Dunia Literasi Kabupaten Malang Tancapkan Kuku di Tingkat Nasional

Bupati Malang Rendra Kresna beserta istri dan jajaran terkait saat berpose bersama dengan tim juri nasional lomba perpustakaan desa/kelurahan nasional 2018 di Pendapa Kabupaten Malang, Kamis (12/7/2018) kemarin
Bupati Malang Rendra Kresna beserta istri dan jajaran terkait saat berpose bersama dengan tim juri nasional lomba perpustakaan desa/kelurahan nasional 2018 di Pendapa Kabupaten Malang, Kamis (12/7/2018) kemarin

MALANGTIMES - Asumsi budaya membaca buku yang semakin mengkhawatirkan di tengah masyarakat,  khususnya di perdesaan, tidak terbukti di Kabupaten Malang. 

Geliat literasi di perdesaan Kabupaten Malang terus bergerak. Sebagian terus menata berbagai kelengkapan dalam dunia baca melalui perpustakaan desa yang terus bertumbuhan di perdesaan. 

Sedangkan untuk perpustakaan desa lainnya terus melejit dalam berbagai lomba di berbagai skala. Sebagai bentuk ruang pembuktian bahwa dunia literasi di Kabupaten Malang tidak seperti asumsi bahwa budaya membaca dalam masa memprihatinkan.

Pembalikan asumsi ini ditunjukkan oleh  perpustakaan di Desa Gampingan,  Kecamatan Pagak,  yang mewakili provinsi Jawa Timur (Jatim). Perpustakaan tersebut masuk dalam lomba tingkat nasional 2018. Setelah menancapkan kukunya sebagai juara pertama di tingkat Jatim. 

Sukowiyono Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Malang menyatakan,  melajunya perpustakaan Desa Gampingan,  Pagak, ke level nasional  merupakan bukti bahwa geliat literasi di Kabupaten Malang terus tumbuh. 

"Perpustakaan Desa Gampingan telah membuktikannya. Ini bukti nyata bahwa program pemerintah kabupaten malang dalam membangkitkan budaya baca masyarakat perdesaan berjalan baik," kata Sukowiyono kepada MalangTIMES, Jumat (13/7/2018). 

Sukowiyono melanjutkan, pihaknya optimis dalam lomba perpustakaan umum (desa/kelurahan) tingkat nasional tahun 2018, perpustakaan Desa Gampingan bisa meraih hasil positif. 

"Kita optimis nama Kabupaten Malang dalam sektor literasi di perdesaan bisa menang. Minimal bahwa dengan masuknya satu perpustakaan ini di tingkat nasional,  bisa memberikan contoh atau praktik baik kepada perpustakaan desa lainnya," ujar Sukowiyono. 

Seperti diketahui,  keberadaan perpustakaan desa yang sampai saat ini berjumlah 227 desa dari total 390 desa dan kelurahan di Kabupaten Malang,  sedang terus berbenah. Baik dari sisi infrastruktur,  buku serta penguatan manajemen perpustakaannya. 

Tentunya, kata Sukowiyono,  bukan persoalan mudah dalam menggeliatkan budaya literasi di perdesaan. Terutama dengan berbagai kendala yang ada di desa itu sendiri. 

"Tapi,  alhamdulillah antara program pemerintah dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat di perdesaan,  gayung bersambut. Kita tinggal melakukan berbagai optimalisasi agar keberadaan perpustakaan desa bisa bermanfaat," ujarnya. 

Dalam lomba Perpustakaan Umum (Desa/Kelurahan) Tingkat Nasional Tahun 2018, tim juri dari tingkat pusat secara langsung terjun ke lokasi Kamis (12/7/2018) kemarin. Tim nasional yang dipimpin oleh  Syamsul Bahri,  sempat diterima oleh Bupati Malang Dr H Rendra Kresna di Pendapa Kabupaten Malang,  Kepanjen.

Rendra Kresna menyampaikan,  melajunya perpustakaan Desa Gampingan,  Pagak, ke tingkat nasional  adalah wujud kerjasama seluruh pihak dalam menyuburkan budaya literasi di Kabupaten Malang. 

Pelaksaan peninjauan lapangan oleh tim nasional di perpustakaan desa Gampingan,  Pagak (for MalangTIMES)

"Berbagai kendala yang ada ternyata dengan kerjasama,  niat membangun untuk kemajuan, gotong royong,  bisa diatasi. Perpustakaan Desa Gampingan patut dijadikan percontohan bagi desa lainnya," ucap orang nomor satu di Kabupaten Malang ini. 

Rendra juga menekankan,  dengan karakteristik setiap desa yang berbeda-beda,  dirinya berharap bahwa pengelolaan perpustakaan desa bisa menonjolkan karakternya masing-masing. 

"Jadi pengelola juga harus terus belajar dan berinovasi. Sehingga keberadaan perpustakaan bisa menarik masyarakat banyak di wilayahnya. Karena membudayakan baca buku harus dimulai dengan menarik perhatian masyarakat terlebih dahulu," ujarnya. 

Tidak mudah tentunya bagi pengelola perpustakaan desa bisa menunjukkan eksistensinya di skala nasional atau pun provinsi. Banyak hal yang harus dilengkapi dari perpustakaan desa hingga bisa menancapkan kukunya. Baik dari sisi manajemen,  administrasi serta berbagai inovasi bagi masyarakat sebagai subjek dalam dunia literasi tersebut. 

Syamsul Bahri ketua tim juri nasional menyampaikan, bahwa bagian kecil penilaian bagi perpustakaan desa bukan hanya banyaknya buku yang ada saja.  Tapi,  lanjutnya,  bagaimana pengelola mampu berinovasi menjadikan perpustakaan sebagai ruang multifungsi bagi masyarakat. 

"Bisa dijadikan tempat berkumpul untuk diskusi,  sharing pengetahuan dan pengalaman serta lainnya. Intinya perpustakaan desa bukan hanya menyediakan buku saja," ujar Syamsul yang secara langsung terlihat antusias meninjau perpustakaan Desa Gampingan, Pagak. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top