Seperti Bermimpi di Siang Bolong, Sarjana Administrasi Ini Jayakan Pertanian Organik

Chairul Dani warga Gondanglegi yang sukses mengangkat petani beras organik dan mengangkat kesejahteraan dan kelestarian tanah (Nana/MalangTIMES)
Chairul Dani warga Gondanglegi yang sukses mengangkat petani beras organik dan mengangkat kesejahteraan dan kelestarian tanah (Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Enam tahun sudah, jebolan sarjana administrasi salah satu kampus di Kota Malang ini berjibaku sendiri. Menghabisi rasa prihatinnya atas apa yang dilihat setiap harinya. Saat Chairul Dani (51) terjun menjadi pedagang beras, sekitar tahun 2005 lalu. 

Chairul yang sejak menjadi pedagang beras dan dekat dengan kehidupan para petani padi,  melihat dengan mata kepalanya sendiri. Mengenai bagaimana para petani hanya memikirkan urusan kuantitas untuk meningkatkan pendapatan. Tanpa berpikir atas tanah yang jadi lahan pertanian mereka yang digelontor bahan kimia terus menerus.  Bahan-bahan yang mewujud dalam berbagai pupuk yang lambat laun merusak kekayaan hayati di dalam tanah. 

"Saat itu saya berpikir dengan keprihatinan dalam dada saya. Saya harus mengubah pola pertanian yang bergantung pada bahan-bahan kimia," kata Chairul,  Rabu (11/7/2018). 

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Ketua Kelompok Tani Singa Yudha,  Gondanglegi,  yang kini beranggota 35 orang, memulai mimpinya.

Mimpi yang oleh banyak pihak disebutnya sebagai mimpi di siang bolong. Chairul bermimpi petani bisa mendapatkan kuantitas padi melimpah tanpa merusak tanah lahannya sendiri dengan berbagai bahan kimia. 

Mimpi di siang bolong ini pun disadari Chairul. Tapi, bukan untuk melupakan rasa prihatinnya serta hidup seperti tidak ada persoalan. Melaksanakan rutinitas seperti kebanyakan orang. Chairul malah menjadikannya cambuk,  agar mimpi itu tertampakkan bentuk dan hasilnya di dunia nyata. 

"Sejak itu saya belajar pertanian organik. Baik lewat buku,  internet maupun bergabung dengan berbagai komunitas pertanian organik. Jatuh bangun dan tentunya banyak sekali kendala yang saya hadapi," kenang Chairul yang menegaskan persoalan pertanian konvensional ternyata kuncinya ada di pemupukan. 

Kondisi inilah yang membuatnya konsentrasi belajar ilmu pemupukan organik. Baik secara otodidak maupun mengikuti kelompok bimbingan pemupukan Indonesia yang merupakan gabungan para sarjana pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Brawijaya serta kampus lainnya. 

Dari pergulatannya dengan dunia pemupukan, pria ini akhirnya terjun menjadi penyuluh pertanian dan relawan pemupukan organik. 

Selesai? Tidak. Chairul semakin memahami berbagai persoalan yang dihadapi petani yang bercocok tanam dengan bahan kimia. Dari kurangnya petugas penyuluh pertanian dibanding jumlah petani. Sampai pada berbagai penolakan dari petani sendiri saat disosialisasikan tentang pertanian model organik. 

"Masyarakat kita butuh hasil yang bisa dilihat mata. Kalau hanya bermodal bicara saja,  susah. Akhirnya sambil terus menyosialisasikan model organik,  saya bereksperimen di lahan rumah sendiri," ujar pria yang pernah diundang dalam acara talk show Andy F Noya ini. 

Eksperimen pertama pertanian organik Chairul di lahan depan rumahnya (Nana)

Dari hasil eksperimen yang dilakukannya di lahan depan rumahnya,  ternyata Chairul menghasilkan sesuatu yang selama ini dimimpikan petani. Hasil melimpah, tanah terjaga kesuburannya,  harga produksi tinggi.

Hasil uji cobanya di lahan sekitar satu hektar (ha) dengan pola organik dari hulu sampai hilir,  bisa menghasilkan satu ton padi setiap kali panen. 

"Padahal saat itu saya hanya pakai lahan depan rumah. Pakai terpal terus saya kasih tanah. Tapi dari bibit sampai pemupukan pakai bahan organik semua. Ternyata,  hasilnya membuat para petani tertarik," ucap Chairul yang akhirnya mendirikan kelompok tani Singa Yudha dengan keanggotaan sampai saat ini 35 petani dan mengolah lahan seluas 15 ha. "Dari hulu sampai hilir organik semua," imbuhnya. 

Di kelompok tani Singa Yudha inilah kiprah Chairul terus berlanjut. Para anggotanya bukan saja mendapat pembelajaran bertani organik yang baik dan benar saja. Tapi berbagai persoalan dalam bertani padi dikupas dan dipraktekkan. Serupa klinik pertanian yang mampu menyehatkan para petani dari sisi pendapatan sampai pada menjaga keberlangsungan tanah dari serangan berbagai bahan kimia maupun organisme pengganggu tanaman. 

Dari kelompok ini pula,  jebolan sarjana administrasi ini menciptakan mesin yang dinamakan Booslem. Booslem merupakan teknologi dari luar negeri,  tepatnya Jerman, untuk booster essentials microba.

Memiliki fungsi untuk mem-booster mikroba tertentu. Selain juga isolat yang berisi bakteri dengan fungsi untuk meningkatkan hasil pertanian. Bisa juga dipakai sebagai pupuk maupun obat tanaman organik saat diserang hama tanaman. 

Lewat alat pertanian ciptaannya selama dua tahun tersebut, produk pertanian organik petani Gondanglegi semakin berlimpah hasilnya. Beras oganik merah dan hitam setiap bulannya bisa dipanen dengan kuantitas hasil sebanyak dua ton. Beras organik putih,  setiap bulannya bisa dipanen sebanyak 15 ton. 

"Lewat model organik dan alat ini hasil melimpah dan harganya jauh di atas beras konvensional. Terpenting kita bisa panen setiap bulan. Bayangkan dengan pertanian konvensional yang pakai bahan kimia," ucap Chairul yang menyebutkan produk organik mereka di respon baik di Jakarta, Bogor, Bali, Surabaya dan Jawa Tengah.

Harganya,  lanjut Chairul,  untuk beras merah organik dibanderol Rp 22 ribu per kilogram (per kg).  Beras hitam Rp 25 ribu per kg dan Rp 12 ribu per kg untuk beras putih.

"Terpenting petani juga tidak bisa sesukanya jadi permainan tengkulak masalah harga. Gabah beras organik tetap di atas harga pasar. Selain tentunya,  kini petani semakin sadar mengenai bahaya bahan kimia. Baik bagi tanah maupun hasil taninya. Kesejahteraannya juga meningkat," ujarnya. 

Proses kerja keras yang dibangun dari sebuah mimpi dan keprihatinan Chairul, menghasilkan buah ranumnya. 

Kini, kita menunggu apalagi yang akan dihasilkan dari keresahan seorang Chairul yang jauh dari gemerlap popularitas. Tapi bercahaya bagi para petani yang kini bersamanya. Membangun kedaulatan pangan,  tidak hanya lewat angka dan berbicara saja. Masyarakat membutuhkan contoh konkrit,  seperti yang telah dilakukan oleh Chairul bertahun-tahun lamanya. 

Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top