Membaca kisah-kisah berikut, saya awal dan (mungkin) akhirnya tidak akan percaya. Bukan karena saya orang yang tidak percayaan pada sesuatu. Bukan. 

Bahkan sebaliknya, saya orang yang paling gampang (an) percaya. Percaya, bahwa berbuat baik di dunia itu tidak selamanya berbuah arumanis, apalagi Arumi Bachsin. Percaya, bahwa manusia dengan segala atribut fisik yang disebut kelengkapan beragama, tidak membuatnya menjadi pemilik dan tukang kapling surga. Percaya....

"Dodol, sama saja loe kagak percayaan brow..." potong NURANI (saya sengaja pakai capslok, agar tidak tertukar atau terbaca NURANI jadi NURAINI, artis sinetron tahun 90-an yang memiliki lesung pipi yang menggoda).

"Manjang-manjangin tulisan aja loe ah Dodol.." sungut NURANI lagi. 

"Lah biar terang NUR, sekarang zamannya orang gampang menafsir-nafsir. Yang jelas aja ditafsirkan biar enggak terlalu jelas kok. Sudah jangan potong-potong, saya akan melanjutkan omongan saya lagi," bantah dan sergahku ini.

Nah, membaca kisah-kisah berikut ini, entah kenapa saya semakin percaya. Bahwa pendidikan tinggi kadang tidak linier dengan namanya kecerdasaan apalagi nasib baik. Atau tidak menjamin bisa membela nalar sehat sebagai manusia saat dihadapkan pada pilihan kata neraka dan surga. 

Kata yang membuat manusia bisa berubah 180 derajat dari kesehariannya yang puluhan tahun dijalani. Lengkap dengan preferensi pendidikan, pengalaman dan tetek bengek lainnya di dunia yang dijalaninya.

Kata yang juga membuat orang-orang rela meninggalkan keduniawian sampai pada tindakan di luar nalar sehat manusia kebanyakan. Jadi pengantin, misalnya. Bukan pengantin yang di bulan-bulan ini bikin kita kelimpungan karena kebanyakan dapat "buwuhan". Tapi, pengantin bunuh diri. BOM Berjalan.

Hijrah. Mereka melakukan hijrah karena konsep Neraka dan Surga yang dibenamkan ke otak-otak manusia oleh manusia lainnya yang saya percaya bukanlah Nabi. Konsep yang menihilkan kehidupan dunia dan melebarkan selapang-lapangnya kehidupan di alam setelah semuanya ditutup oleh sang Pemilik. Plus dengan redaksi, "Ditunggu 7 bidadari surga."

Kata Habieb Selow, akun satir dengan bio "Laskar Perisai FPI-Perjuhwangan Alweis and Vorefer - Anti UFO - Segitiga Berenda /Iluminasi" yang pakai nama @WagimanDeep, enih dinamaken dengan Hijrah Istiqomah.

Si Habieb dengan pengikut 25,7 ribu orang dan aktif di medsos ini (mungken die mo niru-niru Habieb atawa ustad-ustad yang getol cerameh di medsos. Kaya die niru nama akun e dengan nama artis Hollywood Jony DEEP tuh). 

Juga ngikutkan kicauan sumbangnya itu dengan tangkapan layar empat kisah hijrah Istiqomah yang disebutnya itu.

Nih sontak saja bikin warganet Twitter kelimpungan. Ibarat dicuci otaknya, ambrol sudah tuh komentar sama rebutan berbagi kisah di akunnya itu.

@ismail44303472 misalnya, berbagi kisah hijrah istiqimah, seperti ini :"Anak org paling kaya Di kampung ku... Dulunya Ikut pengajian trus istrinya pun pake cadar.... 5 tahun ikut pengajian skrg Tidur Di masjid bawa alat alat masak..... Rumah dll Habis Di jual..... Katanya mau tidur dan hidup Di rumah ALLAH aja..... Skrg makan Di kasih org," kisahnya.

