MALANGTIMES - Patut disayangkan perkembangan zaman yang semakin modern terkadang membuat kalangan remaja khususnya pelajar di Kabupaten Malang, saat ini mulai melupakan warisan para leluhur. 

Padahal jika digali lebih jauh, daerah yang memiliki slogan The Heart of East Java ini memiliki segudang potensi. 

Khususnya dibidang permainan tradisional, bahasa, dan kebudayaan.

Hal ini disampiakan langsung Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang, Puji Hariwati. 

Menurutnya, minimnya minat pelajar akan potensi kebudayaan dapat diantisipasi dengan beberapa opsi jitu. 

Salah satunya dengan cara menerapkan pembelajaran berbasis seni peran dalam metode pembelajaran.

”Ke depan, kami (Disdik Kabupaten Malang) akan mendorong seluruh sekolah mulai dari SD, SMP, hingga SMA, baik negeri maupun swasta agar menerapkan sistim pembelajaran melalui metode bermain seni peran,” kata pejabat pemerintahan yang akrab disapa Puji ini.

Pihaknya menambahkan, metode pembelajaran melalui seni peran ini, sedikitnya dapat diterapkan melalui empat mata pelajaran.

Keempat mata pelajaran itu meliputi Bahasa Indonesia, Sastra (seni), Sejarah, dan PPKn.

”Selain keempat mata pelajaran tersebut, saat siswa didorong untuk memainkan sebuah peran maka secara tidak langsung pelajaran bahasa juga akan dipraktekkan oleh para siswa. Misalnya saat bermain ketropak, para pelajar tentunya akan didorong untuk mempraktekkan bahasa daerah. Sebab dalam pertujukan ketoprak memang menggunakan Bahasa Jawa,” terang Puji.

Jika seni peran sudah diterapkan di kalangan pelajar, lanjut Puji, diharapkan ke depan bakal muncul generasi penerus terutama di kalangan remaja guna mempertahankan tradisi dan kebudayaan yang dimiliki oleh Kabupaten Malang.

Bahkan, Puji juga berharap jika metode pembelajaran melalui seni peran sudah diterapkan. 

Maka akan mendatangkan segudang prestasi dibidang seni. 

Menurutnya berprestasi tidak hanya dibidang akademik dan olah raga. 

Namun potensi di bidang kesenian dan kebudayaan juga bisa dikatakan sebagai suatu prestasi.

”Belajar itu intinya bisa memahami, dengan bermain peran secara tidak langsung para siswa dituntut untuk memahami perannya masing-masing. Maka secara otomatis siswa akan paham terhadap pelajaran bahasa, sejarah, sarta, dan pelajaran kewarganegaraan, serta seluruh pelajaran yang disampaikan melalui seni peran” tutup Puji saat ditemui wartawan disela-sela agenda pentas seni ketropak yang dihelat di acara Expo Pembangunan Kabupaten Malang 2019, Sabtu (7/9/2019) tengah malam.