MALANGTIMES - Berbagai cara dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang dalam pemajuan kebudayaan daerah. 

Salah satunya, dengan melibatkan peran serta masyarakat yang peduli akan kebudayaan dan penggiat cagar budaya.

Ratusan penggiat budaya, pelestari budaya, pelindung budaya, hingga tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki konsen di bidang kemajuan kebudayaan dan cagar budaya diundang untuk mengikuti sosialisasi Perundang-undangan Pemajuan dan Strategi Kebudayaan Perda Kota Malang no 1 tahun 2018 tentang Cagar Budaya yang di gelar Disbudpar Kota Malang, Kamis(29/8/2019).

Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni mengatakan sosialisasi tersebut berkaitan dengan undang-undang pemajuan kebudayaan dan tentang perda cagar budaya yang sudah dimiliki Kota Malang. 

Ia menjelaskan hampir semua daerah di Indonesia telah membuat PPKD (pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah) untuk diinvertarisir apa saja yang menjadi objek pemajuan kebudayaan. 

Namun, pengembangannya dirasa masih belum berjalan dengan tepat.

Setidaknya ada 10 objek pemajuan kebudayaan, di antaranya tradisi lisan, ritus, manuskrip, adat istiadat, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, dan bahasa.

"Hampir semua daerah ini ada, tetapi belum dikembangkan. Sehingga, dengan adanya undang-undang pemajuan kebudayaan mau tidak mai 10 objek itu harus diatur tata kelolanya," ujar dia.

Ia menambahkan, pedoman undang-undang pemajuan kebudayaan berasal dari pokok-pokok pemikiran pemajuan kebudayaan yang ada di Kabupaten/Kota, provinsi, dan strategi kebudayaan serta rencana induk pemajuan kebudayaan. 

Di mana, semuanya itu telah dibuat oleh pemerintah pusat, sehingga sudah menjadi kewajiban setiap daerah untuk melaksanakannya.

"Sekarang, tugas dari Disbudpar karena sebagai pihak yang menangani tentang budaya kewajiban kita untuk menyosialisasikan, kemudian mengembangkan dan dipublikasikan," imbuhnya.

Targetnya, lebih lanjut ia menyatakan baik masyarakat khususnya penggiat kebudayaan akan memahami poin-poin 10 objek kebudayaan tersebut. 

Sehingga, dengan melibatkan masyarakat dalam pengembangan strategi pemajuan kebudayaan hasil dari produk-produk berkualitas yang telah dibuat oleh seniman budayawan bisa lebih meluas untuk dikenal, permainan tradisional salah satunya.

Nah, keterlibatan dari penggiat budaya dan masyarakat sangat penting dilakukan. 

Karena, di Kota Malang sebenarnya potensi tersebut dinilai sudah tinggi, tetapi gema nya masih dirasa kurang maksimal. 

Karena itu diharapkan melalui sosialisasi tersebut mereka akan lebih tahu dan memahami bagaimana memajukan 10 objek pemajuan kebudayaan tersebut.

"Seperti saat Festival Kendaraan Hias kemarin ada yang menampilkan permainan tradisional egrang. Artinya bibit-bibit itu ada, cuma gemanya belum maksimal. Nah, di sinilah nanti harapannya, akhirnya mereka lestarikan, mereka kembangkan, mereka pelihara dan mereka manfaatkan untuk semakin bottom-up," pungkas wanita yang juga menjabat sebagai Plt Kepala Dispora Kota Malang ini.