Kisah Tragis Anak-Anak yang Mati di Tangan Orang Tua Sendiri

Ilustrasi (kriminologi.id)
Ilustrasi (kriminologi.id)

MALANGTIMES - Setiap tahun,  anak-anak tanpa dosa bertumbangan tewas di tangan orang tuanya sendiri. Dengan berbagai pemicu,  para orang tua yang seharusnya menjadi pelindung terdepan anak-anak malah berbalik. Di tangan mereka, anak-anak tak berdosa meregang nyawa. 

Depresi berat adalah salah satu pemicu dari terjadinya tragedi kemanusian tersebut. Seperti yang menimpa bocah berusia 8 tahun dari Pagak bernama Syaiful Anwar yang meregang nyawa setelah ibu kandungnya menghajar membabi buta tubuh kecilnya. 

"Saya depresi berat dengan lingkungan rumah. Bertahun-tahun saya dikucilkan mereka," ucap Ani Musrifa (40) ibu kandung korban warga  Dusun Tempur RT 02 RW 11 Desa Pagak,  Kecamatan Pagak, beberapa hari lalu sambil menangis. 

Menengok kasus pembunuhan anak-anak di tangan orang tuanya sendiri,  membuat siapa pun miris dan menangis. Berbagai cara kejam,  mereka menyakiti,  melukai sampai membuat tewas anak-anak yang belum mengetahui kerasnya dunia. 

Berbagai motif pun mencuat dalam kasus tersebut. Seperti yang dialami Ani di Pagak. Lantas,  motif dan cara seperti apakah yang membuat para orang tua begitu tega melakukan hal tidak manusiawi tersebut. MalangTIMES merangkum beberapa kasus pembunuhan anak oleh orang tuanya sendiri. 

1. Pukuli Anak Pakai Gayung Mandi

Kasus yang awalnya dipicu karena anaknya mengambil uang Rp 51 ribu milik ibunya sendiri bernama, Ani Musrifa, warga Pagak,  Kabupaten Malang, ternyata merupakan akumulasi emosi bertahun-tahun. Ani merasa di lingkungan rumahnya dia dan anaknya yang menjadi korban pelampiasan emosi,  dikucilkan dan selalu jadi objek kesalahan. 

Depresi berat pun menumpuk di jiwanya bertahun-tahun dan meledak saat pemicu kecil terlepas. Anaknya dihajar dengan gayung mandi bertubi-tubi. Dimungkinkan saat melakukan hal tersebut,  korban jatuh di kamar mandi dan terbentur kepalanya. Sebab, dari otopsi pihak rumah sakit ditemukan perdarahan otak dan kepala pada jasad korban. 

2. Balita Digorok Ibu Kandung

Pembunuhan sadis yang terjadi di Grobogan, Jawa Tengah, terhadap bocah berusia balita bernama M. Azka membuat geger warga Dusun Semen, Tambakselo, Wirosari. Sang anak tewas dengan leher tergorok yang menyebabkan luka sepanjang 10 sentimeter. 

Perbuatan sadis Umi Nurhidayah,  ibu kandung korban,  diketahui saat suaminya Sukimin pulang kerja. "Anak saya diseret istri saya dalam kondisi leher tergorok dan meninggal saat itu," ucap Sukimin yang saat itu histeris melihat yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri, Desember 2016 lalu. 

3. Polisi Mutilasi Kedua Anak Kandung

Ditengarai mengidap skizofrenia dan kerap kesurupan,  polisi bernama Brigadir Petrus Bakus melakukan perbuatan keji terhadap Fabian dan Amora,  dua anak kandungnya sendiri. Petrus memutilasi kedua anaknya  yang masih balita itu. 

Kejadian yang terjadi di rumah dinas lingkungan asrama Polres Melawai,  Kalimantan Barat, ini sontak membuat pihak kepolisian bergerak cepat dan menahan pelaku untuk dilakukan pemeriksaan kejiwaannya. 

4. Diberi Racun,  Tiga Anak Tewas di Jombang

Kasus lain pembunuhan oleh ibu kandung terhadap anak-anaknya terjadi di Jombang,  Jawa Timur. Evy Suliastin Agustin (26) memberikan racun  berupa obat nyamuk cair ketiga anaknya,  yaitu Sayid Mohammad Syaiful Alfaqih (6), Bara Viadinanda Umi Ayu Qurani (4) dan Umi Fauziah (4 bulan). Ketiga anak ditemukan tewas di kamar mandi,  selain Evy yang juga menegak racun tersebut. 

Persoalan dalam rumah tangga menjadi pemicu tindakan Evy mengakhiri ketiga buah hatinya. Sedangkan dirinya terlepas dari kematian setelah warga menemukannya dalam kondisi kritis. Kejadian tersebut terjadi di awal tahun 2018.

5. Stres, Ibu Tikam Anak 2,5 Tahun

Pretty Hasibuan (32), seorang ibu di Delitua, Medan, Sumatera Utara (Sumut), dengan sadis menikam anaknya sendiri yang masih berusia 2,5 tahun bernama M. Altahir dengan pisau. 

Dari pemeriksaan dan keterangan,  diketahui bahwa janda beranak satu itu suka menutup diri dan tidak nyambung saat berkomunikasi sejak berpisah dengan mantan suaminya. Dia pun tinggal di salah satu kamar bersama abangnya. 

Setelah melakukan pembunuhan terhadap anaknya sendiri,  Pretty sempat juga mengejar dua anak kakaknya. Untungnya,  dua anak tersebut berhasil kabur dan meminta tolong ke luar rumah. 

Berbagai kasus yang memiriskan hati tersebut terus terjadi diberbagai daerah. Menurut psikolog kriminal dari Universitas Casw Western Reserve di Cleveland,  Ohoi, bernama Philip J. Resnick,  ada lima motif yang membuat orang tua membunuh anaknya sendiri. 

Pertama, altruistic filicide. Yakni orang tua percaya bahwa membunuh adalah demi kebaikan anak itu sendiri atau tidak ingin meninggalkan sang anak tanpa sosok ibu. Kedua,  anak yang tidak diharapkan. Ketiga sebagai balas dendam terhadap pasangan. Sedangkan motif lainnya adalah tidak sengaja melakukan pembunuhan seperti kebablasan saat menyiksa anak atau saat orang tua mengalami episode psikotik atau gangguan jiwa. (*) 

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top