Munir Said Thalib Al-Kathiri

Munir Said Thalib Al-Kathiri

Foto: Wikipedia

Nama : Munir Said Thalib Al-Kathiri
Profesi : Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial
Agama : Islam
Tempat Lahir : Malang
Tanggal Lahir : 08 December 1965
Zodiac : Sagitarius
Warga Negara : Indonesia
Keahlian : Aktivis
BIOGRAFI

Membangun sebuah bangsa adalah membangun sebuah peradaban (Munir)

Keadilan. Barangkali keadilan adalah satu kata yang paling sensitif bagi sebagian besar orang, khususnya masyarakat Indonesia. Betapa tidak, jika pada orde baru banyak sekali aktivis hak asasi manusia yang memperjuangkan nasib rakyat lewat jalur independen dan cenderung menentang pemerintahan yang berkuasa kala itu harus rela hilang dan tidak kembali atau kembali dalam keadaan tidak bernyawa. Berhasil digulingkan pada tahun 1998, Indonesia akhirnya ada pada titik yang disebut reformasi. Namun, berganti menjadi reformasi ternyata tidak berarti bagi pejuang hak asasi manusia. Lihat saja contohnya, pembunuhan di pesawat pada aktivis hak asasi manusia yang dikenal sangat tajam dalam mengkritik pemerintahan, Munir Said Thalib.

Berawal dari melambungnya nama Munir sebagai salah satu pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik oleh Tim Mawar dari Kopassus setelah masa tergulingnya Soeharto dari pemerintahan, Munir ternyata menjadi target pembunuhan selanjutnya. Banyak asumsi menyebutkan, dari Munir, kebenaran tentang kasus penculikan yang ada pada masa itu akan terkuak. Jauh sebelum namanya melambung, sejak tahun 1998, pria kelahiran Malang, 8 Desember 1965 ini telah banyak berkontribusi dalam memperjuangkan hak asasi manusia. Ia bahkan dikenal berani dalam bertindak.

Beberapa kasus pelanggaran HAM yang berhasil ditangani Munir salah satunya adalah kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta (1997-1998), pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok (1984 hingga 1998), dan penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi I dan II (1998-1999). Terlebih dari itu, masih banyak kasus yang sedikit demi sedikit membuat namanya semakin banyak dikenal masyarakat.

Dulunya, semasa kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, ayah dari dua anak ini aktif berorganisasi dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Latar belakang lain kegilaannya dalam dunia hukum dan hak asasi manusia dipengaruhi oleh perkenalannya dengan sosok demonstran bernama Bambang Sugianto yang acap kali mengajaknya berdebat dan membuatnya terpacu untuk menekuni dunia hukum lebih lanjut.

Ditambah lagi dengan pengaruh buku tentang memperjuangkan nasib buruh yang ia baca, semakin menambah ketertarikannya untuk menekuni dunia perburuhan. Hingga pada tahun 1996, suami dari Suciwati ini mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Dari sanalah tindak agresifnya demi kemajuan hak asasi manusia semakin terlihat nyata. Tak hanya Kontras, Munir juga mendirikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, Imparsial.

Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh (Munir)

Lincah dan berani dalam menentang ketidakadilan pada pemerintahan orde baru membuat Munir tidak disenangi oleh kalangan petinggi sekaligus menjadi target operasional intelejen. Hal inilah diduga banyak orang sebagai latar belakang pembunuhan Munir yang terjadi di pesawat tujuan Belanda.

Berkeinginan untuk melanjutkan studi di Universitas Ultrech, Munir yang sudah banyak diincar oleh orang-orang yang tidak suka dengan perjuangannya ternyata telah direncanakan pembunuhan atasnya. Saat itu, pesawat baru saja tinggal landas dari bandara Changi Singapura, Munir yang sebelumnya minum jus jeruk tiba-tiba mengeluh sakit perut, menduga jika maagnya kambuh akibat jus jeruk dan meminta obat pada pramugari yang tengah melintas saat itu. Namun, obat yang dikehendaki Munir tidak tersedia saat itu, sehingga Munir hanya bisa menahan sakit dan berulang kali muntaber serta buang air besar.

Hingga perjalanan sampai di India, Munir meminta pramugara untuk memanggilkan dokter Tarmizi yang kebetulan sempat berkenalan saat transit di Singapura. Banyak cara yang dilakukan dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular tersebut untuk membantu Munir, diantaranya dengan memberikan obat sakit perut New Diatabs serta obat mual dan perih kembung Zantacts dan Promag yang dibawa Tarmizi sendiri karena pihak pesawat tidak menyediakan obat saat itu. Tak berlangsung lama, Tarmizi kemudian menyuntikkan obat antimual dan muntah, Primperam, yang berhasil membuat Munir tertidur selama 2-3 jam.

Namun, lagi-lagi saat itu Munir mengeluh perutnya kembali sakit dan ia memutuskan untuk pergi ke toilet. Karena sakit perutnya tak kunjung reda, akhirnya Tarmizi menyuntikkan Diazepam, obat penenang, pada bahu kanan Munir. Tak bereaksi banyak, Munir masih merasakan sakit pada perutnya. Hingga akhirnya dalam rentang waktu Munir beristirahat sebelum 2 jam pesawat mendarat di Bandara Schipol, purser yang menjaga Munir menemukan Munir tertidur dalam posisi miring dengan air liur tak berbusa. Mendapati pergelangan tangan yang membiru, purser segera memanggil Tarmizi untuk mengecek lebih lanjut. Dan, benar saja, Munir dinyatakan telah meninggal empat puluh ribu kaki di atas tanah Rumania.

