H.M Soeharto

H.M Soeharto

Foto: Wikipedia

Nama : H.M Soeharto
Profesi : Presiden Republik Indonesia
Agama : Islam
Tempat Lahir : Bantul, Yogyakarta
Tanggal Lahir : 08 June 1921
Zodiac :
Warga Negara : Indonesia
Keahlian : Militer
BIOGRAFI

Pada 8 Juni 1921, Sukirah melahirkan bayi laki-laki di rumahnya yang sederhana di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Kelahiran itu dibantu dukun bersalin bernama Mbah Kromodiryo yang juga adik kakek Sukirah, Mbah Kertoirono. Oleh ayahnya, Kertoredjo alias Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro bayi laki-laki itu diberi nama Soeharto. Dia adalah anak ketiga Kertosudiro dengan Sukirah yang dinikahinya setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro yang menjadi petugas pengatur air desa atau ulu-ulu, dikaruniai dua anak. Perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Keduanya bercerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Sukirah menikah lagi dengan Pramono dan dikaruniai tujuh anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo.

Belum genap 40 hari, bayi Soeharto dibawa ke rumah Mbah Kromo karena ibunya sakit dan tidak bisa menyusui. Mbah Kromo kemudian mengajari Soeharto kecil untuk berdiri dan berjalan. Soeharto juga sering diajak ke sawah. Sering, Mbah Kromo menggendong Soeharto kecil di punggung ketika sedang membajak sawah. Kenangan itu tidak pernah dilupakan Soeharto. Terlebih ketika kakeknya memberi komando pada kerbau saat membajak sawah. Karena dari situlah, Soeharto belajar menjadi pemimpin. Soeharto juga suka bermain air, mandi lumpur atau mencari belut.

Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan ayah tirinya, Pramono pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro kemudian memindahkan Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra paling tua dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya.

Kegemaran bertani tumbuh selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Sepulang sekolah, Soeharto belajar mengaji di sanggar bersama teman-temannya. Belajar mengaji bahkan dilakukan sampai semalam suntuk. Ia juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan dan mulai mengenal para pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang sampai ke desa. Setamat Sekolah Rendah (SR) empat tahun, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Setelah berusia 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah Hardjowijono. Pak Hardjowijono adalah teman ayahnya yang pensiunan pegawai kereta api. Hardjowijono juga seorang pengikut setia Kiai Darjatmo, tokoh agama terkemuka di Wonogiri waktu itu.

Karena sering diajak, Soeharto sering membantu Kiai Darjatmo membuat resep obat tradisional untuk mengobati orang sakit. Soeharto kembali ke kampung asalnya, Kemusuk untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Itu dilakukannya karena di sekolah itu siswanya boleh mengenakan sarung dan tanpa memakai alas kaki (sepatu).

Setamat SMP, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai karena kondisi ekonomi. Soeharto pun berusaha mencari pekerjaan ke sana ke mari, namun gagal. Ia kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana, ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volk-bank). Tidak lama kemudian, dia minta berhenti.

Suatu hari pada tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL). KNIL adalah tentara kerajaan Belanda. Ia mendaftarkan diri dan diterima menjadi tentara. Waktu itu, ia hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan, karena Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke Dusun Kemusuk. Justru di sinilah, karier militernya dimulai.

PENDIDIKAN

SD Godean Yogyakarta

Sekolah Rendah Wuryantoro

SMP Muhammadiyah Yogyakarta

Sekolah Militer Gombong

KARIR

Non-Militer/Politik:

Pembantu klerek Bank Desa Wuryantoro

Militer/Politik:

Sersan KNIL (1942)
Kopral TNI (1945)
Komandan Brigade Garuda Mataram
Letnan Kolonel (setelah perang kemerdekaan)
Komandan Resimen Infenteri 15 (1953)
Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang (1956)
Kolonel (1957)
Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (1960)
Panglima Korps Tentara I Caduad (1961)
Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan merangkap sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur di Makassar (1962)
Mayor Jenderal (1962)
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) (1962-1965)
Menteri Panglima Angkatan Darat
Panglima Kopkamtib (1965)
Presiden Republik Indonesia (1965-1999)

  • Inilah Berbagai Kasus Penistaan Islam yang Hebohkan Masyarakat

    Kasus penistaan Islam di Indonesiamemiliki sejarah yang cukup panjang. Sebelum Ahok, beberapa nama populer pernah juga tersandung masalah ini.

  • Hotel Pelangi, Favorit Bule Belanda

    Berlokasi di Jalan Merdeka Selatan nomor 3 Kota Malang Hotel Pelangi menjadi jujugan wisatawan asing. Tak lain karena hotel yang berdiri sekitar tahun 1915 ini merawat bangunan tua nan klasik.

  • Teater Sederhana, Energi Bangun Pagi Bahagia

    Setelah sore harinya menggelar launching buku puisi berjudul Energi Bangun Pagi Bahagia, Andy Sri Wahyudi selaku penulis juga menggelar teater sederhana pada malam hari di Laboratorium Drama Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Rabu (12/10/2016) ...

  • Buku Hidup Sang Penyintas Peristiwa 1965 dari Lereng Gunung Gede

    Namanya Rosidi, usia 86 tahun, pekerjaan pengrajin kayu dan bambu. Dulu, 1965, bekerja di perkebunan teh Goalpara, Sukabumi yang membuatnya menjadi tahanan politik.

  • Lewat Buku, Mantan Menteri Ini Cerita Blak- blakan

    Perpustakaan UB (Universitas Brawijaya) bersama tokoh pengarang buku Sepanjang Jalan Kenangan, Wardiman Djojonegoro mengadakan bincang buku sambil ngopi serta berbagi pengalaman dan kunci kesuksesan di ruang pertemuan Perpustakaan UB, Minggu (18/09/2016).

Komentar Anda

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top