Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid

Foto: Wikipedia

Nama : Abdurrahman Wahid
Profesi : Presiden Republik Indonesia
Agama : Islam
Tempat Lahir : Jombang, Jawa Timur
Tanggal Lahir : 07 September 1940
Zodiac : -
Warga Negara : Indonesia
Keahlian : Politikus
BIOGRAFI

Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya'ban 1359 Hijriah, sama dengan 7 September 1940.
Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk".Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Saudaranya adalah Salahuddin Wahid dan Lily Wahid. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alisa, Yenny, Anita, dan Inayah.

Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa.Abdurrahman Wahid mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V. Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.

Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada akhir perang tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Wahid juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pendidikan Wahid berlanjut dan pada tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan belajar di SMP. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959, Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

PENDIDIKAN

SD KRIS
SD Matraman Perwari
Sekolah Menengah Pertama
Pondok Pesantren Krapyak
Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo
Pesantren Tambakberas di Jombang
Studi Islam di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir
Pendidikan prasarjana Universitas Baghdad

KARIR

Guru Madrasah
Kepala Sekolah Madrasah
Jurnalis Majalah Horizon
Jurnalis Majalah Budaya Jaya
Jurnalis Majalah Asosiasi Pelajar Indonesia di Mesir
Kedutaan Besar Indonesia
Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES)
Kontributor utama Majalah Prisma
Guru di Pesantren Tambakberas
Guru Kitab Al Hikam
Dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam Universitas Hasyim Asyari
Dewan Penasehat Agama Nahdlatul Ulama
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Ketua Dewan Penasehat partai PKB
Presiden Republik Indonesia

  • Harlah NU di Jatim Bernuansa PDI Perjuangan

    Peringatan Harlah ke-93 Nahdlatul Ulama di Jawa Timur mempunyai kesan dan nuansa berbeda dengan acara serupa di tahun-tahun sebelumnya. Pada harlah bertema Meneguhkan Pancasila Mengibarkan Merah Putih di Taman Candra Wilwatikta,

  • Khofifah: Perempuan Jangan Berperilaku Imitatif

    Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menilai kecantikan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari fisik. Seorang perempuan dikatakan cantik apabila mampu menjadi diri sendiri dan tidak melakukan perilaku imitatif.

  • Satu Jam Dua Ibu Meninggal, Mensos Ajak Suami SIAGA

    Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa angka kematian ibu akibat komplikasi persalinan di Indonesia masih tinggi.

  • Romi di Pusaran Fusi yang Tak Selesai

    Dua kali terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) secara aklamasi. Itulah yang terjadi pada politisi muda Muhammad Romahurmuziy.

  • KH Hasyim Muzadi: Pesantren Harus Pertahankan Fikrah Aswaja Annahdiyah

    Mantan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi, memberikan perhatian cukup serius terhadap lembaga pendidikan Pesantren. Sebab, periode awal dakwah Islam dilakukan para wali di Indonesia dan dilanjutkan ulama-ulama pesantren.

Komentar Anda

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top