Kekerasan Negara: Pemicu Disintegrasi Bangsa (Munir)

Pada 12 November 2004, polisi Belanda yang telah melakukan otopsi mengeluarkan berita mengejutkan yakni ditemukan senyawa arsenik pada tubuh Munir yang diduga diberikan pada jus jeruk yang diminum.

Selang satu tahun, kasus pembunuhan Munir masih tak terungkap. Sejauh itu, hanya Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda, yang dijatuhi hukuman penjara 14 tahun atas keterkaitannya terhadap pembunuhan Munir. Menyusul temuan percakapan antara Polly dan Muchdi Purwopranjono, mantan petinggi BIN dan militer. Muchdi diadili, namun, saat itu hakim memberikan vonis bebas atasnya yang berbalik pada penangkapan hakim yang mengadili Muchdi.

Hingga kini, delapan tahun berselang, masih saja kasus pembunuhan Munir tak kunjung terkuak. Jelas, sengaja ditutupi oleh pihak-pihak yang menyelamatkan diri dari keterkaitan pada kasus tersebut. Begitulah, keadilan di Indonesia. Disingkirkan karena benar.

Berkat upaya dan jasanya yang telah membantu memperjuangkan HAM, Munir yang sebelumnya banyak mendapatkan penghargaan, diusulkan menjadi pahlawan nasional. Kini, Munir dimakamkan di Pemakaman Umum Kota Batu.

Daftar kasus yang pernah ditangani oleh Munir:

  1. Penasehat Hukum dan anggota Tim Investigasi Kasus Fernando Araujo, dkk, di Denpasar yang dituduh merencanakan pemberontakan melawan pemerintah secara diam-diam untuk memisahkan Timor-Timur dari Indonesia; 1992
  2. Penasehat Hukum Kasus Jose Antonio De Jesus Das Neves (Samalarua) di Malang, dengan tuduhan melawan pemerintah untuk memisahkan Timor Timur dari Indonesia; 1994
  3. Penasehat Hukum Kasus Marsinah dan para buruh PT. CPS melawan KODAM V Brawijaya atas tindak kekerasan dan pembunuhan Marsinah, aktivis buruh; 1994
  4. Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur; 1993
  5. Penasehat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi dan perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk pemecatannya sebagai dosen, Jakarta; 1997
  6. Penasehat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta; 1997
  7. Penasehat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan anggota PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996
  8. Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus perburuhan PT. Chief Samsung; 1995
  9. Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur; 1993
  10. Penasehat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta; 1994
  11. Penasehat hukum Muhadi (seorang sopir yang dituduh telah menembak polisi ketika terjadi bentrokan antara polisi dengan anggota TNI AU) di Madura, Jawa Timur; 1994
  12. Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998
  13. Penasehat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok 1984; sejak 1998
  14. Penasehat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi Semanggi I dan II; 1998-1999
  15. Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999
  16. Penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku
  17. Penasehat Hukum dan Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua (bersama KontraS)

 

PENDIDIKAN

Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (1990)

KARIR
  • Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial
  • Ketua Dewan Pengurus KONTRAS (2001)
  • Koordinator Badan Pekerja KONTRAS (16 April 1998-2001)
  • Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998)
  • Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997)
  • Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996)
  • Direktur LBH Semarang (1996)
  • Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995)
  • Koordinator Divisi Perburuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993)
  • Ketua LBH Surabaya Pos Malang
  • Relawan LBH Surabaya (1989)
  • Sekretaris BPM FH Unibraw (1988)
  • Ketua Senat Mahasiswa FH Unibraw (1989)
  • Anggota HMI Komisariat Hukum Unibraw
  • Ketua Umum Komisariat Hukum Unibraw HMI Cabang Malang
  • Sekretaris Al Irsyad Kabupaten Malang (1988)
  • Divisi Legal Komite Solidaritas untuk Marsinah
  • Sekretaris Tim Pencari Fakta Forum Indonesia Damai.
  • Mengingat Kembali Sosok Pejuang HAM Munir

    HAM (Hak Asasi Manusia) merupakan hal penting yang dimiliki manusia dan wajib diakui oleh semua warga di dunia dan sudah ada undang-undang yang mengatur mengenai HAM.

  • Urai Pelanggaran HAM Lewat Pameran Benang

    Wajah dan dinamika kehidupan almarhum Munir, Marsinah dan Wiji Thukul menjadi ide dalam pameran lukisan dan instalasi bertajuk Merajut Mengurai di Galeri Raos Kota Batu, Minggu (22/5/2016).

  • Ingin Cara Mudah Belajar HAM? Cukup dari Petikan Munir

    Omah Munir yang berada di Jalan Bukit Berbunga Desa Sidomulyo Kota Batu menyimpan banyak kalimat bijak atau quotes tentang perjuangan hak asasi manusia (HAM). Kalimat-kalimat tersebut terbingkai di dinding ruang pameran seluas 250 meter persegi.

  • Lanud Abdulrahman Saleh Dirikan Polikinik di Singosari

    Berupaya lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrahman Saleh mendirikan Poliklinik Garuda di Singosari, yang berada di kawasan permukiman penduduk.

  • Messi Matikan Perlawanan Malaga

    Gol apik Lionel Messi menentukan kemenangan Barcelona ketika menaklukkan tuan rumah Malaga 2-1, Sabtu (23/1/2016).

Komentar Anda

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top