampai 1998 ia ikhlas mengayuh becak demi sesuap nasi.
Meski menjalani profesi yang dipandang sebelah mata, Muslimin punya keyakinan untuk menjadikan hidupnya lebih baik.
Ia percaya, olahraga bisa membawa keajaiban bagi hidupnya. Tahun 1998 Muslimin masuk Puslatda Jatim (Pusat Latihan Daerah Jawa Timur) di Surabaya.
"Intinya saya dulu ingin mengubah nasib dan saya dulu berfikir masak sampai tua mau jadi tukang becak. Pamanku itu sampai tua sampai meninggal tetap jadi tukang becak," tutur Muslimin pada MALANGTIMES.
Lantas mengapa Muslimin memilih cabang angkat besi?
Lingkungan tempat tinggal Muslimin banyak menjadi pecandu minuman keras. Itulah sebabnya, Muslimin melindungi diri dengan ikut fitness.
"Dulu awal pertama kali saya ikut fitness itu tujuannya kira-kira kalau berantem itu sekali mukul langsung pingsan orangnya," ungkap Muslimin.
Sebelum angkat besi, Muslimin menekuni tinju tetapi orang tuanya tidak mengizinkan.
"Orangtua saya nangis semalaman di kasih pencerahan. Angkat besi dulu awalnya juga tidak diperbolehkan orangtua tetapi saya kasih penjelasan dan saya praktekan," ujarnya.
Kedua orangtua Muslimin akhirnya luluh, ia pun lantas mulai berjuang menekuni angkat besi. Di tengah keterbatasan Muslimin melakukan ini.

"Saya kenal mas Agus, lalu diajak latihan angkat besi di PABSI stadion Gajayana. Itu posisi saya masih kerja becak. Kalau siang waktu luang habis main sama teman," tuturnya.
Selama 5 tahun ia melakoni kegiatan itu. Berangkat ke Stadion Gajayana untuk latihan, Muslimin mengayuh sepeda. Dari 1996 sampai 2000 ia berhenti ikut Puslat, baru pada tahun 2003 mulai dipanggil kembali untuk ikut latihan.
Pada masa itu, peluang cabang olahraga besi terbuka lebar. Persaingan masih sedikit sebab sedikit atlet yang menekuni cabang olahraga itu.
Perjuangan Muslimin mengubah kehidupan lewat olahraga perlahan dimulai. Sewaktu mengikuti Puslatda, ia mendapat gaji Rp 500 ribu.
Prestasi demi prestasi ia raih. Pundi-pundi rupiah mulai ia kumpulkan. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008 di Kalimantan Timur Muslimin meraih medali emas.
"Saya dapat hadiah Rp 94 juta. Waktu itu, istri saya hamil 7 bulan. Uang hasil menang itu lalu saya buat bangun rumah yang saya tempati sekarang yang dulunya masih berupa tanah warisan dari orang tua," katanya.
Muslim bersyukur hidupnya kini berubah. Ia kini memiliki rumah berkat prestasi di cabang olahraga angkat besi. Usai pensiun, Muslimin tetap mengabdi dengan jalan menjadi pelatih.
"Sekarang saya melatih, kebanyakan anak sekolah SMP dan SMA. Sampai sempat tempat latihan saya dikunjungi oleh staf Menpora," tandas pria ramah ini.(*)