Yang lain juga ikut berbagi. @IbrahimFahri3 berkicau begini, "Abang ipar aq anggota @PKSejahtera di Mdn,sakit diabetes sdh parah tapi tdk mau berobat pakek krtu bpjs, kata murobbinya haram ikut program pemerintah Jkwi, mau berobat ke spesialis tdk pnya uang, sakit tdk diobati smkn parah, akhirnya salah satu kakinya di amputasi,d baru meninggal," cuitnya sedih tapi gregetan juga dengan kepercayaan abang iparnya itu.

Sedangkan kisah hijrah Istiqomah lainnya yang tak kalah bikin geleng kepala tamatan SMP adalah yang di bagikan si Habieb Selow itu (Padahal gue pinginnya die itu bagi-bagi duwit kaya si @anwarkin tuh di Twitter. Kagak bagi-bagi cerita doang sih) lewat tangkapan layarnya.

"Sepupuku ada mbk, suami di bank BRI istri bank BNI. Keduanya resign setelah rutin ikut pengajian. waktu masih kerja rutin ngasih ibunya yang janda uang untuk bayar listrik dan beli beras. Setelah resign suaminya ngegrab terakhir dapat kabar suaminya di rumah saja. Dan kami para sepupu sempat tanya, "Dek surga mana yang kamu kejar kalau untuk kasih biaya hidup ibumu saja kamu hilangkan,". Sekarang sepupuku dan suami penampilannya sudah mirip orang kebanyakan itu hitam," kisahnya.

Kisah hijrah Istiqomah mengutip istilah Habieb Selow ini, banyak sekali bertebaran di dunia maya. Lepas sekali lagi saya percaya atau tidak, berbagai kisah bak 1001 malam ala timur tengah ini, marak sekali diperbincangkan. Tak kalah dengan omongan terkait khilafah, FPI, HTI, ISIS, Papua dan sebagai-bagainya. 

"Terus loe biasanya kalau ngomong-ngomongan ngomongin apa brow..." selak NURANI.

Saya tidak ingin terpancing dengannya. Karena pasti kalaupun saya debat pasti kalah. Dan saya anti kalah kalau sudah berdebat. Ya mirip-mirip para warganet yang suka berdebat terkait hal-hal di atas. Maka saya sodorkan saja ucapan warganet untuk menjawab kebawelan NURANI.
@AkhwanNoer77 menyatakan, "Agama itu jalan manusia agar bahagia dunia akhirat. Kalo mempersulit hidup apakah itu ajaran agama?? Memberi Nafkah keluarga adalah Jihad sesungguhnya," tulisnya yang saya Amini walau belum bisa saja lakoni secara Istiqomah terkait memberi nafkah keluarga.

Saya juga sodorkan jawaban atas kisah yang memper-memper terkait para manusia yang awalnya giat bekerja untuk diri dan keluarganya, mapan secara ekonomi dan status. Akhirnya meninggalkan semua itu gegara mengejar Surga yang diembus-embuskan oleh mereka yang memberinya pelajaran.

@sarmus09 mengatakan, "Nabi2 aja yg kekasih Allah, semuanya kerja, lha kok dia enak aja di mesjid, istri dan anak gak dikasih nafkah. Hello..." kicaunya.

Jawaban yang saya sodorkan ke NURANI di ping pong ulang ke saya dengan santainya.
"Terus loe kagak kaya kisah-kisah di atas tah? Tau sendiri mapan ekonomi enggak, status ya dipertanyakan, apalagi ibadah loe. Kan masih asyikan mereka tuh, punya pilihan hidup, walau bikin bingung sekitarnya," ucapnya.

"La loe kayak orang sibuk ngejar dunia tapi dapatnya ya tipis-tipis saja. Gadaikan kehidupan akherat lagi. Bener kan, bener kan ?," cerocosnya.
Aku pura-pura budeg sambil sibuk memainkan hape dan sesekali nyeruput kopi. Pura-pura cuek dengan suara si NURANI dan sekitarnya. Karena saya percaya dengan menebalkan pura-pura, saya bisa jadi bagian dari komunitas sebelah.
*dd Nana -hanya penikmat kopi lokal biasa